Ahlus Sunnah mengimani keberadaan sihir. Sihir tidak akan dapat
memberikan manfaat maupun mudharat kecuali jika Allah menghendaki.
Alloh Subhanahu Wata'ala Berfirman;
وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ ۖ وَمَا
كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ
النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ
وَمَارُوتَ ۚ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا
نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۖ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا
يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ ۚ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ
بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا
يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ ۚ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا
لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۚ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ
أَنْفُسَهُمْ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Dan mereka mengikuti apa yang dibacakan oleh setan-setan pada masa
kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan
sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya
setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan
sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di
negeri Babil, yaitu Harut dan Marut; sedangkan keduanya tidak
mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan,
"Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu). Sebab itu, janganlah kamu
kafir." Mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir
itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya.
Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya
kepada seorang pun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari
sesuatu yang memberi mudarat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi,
sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya
(kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat;
dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau
mereka mengetahui. (QS Al-Baqoroh Ayat 102)
Syaikhul Islam Abu Utsman Ismail Ashabuni berkata: “Mereka (Ashabul
Hadits) juga berkeyakinan bahwa di dunia ini memang ada sihir dan tukang
sihir, akan tetapi tukang sihir tersebut tidak dapat mencelakakan
seseorang kecuali dengan izin Allah 'Azza wa Jalla, sebagaimana firman
Allah Ta'ala:
وَمَا هُم بِضَآرِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللّهِ
"Dan mereka (tukang sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada
seorangpun, kecuali dengan izin Allah." (QS. Al-Baqarah:102)
Siapa yang menjadi penyihir atau menggunakan jasa sihir, sementara ia
berkeyakinan bahwa sihir bisa memberi manfaat atau memberi mudharat
tanpa izin Allah, maka ia telah kafir kepada Allah Ta'ala.” (Aqidatus
Salaf Ashabul Hadits oleh Syaikhul Islam Ashabuni)
Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan: “Al-Maziri berkata: Sebagian ahli
bid’ah mengingkari sihir yang menimpa Rasulullah ini. Mereka menyangka
bahwa hal ini akan menjatuhkan kedudukan nubuwwah dan akan memberi
keraguan. Mereka berkata: Siapa saja yang berkata demikian maka itu
adalah pengakuan batil.” (Fathul Bari 10/226)
Ibnu Hajar Al-Asqalani mengisahkan: “Terdapat sebuah boneka dari lilin
untuk disantet kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini
seperti terkandung dalam riwayat Umrah dari Aisyah. Ini adalah salah
satu cara kerja ahli nujum.” (Fathul Bari 10/230)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Dan sekelompok manusia telah
mengingkari hal ini (disihirnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam-red). Mereka mengatakan: “Ini tidak boleh menimpa diri Rasul,”
bahkan mereka menganggap ini sebagai suatu kekurangan dan aib. Dan
perkaranya tidak seperti yang mereka duga, akan tetapi sihir tersebut
adalah dari jenis perkara (penyakit) yang berpengaruh terhadap diri
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, hal ini termasuk dari
jenis-jenis penyakit yang menimpanya sebagaimana beliau Shallallahu
‘alaihi wasallam juga tertimpa racun, di mana tidak ada perbedaan antara
pengaruh sihir dengan racun.” (Zaadul Ma’ad 4/ 124)
Ibnul Qayyim rahimahullah juga menyebutkan dari Qadhi Iyadh
rahimahullah, bahwasanya beliau berkata: “Kejadian disihirnya Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menodai kenabian beliau. Adapun
keberadaan atau kejadian beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dikhayalkan
melakukan sesuatu padahal beliau tidak melakukannya, hal ini tidaklah
mengurangi sifat shiddiq (jujur) yang ada pada diri beliau Shallallahu
‘alaihi wasallam dikarenakan adanya dalil bahkan ijma’ (kesepakatan umat
Islam) atas kemaksuman (terpelihara dari dosa dan kesalahan) beliau
Shallallahu ‘alaihi wasallam dari hal tersebut, akan tetapi hal ini
suatu perkara duniawi yang mungkin bisa menimpanya. Yang beliau
Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak diutus karena sebab tersebut dan
tidak diberi keutamaan, karenanya pula beliau dalam hal ini seperti
manusia yang lainnya, maka tidak mustahil untuk dikhayalkan kepada
beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dari perkara-perkara yang tidak ada
hakekatnya baginya, kemudian hilang dari beliau dan kembali seperti
keadaan semula.” (Zaadul Ma’ad 4/ 124)
Qadhi Iyadh berkata: “Tampaklah sesungguhnya sihir. Dia mampu menguasai
jasad dan memperlihatkan pengaruhnya. Namun bukan pada keistimewaan dan
keyakinannya. Sihir yang menimpanya bagai penyakit yang dengan kehendak
Allah lalu disembuhkan. Ini bukanlah perkara yang mengandung nilai
kekurangan, bukan juga perkara aneh bagi Rasulullah Shollallahu alaihi
wasallam, seperti sakit wajar bagi seorang Nabi, rasa pusing Rasulullah,
kakinya robek atau tubuhnya terluka. Ini adalah ujian yang diberikan
Allah agar makin meningkatkan derajat dan menambahkan kemuliaannya.
Ujian terhebat yang pernah menimpa manusia adalah ujian bagi para Nabi.
Mereka diuji oleh umatnya dengan berbagai percobaan pembunuhan,
pemukulan, makian dan penyanderaan. Karena itu, bukanlah sesuatu yang
dibuat-buat jika Nabi diserang oleh musuhnya dengan sihir. Seperti
halnya orang yang menguji Rasul dengan melemparinya hingga tulangnya
patah. Diuji dengan penyakit yang muncul di punggung plasentanya hingga
tak berdaya, dan lainnya. Ini bukanlah kekurangan, atau aib memalukan
terhadap para Nabi. Hal ini bahkan menambah kesempurnaan dan ketinggian
derajat mereka.” (Fathul Bari 10/227 dan Tafsir Al-Muawwidzatain oleh
Ibnul Qayyim hal. 29, 30)
Al Qurthubi rahimahullahu mengatakan: “Ahlus Sunnah telah berpendapat
bahwa sihir itu telah pasti ada dan memiliki hakikat. Sedangkan penganut
Mu'tazilah secara umum dan Abu Ishaq al-Istirabadi, salah seorang
penganut madzhab Syafi'i berpendapat, bahwa sihir itu tidak memiliki
hakikat, tetapi sihir hanya merupakan tindakan pengelabuhan, pemunculan
bayangan dan penipuan terhadap sesuatu, tidak seperti yang (tampak)
sebenarnya. Sihir ini tidak ada bedanya dengan hipnotis dan sulap.
Sebagaimana yang difirmankan Allah Ta'ala: "Terbayang oleh Musa
seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka". (QS. Thaha : 66)
Dan Allah tidak mengunakan kata tas'aauntuk pengertian yang sebenarnya,
tetapi Dia mengatakan: Terbayangkan oleh Musa. Selain itu, Dia juga
berfirman: "Mereka menyihir mata umat manusia". (QS. Al-A'raf : 116)
Yang demikian itu tidak mengandung hujjah sama sekali, karena tidak
memungkiri pengelabuan dan juga selainnya,yang merupakan bagian dari
sihir. Tetapi, telah ditetapkan di balik itu berbagai hal yang diterima
oleh akal dan pendengaran. Diantara hal itu adalah apa yang disebutkan
dalam ayat diatas yang menyebutkan sihir dan mempelajarinya. Seandainya
sihir itu tidak memiliki hakikat, maka tidak mungkin untuk dipelajari
dan juga Allah Ta'ala tidak akan memberitahukan bahwa mereka mengajarkan
sihir itu kepada umat manusia. Yang mana hal itu menunjukan bahwa sihir
itu memang mempunyai hakikat. Begitupun firman Allah Ta'ala yang
menceritakan tentang kisah para tukang sihir Fir'aun:“Mereka
mendatangkan sihir yang besar.”(Al- A'raf : 116) dan Surat Al-Falaq, di
mana para ahli tafsir telah bersepakat bahwa sebab turunnya ayat ini
adalah berkenaan dengan sihir Labid bin al-A'sham, hal tersebut juga
diriwayatkan oleh Imam al-Bukhori dan Imam Muslim serta perawi lainnya,
dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu
'alaihi wasallam pernah disihir oleh seorang Yahudi dari suku Bani
Zuraiq, yang bernama Labid Al A'sham.” Di dalam hadits tersebut
disebutkan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam pada saat mengobati
sihir berkata:“Sesungguhnya Allah telah menyembuhkanku.” Kata Asy-syifa
adalah terjadi dengan menghilangkan sebab dan menghilangkan penyakit,
sehingga hal itu menunjukan bahwa sihir itu memang ada dan hakiki.
Keberadaan dan kejadian sihir itu dipastikan ada melalui pemberitahuan
Allah Ta'ala dan Rasul-Nya. Ulama telah mengeluarkan Ijma' (kesepakatan)
mengenai hal tersebut. Dengan adanya kesepakatan mereka ini, maka tidak
perlu dipedulikan lagi kebodohan kaum Mu'tazilah dan penentangan mereka
terhadap pemegang kebenaran. Pada zaman-zaman dulu, sihir ini telah
tersebar luas dan banyak di perbincangkan oleh umat manusia, dan tidak
tampak adanya penolakan (tentang adanya sihir) dari para Sahabat dan
Tabi'in.” (Tafsir al-Qurtubi II / 46)
Para ahli bid’ah mengingkari hadits-hadits tentang tersihirnya Nabi. Mereka berdalil dengan ayat berikut:
“Kamu tidak lain hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir.” (QS. Al-Isra’: 47)
Mereka beranggapan bahwa Allah telah membantah prasangka orang kafir
bahwa Nabi terkena sihir. Seandainya Nabi dapat disihir, secara tidak
langsung hal itu membenarkan perkataan orang kafir sebagaimana
diterangkan dalam Firman Allah: “Kamu tidak lain hanyalah mengikuti
seorang laki-laki yang kena sihir.” Selain itu, peristiwa penyihiran
yang menimpa Nabi akan mengguncang makna kenabiannya dan menimbulkan
keraguan. Ketika mengusung pendapat bahwa Nabi berimajinasi melihat
Jibril, tapi bukan Jibril atau dia merasa diwahyukan sesuatu tapi tidak
ada wahyu itu. Tidak pantas Nabi Muhammad terkena sihir.
Para ahli bid’ah mengingkari hadits-hadits berikut ini.
MATAN HADITS
Riwayat Imam Muslim
حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ، عَنْ هِشَامٍ،
عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: سَحَرَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَهُودِيٌّ مِنْ يَهُودِ بَنِي زُرَيْقٍ، يُقَالُ
لَهُ: لَبِيدُ بْنُ الْأَعْصَمِ: قَالَتْ حَتَّى كَانَ رَسُولُ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَفْعَلُ
الشَّيْءَ، وَمَا يَفْعَلُهُ، حَتَّى إِذَا كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ، أَوْ ذَاتَ
لَيْلَةٍ، دَعَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ
دَعَا، ثُمَّ دَعَا، ثُمَّ قَالَ: " يَا عَائِشَةُ أَشَعَرْتِ أَنَّ اللهَ
أَفْتَانِي فِيمَا اسْتَفْتَيْتُهُ فِيهِ؟ جَاءَنِي رَجُلَانِ فَقَعَدَ
أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِي وَالْآخَرُ عِنْدَ رِجْلَيَّ، فَقَالَ الَّذِي
عِنْدَ رَأْسِي لِلَّذِي عِنْدَ رِجْلَيَّ، أَوِ الَّذِي عِنْدَ رِجْلَيَّ
لِلَّذِي عِنْدَ رَأْسِي: مَا وَجَعُ الرَّجُلِ؟ قَالَ: مَطْبُوبٌ، قَالَ:
مَنْ طَبَّهُ؟ قَالَ: لَبِيدُ بْنُ الْأَعْصَمِ، قَالَ: فِي أَيِّ شَيْءٍ؟
قَالَ: فِي مُشْطٍ وَمُشَاطَةٍ، قَالَ: وَجُفِّ طَلْعَةِ ذَكَرٍ، قَالَ:
فَأَيْنَ هُوَ؟ قَالَ: فِي بِئْرِ ذِي أَرْوَانَ " قَالَتْ: فَأَتَاهَا
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أُنَاسٍ مِنْ
أَصْحَابِهِ، ثُمَّ قَالَ: «يَا عَائِشَةُ وَاللهِ لَكَأَنَّ مَاءَهَا
نُقَاعَةُ الْحِنَّاءِ، وَلَكَأَنَّ نَخْلَهَا رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ»
قَالَتْ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَفَلَا أَحْرَقْتَهُ؟ قَالَ: «لَا
أَمَّا أَنَا فَقَدْ عَافَانِي اللهُ، وَكَرِهْتُ أَنْ أُثِيرَ عَلَى
النَّاسِ شَرًّا، فَأَمَرْتُ بِهَا فَدُفِنَتْ» رواه مسلم
Riwayat Imam Bukhari
قال البخاري رحمه الله في "الصحيح" برقم (5763): حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ
بْنُ مُوسَى، أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ
أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: سَحَرَ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي زُرَيْقٍ،
يُقَالُ لَهُ لَبِيدُ بْنُ الأَعْصَمِ، حَتَّى كَانَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ كَانَ
يَفْعَلُ الشَّيْءَ وَمَا فَعَلَهُ، حَتَّى إِذَا كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ أَوْ
ذَاتَ لَيْلَةٍ وَهُوَ عِنْدِي، لَكِنَّهُ دَعَا وَدَعَا، ثُمَّ قَالَ:
"يَا عَائِشَةُ، أَشَعَرْتِ أَنَّ اللَّهَ أَفْتَانِي فِيمَا
اسْتَفْتَيْتُهُ فِيهِ، أَتَانِي رَجُلاَنِ، فَقَعَدَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ
رَأْسِي، وَالآخَرُ عِنْدَ رِجْلَيَّ، فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ:
مَا وَجَعُ الرَّجُلِ؟ فَقَالَ: مَطْبُوبٌ، قَالَ: مَنْ طَبَّهُ؟ قَالَ:
لَبِيدُ بْنُ الأَعْصَمِ، قَالَ: فِي أَيِّ شَيْءٍ؟ قَالَ: فِي مُشْطٍ
وَمُشَاطَةٍ، وَجُفِّ طَلْعِ نَخْلَةٍ ذَكَرٍ. قَالَ: وَأَيْنَ هُوَ؟
قَالَ: فِي بِئْرِ ذَرْوَانَ " فَأَتَاهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي نَاسٍ مِنْ أَصْحَابِهِ، فَجَاءَ فَقَالَ: «يَا
عَائِشَةُ، كَأَنَّ مَاءَهَا نُقَاعَةُ الحِنَّاءِ، أَوْ كَأَنَّ رُءُوسَ
نَخْلِهَا رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ» قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ: أَفَلاَ
اسْتَخْرَجْتَهُ؟ قَالَ: «قَدْ عَافَانِي اللَّهُ، فَكَرِهْتُ أَنْ
أُثَوِّرَ عَلَى النَّاسِ فِيهِ شَرًّا» فَأَمَرَ بِهَا فَدُفِنَتْ
تَابَعَهُ أَبُو أُسَامَةَ، وَأَبُو ضَمْرَةَ، وَابْنُ أَبِي الزِّنَادِ،
عَنْ هِشَامٍ، وَقَالَ: اللَّيْثُ، وَابْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ هِشَامٍ: «فِي
مُشْطٍ وَمُشَاقَةٍ» يُقَالُ: المُشَاطَةُ: مَا يَخْرُجُ مِنَ الشَّعَرِ
إِذَا مُشِطَ، وَالمُشَاقَةُ: مِنْ مُشَاقَةِ الكَتَّانِ.
وأخرجه مسلم برقم (2189)، وقال: حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ، عَنْ هِشَامٍ، به.
Al-Bukhoriy Rohimahulloh berkata di dalam "Ash-Shohih" dengan (no. 5763):
"Telah menceritakan kepada kami Ibrohim bin Musa, beliau berkata: Telah
menceritakan kepada kami 'Isa bin Yunus, dari Hisyam, dari bapaknya
(Urwah Ibnuz Zubair) dari Aisyah Rodhiyallahu 'anha, dia berkata: Telah
disihir Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) oleh seorang lelaki
dari Bani Zuroiq, dikatakan bahwa namanya adalah Labib Ibnul A'shom,
sampai Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) mengangan-angankan
untuk melakukan sesuatu namun beliau tidak melakukannya, sampai-sampai
beliau pada suatu hari atau pada suatu malam dan beliau di sisiku, akan
tetapi beliau berdoa dan berdoa, kemudian beliau berkata: "Wahai
'Aisyah, apakah kamu merasakan bahwasanya Alloh telah mengabulkan doaku
ketika aku berdoa kepada-Nya, telah datang kepadaku dua orang lelaki,
lalu salah satu dari keduanya duduk di sisi kepalaku, dan yang lain di
sisi kakiku, lalu berkata salah seorang dari keduanya kepada kawannya:
Apa yang membaringkan orang ini?
Yang satunya menjawab: "Disihir".
Yang satunya lagi bertanya: "Siapa yang menyihirnya?".
Yang satunya menjawab: "Labib Ibnul A'shom".
Yang satunya bertanya lagi: "Pada sesuatu apa (dia disihir)?".
Yang satunya menjawab: "Pada sisir dan apa yang menyertainya dan pada sisik dari pelepak korma".
Yang satunya bertanya: "Dimana dia?".
Yang satu lagi menjawab: "Di sumur Dzarwan".
Maka Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) bersama beberapa
shohabatnya mendatanginya, lalu beliau berkata: "Seakan-akan airnya
seperti air bekas yang berwarna kekuning-kuningan, atau seakan-anak
punuk-punuk pelepak kormanya seperti kepala-kepalanya syaithon". Aku
bertanya: "Apakah engkau mengeluarkannya?", beliau menjawab: "Sungguh
Alloh telah menyembuhkanku, dan aku benci akan mempengaruhi manusia pada
kejelekannya". Maka beliau memerintahkan dengannya lalu ditimbunlah.
Hadits ini memiliki jalur periwayatan dari Abu Usamah, Abu Damroh dan
Ibnu Abiz Zinad dari Hisyam. Al-Laits dan Ibnu 'Uyainah berkata: Dari
Hisyam:"Dari sisir dan musyaqoh".
Al-Musyaqoh adalah apa yang keluar dari rambut jika disisir, dan Al-Musyaqoh termasuk dari apa yang keluar dari rambut.
Dan hadits ini diriwayatkan pula oleh Muslim dengan (no. 2189), beliau
berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Kuroib, beliau berkata:
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair, dari Hisyam, yang semisal
(dengan periwayatan Al-Bukhoriy).
Faedah yang bisa dipetik dari hadits ini diantaranya:
Pertama:
Asy-Syaikhoni (Al-Bukhoriy dan Muslim) meriwayatkan hadits ini di dalam
"Ash-Shohihain", yang para Ahli ilmu telah bersepakat bahwa keduanya
adalah kitab yang paling shohih setelah Kitabulloh, sampai mereka
berkata:
"اتفق عليه العلماء من أن أصح كتاب بعد كتاب الله "صحيحا البخارى ومسلم".
"Telah bersepakat tentangnya para ulama, bahwasanya paling shohihnya
kitab setelah Kitabulloh adalah shohih Al-Bukhoriy dan Muslim".
Maka dengan kejelasan seperti itu bila kemudian ada yang menolak satu
hadits semisal ini maka dia dipertanyakan tentang jati diri dan
keislamannya, dan kami tidak menganggapnya sama sekali kalau dia sebagai
seorang Ahlissunnah bahkan dia adalah mubtadi' dhol, siapa pun dia,
baik itu Ahmad Surkati (sang pendiri firqoh Ali Irsyad) atau
masyayikhnya atau yang semisal mereka, mereka menolak hadits semisal ini
dengan berbagai macam alasan, ada yang mengatakan karena hadits
ahad-lah atau khobar ahad-lah, bagi siapa yang menolaknya maka
dipertanyakan keislaman dan aqidahnya, dan para ulama telah berkata:
"من أنكر خبر الواحد فقد رد الشريعة كلها".
"Barang siapa yang menolak khobar ahad maka sungguh dia telah menolak syari'at seluruhnya".
Kedua:
Adapun perkataannya: "Telah disihir Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ) oleh seorang lelaki dari Bani Zuroiq" maka ini adalah
penetapan bahwa Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) telah
disihir.
Dan ini adalah bantahan terhadap orang-orang congkak, sombong dan sok
bertaqwa ketika melihat atau mendengar bahwa ada dari Ahlissunnah
terkena sihir, mereka pun berkata: "Itu karena mereka lemah tauhidnya
dan lemah imannya jadi sihir mengenainya", dengan ucapan mereka seperti
ini mereka tidak menyadari kalau mereka telah menghina Rosululloh
(صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) yang pernah terkena sihir, bagaimana
mereka merasa diri paling bertauhid dan paling kuat keimanannya
sedangkan mereka memperoleh ilmu tauhid dari Rosululloh (صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ), bagaimana mereka mentazkiyyah diri mereka dengan
kecongkakan dan kesombongan itu sementara Alloh (تعالى) telah menjaga
Nabi-Nya:
{وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ} [المائدة: 67]
"Alloh menjagamu dari (gangguan) manusia, sesungguhnya Alloh tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir". (Al-Maidah: 67).
Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ)seperti itu lalu bagaimana
dengan umatnya?, itulah ketentuan Alloh(تعالى), bahwasanya Dia akan
selalu menguji hamba-hamba-Nya yang beriman, baik mereka adalah para
Nabi atau pun umat-umatnya, Alloh (تعالى) berfirman:
{وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا} [الفرقان: 20]
"Dan Kami telah jadikan sebagian kalian cobaan bagi sebagian yang lain,
apakah kalian bersabar?; dan Robbmu adalah Al-Bashir (Maha Melihat)".
(Al-Furqan: 20).
Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) tidak hanya diuji dengan
disihir namun beliau diuji dengan berbagai macam ujian dan cobaan, baik
ujian itu datangnya dari syaithon yang berbentuk manusia atau syaithon
yang berbentuk jin, Alloh (تعالى) berfirman:
{ وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ
وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا
وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ}
[الأنعام: 112]
"Dan Demikianlah Kami telah jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu
syaithon-syaithon (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebagian
mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang
indah-indah untuk menipu (manusia), Jikalau Robbmu menghendaki, niscaya
mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang
mereka ada-adakan". (Al-An'am: 112).
Maka kami katakan kepada saudara-saudariku Ahlisunnah: "Janganlah kalian
bersedih hati jika kalian mendapatkan ujian, sebagaimana kami katakan
kepada diri kami sendiri untuk senantiasa berharap dengan sebab ujian
itu kita akan diampuni dari dosa-dosa kita dan semoga kita dimasukan ke
dalam Jannahnya Alloh (تعالى) yang kekal abadi, biarlah orang-orang
jahat dan para pedengki mengatakan bahwa kita sedang ditimpakan bala',
kita katakan: "Iya, kami sedang ditimpakan bala' akan tetapi bala' yang
baik, Robb kami telah menghibur kami:
{وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلَاءً حَسَنًا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ} [الأنفال: 17]
"Dan ditimpakan bala' bagi orang-orang yang beriman, dengan bala' yang
baik. Sesungguhnya Alloh adalah As-Sami' (Maha Mendengar) lagi Al-'Alim
(Maha Mengetahui)". (Al-Anfal: 17).
Dan Nabi kami Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) telah
menghibur kami dengan hiburan yang sangat menyenangkan, Al-Bukhoriy
telah membuat bab khusus tentang masalah ini di dalam "Ash-Shohih",
beliau berkata:
"بَابٌ: أَشَدُّ النَّاسِ بَلاَءً الأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ"
"Bab: Paling besarnya bala' pada manusia adalah para Nabi, kemudian semisalnya kemudian semisalnya".
Dan Ahlussunan kecuali Abu Dawud telah meriwayatkan dari hadits Sa'd bin Abi Waqqosh, beliau berkata:
"يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟".
"Wahai Rosululloh, siapakah manusia yang paling besar bala'nya?". Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) menjawab:
«الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الْعَبْدُ
عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صُلْبًا، اشْتَدَّ
بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ، ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ
دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ، حَتَّى يَتْرُكَهُ
يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ، وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ»".
"Para Nabi, kemudian semisalnya dan yang semisalnya, ditimpakan bala'
kepada seorang hamba disesuaikan dengan keadaan agamanya, jika pada
agamanya itu ada kekokohan maka dibesarkan bala'nya, dan jika pada
agamanya ada kelemahan (kerendahan) maka ditimpakan bala' sesuai kadar
agamanya, dan senantiasa seorang hamba akan ditimpakan bala' sampai dia
dibiarkan berjalan di muka bumi dan dia tidak ada padanya dosa"".
Mereka para penjahat dan para pendengki itu merasa bangga karena tidak
sakit, tidak menderita dan tidak kekurangan, maka kami katakan kepada
mereka: "Begitulah keadaan Fir'aun!, tidak ada keterangan atau riwayat
yang menjelaskan bahwa dia duji dengan sakit, begitu pula para tukang
sihir".
Ketiga:
Adapun perkataannya: "sampai Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ) mengangan-angankan untuk melakukan sesuatu namun beliau tidak
melakukannya" maka ini sebagai dalil bahwasanya sihir dengan izin Alloh
(تعالى) mampu memberikan pengaruh kepada manusia baik jasmani maupun
rohaninya, Alloh (تعالى) berkata tentang kisah tukang sihirnya Fir'aun:
{فَلَمَّا أَلْقَوْا سَحَرُوا أَعْيُنَ النَّاسِ وَاسْتَرْهَبُوهُمْ وَجَاءُوا بِسِحْرٍ عَظِيمٍ}[الأعراف: 116]
"Maka tatkala mereka melepaskan sihir-sihir mereka, dengan menyihir
mata-mata manusia maka manusia merasa takut kepada mereka dan mereka
mendatangkan dengan sihir yang besar". (Al-A'rof: 116).
Adapun pengaruhnya kepada jasmani dan rohani maka dia seperti yang
dirasakan oleh Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) dan
orang-orang yang pernah disihir, yaitu mereka merasakan pada diri-diri
mereka rasa sakit yang berat dan daya nalar atau pikiran kacau sampai
menginginkan untuk melakukan sesuatu kemudian terlupakan atau tidak
teringat dengan rencana tersebut.
Keempat:
Adapun perkataannya: (أَفْتَانِي فِيمَا اسْتَفْتَيْتُهُ فِيهِ)
"bahwasanya Alloh telah mengabulkan doaku ketika aku berdoa kepadanya"
maka Ibnu Hajar Rohimahulloh telah berkata di dalam "Fathul Bariy"
(10/228) tentang ma'na dari perkataan ini:
"فِي رِوَايَةِ الْحُمَيْدِيِّ أَفْتَانِي فِي أَمْرٍ اسْتَفْتَيْتُهُ
فِيهِ أَيْ أَجَابَنِي فِيمَا دَعَوْتُهُ فَأَطْلَقَ عَلَى الدُّعَاءِ
اسْتِفْتَاءً لِأَنَّ الدَّاعِيَ طَالِبٌ وَالْمُجِيبَ مُفْتٍ أَوِ
الْمَعْنَى أَجَابَنِي بِمَا سَأَلْتُهُ عَنْهُ لِأَنَّ دُعَاءَهُ كَانَ
أَنْ يُطْلِعَهُ اللَّهُ عَلَى حَقِيقَةِ مَا هُوَ فِيهِ لِمَا اشْتَبَهَ
عَلَيْهِ مِنَ الْأَمْرِ".
"Di dalam riwayat Al-Humaidiy aftaaniy fii amrinis taftaituhu fiih yaitu
Dia mengabulkanku terhadap apa yang aku berdoa kepada-Nya, fatwa
diitlakan pada doa karena orang yang berdoa adalah menuntut (meminta),
dan yang mengabulkan adalah orang yang berfatwa atau ma'na telah
mengabulkanku terhadap apa yang aku telah meminta-Nya tentangnya, karena
sesungguhnya doanya supaya Alloh menampakannya atas keadaan yang
sebenarnya dari apa yang dia berada pada kesamaran dari suatu perkara".
Apa yang telah dikatakan oleh Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ) itu termasuk dari bentuk pengajaran, maka hendaknya seorang
bapak mengikuti metode tersebut, baik dia mengajari istrinya,
putra-putrinya, atau seorang ustadz yang mengajari para muridnya.
Pada perkataan Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) tersebut
mengandung banyak pelajaran, diantaranya tentang tauhid, Rosululloh
(صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) ketika sudah merasakan derita maka
beliau langsung berdoa kepada Alloh (تعالى), dengan sebab doa tersebut
tersingkaplah apa yang disembunyikan oleh tukang sihir.
Dan hendaknya bagi setiap hamba Alloh untuk mengikuti metode Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) ini:
{وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ} [غافر: 60]
"Dan Robb kalian telah berkata: "Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagi kalian". (Ghofir: 60).
Dan bagi siapa yang enggan dan tidak mau untuk berdoa kepada-Nya maka
Dia telah mengancamnya dengan ancaman neraka, sebagaimana perkataan-Nya
pada kelanjutan ayat tersebut:
{إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ} [غافر: 60]
Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah
kepada-Ku maka mereka akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina
dina". (Ghofir: 60).
Kelima:
Adapun perkataannya:"Pada sesuatu apa (dia disihir)?" maka ini
menunjukkan bahwa sihir memiliki banyak bentuk, terkadang tukang
sihirnya langsung melepaskan sihir-sihir mereka dari tangan-tangan
mereka, sebagaimana Alloh (تعالى) kisahkan tentang tukang sihirnya
Fir'aun:
{قَالُوا يَا مُوسَى إِمَّا أَنْ تُلْقِيَ وَإِمَّا أَنْ نَكُونَ أَوَّلَ
مَنْ أَلْقَى (65) قَالَ بَلْ أَلْقُوا فَإِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ
يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَى (66)} [طه: 65، 66]
"(Setelah mereka berkumpul) mereka berkata: "Wahai Musa (pilihlah),
apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kami yang memulai
melemparkan?", Musa berkata: "Bahkan kalianlah melemparkan". Maka
tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka (berlepasan), terbayang
kepada Musa seakan-akan dia merayap cepat, lantaran sihir mereka".
(Thohaa: 65-66).
Pada sihir mereka ini berbentuk sesuatu seperti tali dan tongkat, dan
terkadang mereka (para tukang sihir) ketika melepaskan sihir dari
tangan-tangan mereka maka ada pula yang berbentuk api, cairan panas atau
berbentuk kawat-kawat, atau sejenis binatang dan hewan atau yang
semisalnya.
Ini satu bentuk, dan ada pula bentuk yang lain, yaitu mereka mengirimkan
dengan bentuk para jin, yang para jin tersebut kemudian mengganggu dan
menyakiti orang yang akan mereka sihir.
Ini satu bentuk pula, dan ada pula bentuk yang lain, yaitu proses
pengiriman dari jarak jauh, bila orang yang akan mereka sihir adalah
dari kalangan Ahlut tauhid maka mereka mengirimkan sejenis sihir
tersebut, seakan-akan mereka sedang melakukan bluetooth. Pada jenis ini
terkadang nyasar (salah sasaran), terkadang mengenai pintu rumah orang
yang akan disihir, atau terkadang mengenai benda yang ada di samping
orang yang akan disihir, dan metode ini mereka sering gagal, karena
gagal terus mereka pun menggunakan penopang atau cara seperti yang
dilakukan oleh Labib Ibnul A'shom ini, yaitu mereka mengambil rambut
atau sisir orang yang akan mereka sihir, atau mereka mengambil foto,
pakaian, bekas-bekas atau yang semisalnya, atau mereka juga membuat
patung atau yang sejenis boneka yang mereka jadikan boneka tersebut
seakan-akan itulah diri orang yang akan mereka sihir, kemudian mereka
tusuk patung atau boneka tersebut dengan paku, jarum atau benda tajam
lainnya, dan praktek sihir seperti ini terdapat di berbagai tempat di
Bumi Nusantara ini;
"أَسْأَلُ اللهَ أَنْ يَقْتُلَ سَوَاحِرَ"
"Aku memohon kepada Alloh untuk membunuh para tukang sihir".
"وَأَسْأَلُهُ أَنْ يُعَذّبَهُمْ بِسِحْرِهِمْ"
"Dan aku memohon kepada-Nya untuk mengazab mereka dengan sihir-sihir mereka".
Keenam:
Adapun perkataannya: "Di sumur Dzarwan" maka ini menunjukan bahwa tukang
sihir terkadang menyimpan bahan sihir di sumur, di gua, di kamar khusus
atau di tanjung, atau di antara dua batu atau di tempat-tempat yang
mereka anggap layak sebagai tempat penyimpanan.
Ketujuh:
Adapun perkataannya: "dan aku benci akan mempengaruhi manusia pada
kejelekannya" maka ini menunjukan bahwa beliau (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ) sangat kasih sayang terhadap umatnya, Alloh (تعالى) sebutkan
tentang sifatnya yang mulia:
{لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا
عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ} [التوبة:
128]
"Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rosul dari kaum kalian
sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan
(keselamatan) bagi kalian, sangat belas kasihan lagi penyayang terhadap
orang-orang yang bermu'min". (At-Taubah: 128).
Adapun para tukang sihir dan para penjahat maka mereka tidak memiliki
rasa belas kasihan, mereka melakukan PBB (perlombaan biadab-biadab), di
sisi lain para tukang sihir melakukan sihirnya, para penjahat
menjalankan makarnya di sisi lain.
Sangat teringat di benak kami dan bagi yang menyaksikan atau
mendengarkan, ketika kami sedang tegang-tegangnya dalam melawan serangan
sihir, tiba-tiba segerombolan pengacau berupaya pula untuk
memudhorotkan kami, salah satu kawan mereka (sebagai juru bicara)
dihubungi dengan tujuan supaya kami diangkat ke orang yang berpengaruh,
dengan maksud supaya kami diusir, berbagai macam cara mereka jalani,
tukang sihir menyerang kami lewat dalam tubuh dan ada dari mereka (para
pengacau) mendorong kami dari luar tubuh -وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ-,
namun –dengan izin Alloh- mereka tidak akan mampu memudhorotkan kami:
{ لَنْ يَضُرُّوكُمْ إِلَّا أَذًى} [آل عمران: 111]
"Tidaklah mereka memudhorotkan kalian melainkan hanya gangguan saja". (Ali Imron: 111).
{وَمَكْرُ أُولَئِكَ هُوَ يَبُورُ} [فاطر: 10]
"Dan rencana jahat mereka akan hancur". (Fathir: 10).
Walaupun para tukang sihir dan para pengacau, baik yang dari jin maupun
yang dari manusia bersatu padu atau berserikat untuk memudhorotkan kami
maka sungguh mereka tidak akan sanggup kecuali apa yang telah Robb kami
tetapkan, Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) Bersabda:
"وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ
إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلَامُ
وَجَفَّتْ الصُّحُفُ»".
"Dan kalau pun mereka bersatu untuk memberikan kemadhorotan kepadamu
maka mereka tidak akan mampu memudhorotkanmu melainkan dengan sesuatu
yang telah Alloh tuliskan untukmu, telah terangkat pena dan telah
tertulis lembaran-lebaran".Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy dengan sanad
hasan dari hadits Abdulloh bin 'Abbas.
Mengatasi Serangan Sihir
Dalam mengatasi serangan sihir adakalanya dengan menggunakan
dzikir-dzikir dan doa-doa yang telah diajarkan oleh Rosululloh (صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ), dan tentang masalah ini telah kami sebutkan
dalam jawaban kami tersendiri ketika ada pertanyaan yang bekaitan dengan
ini.
Dan terkadang pula mengatasinya dengan cara menggabungkan tata cara
tersebut dengan praktek pengobatan Islamiy seperti bekam dan yang
semisalnya, dan Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah Rohimahulloh menyebutkan bahwa
serangan sihir diatasi dengan hijamah (berbekam) itu memiliki kesesuaian
atau kecocokan dalam penanganan.
Dan Alhamdulillah sekarang kita dapati banyak yang memiliki keahlian
dalam masalah ini, ada yang meruqyah orang yang terkena sihir kemudian
penanganan terakhirnya dengan cara berbekam, dan ada pula melakukannya
dengan cara bersamaan, masing-masing memiliki segi pandang yang
berbeda-beda.
Dan ada pula yang mencoba semua tata cara tersebut namun tidak
didapatkan hasil atau perubahan kepada diri orang yang terkena sihir,
bila keadaannya seperti ini maka hendaknya orang yang disihir tersebut
benar-benar bertawakkal dan bersabar, dan yakin bahwa balasan baginya
adalah Jannah(surga),
Asy-Syaikhon meriwayatkan di dalam "Ash-Shohihain" dari hadits dari
'Atho' bin Abi Robah, beliau berkata:Ibnu Abbas berkata kepadaku:
"أَلاَ أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ؟ قُلْتُ: بَلَى، قَالَ:
هَذِهِ المَرْأَةُ السَّوْدَاءُ، أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: إِنِّي أُصْرَعُ، وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ
اللَّهَ لِي، قَالَ: «إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الجَنَّةُ، وَإِنْ
شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ» فَقَالَتْ: أَصْبِرُ،
فَقَالَتْ: إِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللَّهَ لِي أَنْ لاَ أَتَكَشَّفَ،
فَدَعَا لَهَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ، أَخْبَرَنَا مَخْلَدٌ، عَنِ ابْنِ
جُرَيْجٍ، أَخْبَرَنِي عَطَاءٌ: «أَنَّهُ رَأَى أُمَّ زُفَرَ تِلْكَ
امْرَأَةً طَوِيلَةً سَوْدَاءَ، عَلَى سِتْرِ الكَعْبَةِ»
"Maukah aku kabarkan kepadamu tentang wanita dari penduduk Jannah?", aku
berkata: "Tentu", ini adalah wanita yang berkulit hitam, datang kepada
Nabi (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ), lalu dia berkata: "Sesungguhnya
saya pingsan-pingsan (karena sebab gangguan), dan sesungguhnya saya
terbuka auratku (ketika tertimpa musibah tersebut), maka berdoalah
kepada Alloh untuk (menyembuhkan)ku!, beliau (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ) berkata: "Jika kamu ingin untuk bersabar maka bagimu Jannah,
dan jika kamu ingin supaya aku berdoa kepada Alloh untuk
menyembuhkanmu", maka dia (wanita tadi) berkata: "Aku akan bersabar".
Kemudian dia berkata: "Sesungguhnya saya terbuka auratku (ketika
tertimpa musibah tersebut) maka berdoalah kepada Alloh untukku supaya
tidak tersingkap, maka beliau mendoakan untuknya".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar