Alloh penguasa alam raya. Dengan kuasa-Nya, Allah dapat berbuat apa saja
tanpa ada seorang pun yang mampu menghalanginya. Kita dan semua yang
kita saksikan dalam kehidupan ini pun milik-Nya. Dengan hikmah-Nya yang
maha tinggi, Allah berkenan memberi apa saja kepada kita, Allah pun
mampu mengambilnya dari kita. Allah berkehendak mengaruniakan kebaikan
yang kita inginkan, Allah pun berhak menurunkan musibah yang tidak kita
harapkan.
Musibah, bencana dan malapetaka ada dalam kuasa-Nya pula. Kehidupan
manusia di dunia ini hampir tak pernah sepi dari musibah yang datang
silih berganti. Dari yang kecil sampai yang besar. Dari yang ringan
sampai yang berat. Dari yang sedikit hingga yang banyak. Ada musibah
yang bersifat umum dan ada yang bersifat individu. Ada musibah yang
tidak melibatkan manusia dan ada yang musibah yang melibatkan manusia
zalim.
Allah Mahabijaksana. Musibah adalah sunnah-Nya. Segala yang diperbuat-Nya selalu mengandung hikmah yang agung.
Ketika musibah dan bencana menghampiri kita, kadang yang dijadikan
kambing hitam adalah alam, artinya alam itu murka. Ketika sakit datang,
yang disalahkan pula konsumsi makanan, kurang olaharga dan seterusnya.
Ketika kita terzholimi oleh atasan atau majikan karena belum telat gaji
bulanan, kadang yang jadi biang kesalahan adalah majikan atau bos yang
dijuluki pelit atau bakhil. Walau memang sebab-sebab tadi bisa jadi
benar sebagai penyebab, namun jarang ada yang merenungkan bahwa karena
dosa atau maksiat yang kita perbuat, akhirnya Allah mendatangkan
musibah, menurunkan penyakit atau ada yang menzholimi kita.
Coba kita renungkan ayat yang akan dibahas berikut ini.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh
perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari
kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syura: 30).
Firman Allah Swt.:
{وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ}
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.(Asy-Syura: 30)
Yakni betapapun kamu, hai manusia, tertimpa musibah, sesungguhnya itu
hanyalah karena ulah keburukan kalian sendiri yang terdahulu.
{وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ}
Dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (Asy-Syura: 30)
Maksudnya, keburukan-keburukanmu. Maka Dia tidak membalaskannya terhadap
kalian, bahkan Dia memaafkannya. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat
lain melalui firman-Nya:
{وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ}
Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya
Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang
melata pun. (Fathir: 45)
Di dalam sebuah hadis sahih disebutkan seperti berikut:
"وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا
وَصَب وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزَن، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا مِنْ
خَطَايَاهُ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا"
Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, tiada sesuatu pun
yang menimpa seorang mukmin berupa kelelahan, kepayahan, kesusahan, dan
tidak (pula) kesedihan melainkan Allah menghapuskan darinya berkat
musibahnya itu sebagian dari kesalahan-kesalahan (dosa-dosa)nya,
sehingga yang berupa duri yang menusuk (kaki)nya.
قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا
ابْنُ عُليَّة، حَدَّثَنَا أَيُّوبُ قَالَ: قَرَأْتُ فِي كِتَابِ أَبِي
قِلابَةَ قَالَ: نَزَلَتْ: {فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا
يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ}
[الزَّلْزَلَةِ:7، 8] وَأَبُو بَكْرٍ يَأْكُلُ، فَأَمْسَكَ وَقَالَ: يَا
رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي لَرَاءٍ مَا عَمِلْتُ مِنْ خَيْرٍ وَشَرٍّ؟
فَقَالَ: "أَرَأَيْتَ مَا رَأَيْتَ مِمَّا تَكْرَهُ، فَهُوَ مِنْ
مَثَاقِيلِ ذَرّ الشَّرِّ، وَتُدَّخَرُ مَثَاقِيلُ الْخَيْرِ حَتَّى
تُعْطَاهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ" قَالَ: قَالَ أَبُو إِدْرِيسَ: فَإِنِّي
أَرَى مِصْدَاقَهَا فِي كِتَابِ اللَّهِ: {وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ
مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ}
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ya'qub ibnu
Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ibnu Aliyyah, telah menceritakan
kepada kami Ayyub yang mengatakan bahwa ia membaca di dalam kitab Abu
Qilabah yang menyebutkan bahwa ayat berikut, yaitu firman Allah Swt.:
Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia
akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan
seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.
(Az-Zalzalah: 7-8) Diturunkan saat Abu Bakar r.a. sedang makan, lalu ia
menghentikan makannya dan bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku
selalu mengetahui apa yang aku kerjakan berupa kebaikan atau keburukan."
Rasulullah Saw. menjawab: Tidakkah engkau melihat apa yang engkau lihat
berupa perkara yang tidak kamu sukai(menimpa dirimu) itu merupakan
beban dari sezarrah keburukan, kemudian dimasukkan ke dalam timbangan
kebaikan, hingga engkau mendapatkannya di hari kiamat nanti. Lalu
disebutkan Abu Idris pernah mengatakan, bahwa ia melihat hal yang
semakna yang menguatkannya di dalam Kitabullah, yaitu melalui
firman-Nya: Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka disebabkan oleh
perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari
kesalahan-kesalahanmu). (Asy-Syura: 30)
Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkannya pula melalui jalur lain, dari Abu
Qilabah, dari sahabat Anas r.a. Ia mengatakan bahwa hadis yang pertama
adalah yang paling sahih.
قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ
عِيسَى بْنِ الطَّبَّاعِ، حَدَّثَنَا مَرْوَانُ بْنُ مُعَاوِيَةَ
الفَزَاري، حَدَّثَنَا الْأَزْهَرُ بْنُ رَاشِدٍ الْكَاهِلِيُّ، عَنِ
الخَضْر بْنِ القَوَّاس الْبَجْلِيِّ، عَنْ أَبِي سُخَيْلَةَ عَنْ عَلِيٍّ،
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلِ آيَةٍ فِي
كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَحَدَّثَنَا بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: {وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ
فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ} . وَسَأُفَسِّرُهَا
لَكَ يَا عَلِيُّ: "مَا أَصَابَكُمْ مِنْ مَرَضٍ أَوْ عُقُوبَةٍ أَوْ
بَلَاءٍ فِي الدُّنْيَا، فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَاللَّهُ تَعَالَى
أَحْلَمُ مِنْ أَنْ يُثَنِّى عَلَيْهِ الْعُقُوبَةَ فِي الْآخِرَةِ، وَمَا
عَفَا اللَّهُ عَنْهُ فِي الدُّنْيَا فَاللَّهُ تَعَالَى أَكْرَمُ مِنْ
أَنْ يَعُودَ بَعْدَ عَفْوِهِ"
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah
menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Isa ibnut Tabba', telah
menceritakan kepada kami Marwan ibnu Mu'awiyah Al-Fazzari, telah
menceritakan kepada kami Al-Azhar ibnu Rasyid Al-Kahili, dari Al-Khadir
ibnul Qawwas Al-Bajali, dari Abu Sakhilah, dari Ali r.a. yang
mengatakan, "Maukah aku ceritakan kepada kalian tentang suatu ayat dalam
Kitabullahyang paling afdal yang telah diceritakan kepada kami oleh
Rasulullah Saw, yaitu firman-Nya: 'Dan apa saja musibah yang menimpa
kamu, maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah
memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)' (Asy-Syura: 30)
Lalu Rasulullah Saw. bersabda, 'Hai Ali, aku akan menafsirkannya
kepadamu: Apa saja yang menimpa kamu berupa sakit atau siksaan atau
musibah di dunia, maka dikarenakan ulah tanganmu sendiri, dan Allah Swt.
Maha Penyantun dari menduakalikan siksaan-Nya di akhirat nanti. Dan apa
yang dimaafkan oleh Allah di dunia, maka Allah Swt. Mahamulia dari
mengulanginya sesudah memaafkannya'.”
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Marwan ibnu
Mu'awiyah dan Abdah, dari Sakhilah yang menceritakan bahwa Ali r.a.
pernah mengatakan, lalu disebutkan hal yang semisal secara marfu'.
Kemudian Ibnu Abu Hatim meriwayatkan hal yang semisal dari jalur lain secara mauquf.
Untuk itu ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah
menceritakan kepada kami Mansur ibnu Abu Muzahim, telah menceritakan
kepada kami Abu Sa'id ibnu Abul Waddah, dari Abul Hasan, dari Abu
Juhaifah yang menceritakan bahwa ia masuk menemui sahabat Ali ibnu Abu
Talib r.a, lalu Ali r.a. berkata, "Maukah aku ketengahkan kepada kamu
sekalian suatu hadis yang dianjurkan bagi orang mukmin untuk
menghafalnya?" Kemudian mereka memintanya untuk mengetengahkannya, maka
Ali membaca firman Allah Swt.: Dan apa saja musibah yang menimpa kamu,
maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan
sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (Asy-Syura: 30) Lalu Ali
r.a. berkata, bahwa apa saja yang telah dijatuhkan oleh Allah sebagai
hukuman di dunia, maka Allah Maha Penyantun dari menduakalikan
hukuman-Nya kelak di hari kiamat. Dan apa saja yang telah dimaafkan oleh
Allah di dunia, maka Allah Mahamulia dari mengulangi pemaafan-Nya di
hari kiamat nanti.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا يَعْلَى بْنُ عُبَيْدٍ، حَدَّثَنَا
طَلْحَةُ -يَعْنِي ابْنَ يَحْيَى-عَنْ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ
مُعَاوِيَةَ-هُوَ ابْنُ أَبِي سُفْيَانَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:
"مَا مِنْ شَيْءٍ يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ فِي جَسَدِهِ يُؤْذِيهِ إِلَّا
كَفَّرَ اللَّهُ عَنْهُ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ"
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ya'la ibnu Ubaid,
telah menceritakan kepada kami Talhah (yakni Ibnu Yahya), dari Abu
Burdah, dari Mu'awiyah ibnu Abu Sufyan r.a. yang mengatakan bahwa aku
pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Tiada sesuatu pun yang
menimpa diri seorang mukmin pada jasadnya yang membuatnya kesakitan,
melainkan Allah menghapuskan karenanya sebagian dari
keburukan-keburukannya.
قَالَ أَحْمَدُ أَيْضًا: حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ، عَنْ زَائِدَةَ، عَنْ
لَيْثٍ، عَنْ مُجَاهِدٍ، عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِذَا كَثُرَتْ ذُنُوبُ الْعَبْدِ،
وَلَمْ يَكُنْ لَهُ مَا يُكَفِّرُهَا، ابْتَلَاهُ اللَّهُ بالحَزَنِ
لِيُكَفِّرَهَا"
Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Hasan, dari
Zaidah, dari Laits, dari Mujahid, dari Aisyah r.a. yang mengatakan bahwa
Rasulullah Saw. pernah bersabda: Apabila dosa seorang hamba banyak,
sedangkan dia tidak memiliki sesuatu sebagai penghapusnya (kifaratnya),
maka Allah mengujinya dengan kesedihan untuk menghapuskan dosa-dosanya
itu.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu
Abdullah Al-Audi, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Ismail
ibnu Muslim, dari Al-Hasan Al Basri yang mengatakan sehubungan dengan
makna firman-Nya: Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka
disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian
besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (Asy-Syura: 30)
Bahwa ketika ayat ini diturunkan, Rasulullah Saw. bersabda:
"وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، مَا مِنْ خَدْش عُودٍ، وَلَا
اخْتِلَاجِ عِرْقٍ، وَلَا عَثْرة قَدَمٍ، إِلَّا بِذَنْبٍ وَمَا يَعْفُو
اللَّهُ عَنْهُ أَكْثَرُ"
Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman)-Nya, tiada suatu lecet
pun karena kayu dan tiada pula terkilirnya urat dan tiada pula
tersandungnya telapak kaki melainkan karena perbuatan dosa, dan apa yang
dimaafkan oleh Allah dari (penderita) nya adalah lebih banyak.
Ibnu Abu Hatim mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami ayahku,
telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Ali, telah menceritakan kepada
kami Hasyim, dari mansur, dari Al-Hasan, dari Imran ibnu Husain r.a.
yang mengatakan bahwa salah seorang muridnya menemuinya, sedangkan Imran
ibnu Husain saat itu sedang terkena cobaan penyakit pada tubuhnya. Lalu
sebagian dari murid-muridnya mengatakan kepadanya, "Sesungguhnya kami
merasa sedih dengan apa yang kami lihat menimpa dirimu." Maka Imran ibnu
Husain menjawab, "Janganlah kamu bersedih hati melihat diriku seperti
ini, karena sesungguhnya apa yang kamu lihat ini karena suatu dosa,
sedangkan apa yang dimaafkan oleh Allah jauh lebih banyak (daripada dosa
itu)." Kemudian Imran ibnu Husain r.a. membaca firman-Nya: Dan apa saja
musibah yang menimpa kamu, maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu
sendiri. (Asy-Syura: 30)
Ibnu Abu Hatim mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami ayahku,
telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abdul Hamid Al-Hamami, telah
menceritakan kepada kami Jarir, dari Abul Bilad yang mengatakan bahwa ia
pernah membacakan firman berikut kepada Al-Ala ibnu Badr, yaitu: Dan
apa saja musibah yang menimpa kamu, maka disebabkan oleh perbuatan
tanganmu sendiri. (Asy-Syura: 30) Dan ia mengatakan bahwa matanya telah
buta sejak ia masih kanak-kanak. Maka Al-Ala ibnu Badr menjawab, "Itu
karena dosa-dosa kedua orang tuamu."
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah
menceritakan kepada kami Ali ibnu Muhammad At-Tanafisi, telah
menceritakan kepada kami Waki', dari Abdul Aziz ibnu Abu Daud, dari
Ad-Dahhak yang mengatakan bahwa tiadalah yang kami ketahui bila ada
seseorang telah hafal Al-Qur'an, kemudian ia lupa melainkan karena suatu
dosa yang dilakukannya. Kemudian ia membaca firman Allah Swt.: Dan apa
saja musibah yang menimpa kamu, maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu
sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahanmu)
(Asy-Syura: 30)
“Wahai sekalian manusia, ketahuilah bahwa musibah yang menimpa kalian
tidak lain adalah disebabkan karena dosa yang kalian dahulu perbuat. Dan
Allah memaafkan kesalahan-kesalahan kalian tersebut. Dia bukan hanya
tidak menyiksa kalian, namun Allah langsung memaafkan dosa yang kalian
perbuat.”
Karena memang Allah akan menyiksa seorang hamba karena dosa yang ia perbuat. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ
“Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya
Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang
melata pun” (QS. Fathir: 45).
Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah, mereka mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلاَ نَصَبٍ وَلاَ سَقَمٍ وَلاَ
حَزَنٍ حَتَّى الْهَمِّ يُهَمُّهُ إِلاَّ كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ
“Tidaklah seorang mukmin tertimpa suatu musibah berupa rasa sakit (yang
tidak kunjung sembuh), rasa capek, rasa sakit, rasa sedih, dan
kekhawatiran yang menerpa melainkan dosa-dosanya akan diampuni” (HR.
Muslim no. 2573).
Dari Mu’awiyah, ia berkata bahwa ia mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَا مِنْ شَىْءٍ يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ فِى جَسَدِهِ يُؤْذِيهِ إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ عَنْهُ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِه
“Tidaklah suatu musibah menimpa jasad seorang mukmin dan itu
menyakitinya melainkan akan menghapuskan dosa-dosanya” (HR. Ahmad 4: 98.
Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata bahwa sanadnya shahih sesuai syarat
Muslim).
Bisa jadi pula musibah itu datang menghampiri kita karena dosa orang tua. Abul Bilad berkata pada ‘Ala’ bin Badr mengenai ayat,
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh
perbuatan tanganmu sendiri”, dan sejak kecil aku sudah buta, bagaimana
pendapatmu? ‘Ala’ berkata,
فبذنوب والديك
“Itu boleh jadi karena sebab orang tuamu”.
Seseorang bisa jadi mudah lupa terhadap ayat Qur’an yang telah ia hafal karena sebab dosa yang ia perbuat. Adh Dhohak berkata,
ما نعلم أحدا حفظ القرآن ثم نسيه إلا بذنب
“Kami tidaklah mengetahui seseorang yang menghafal Qur’an kemudia ia
lupa melaikan karena dosa”. Lantas Adh Dhohak membacakan surat Asy Syura
yang kita bahas saat ini. Lalu ia berkata,
وأي مصيبة أعظم من نسيان القرآن.
“Musibah mana lagi yang lebih besar dari melupakan Al Qur’an?”
Jadi boleh jadi bukan karena kesibukan kita, jadi biang kesalahan
hafalan Qur’an itu hilang. Boleh jadi karena tidak menjaga pandangan,
terus menerus dalam maksiat serta meremehkan dosa, itulah sebab Allah
memalingkan Al Qur’an dari kita.
Moga Allah melepaskan berbagai musibah yang menimpa kita. Ayat ini
adalah sebagai renungan bagi kita untuk selalu mengintrospeksi diri
sebelum menyalahkan orang lain ketika kita terzholimi. Boleh jadi
musibah itu datang karena dosa syirik, tidak ikhlas dalam amalan,
amalan yg tidak berdasar, dosa besar atau meremehkan maksiat yang kita
perbuat hari demi hari.
Sebagaimana yang telah dikatakan diatas, musibah adalah sunnatullah di
dunia ini. Dunia bukan tempat kenikmatan. Mencari kesenangan dan
kenikmatan selama-lamanya dan terus-menerus tidak mungkin akan
didapatkan di dunia ini.
Di dunia ini bercampur antara nikmat dan bencana, antara kemudahan dan
kesusahan, antara kesenangan dan kesedihan. Jika begitu hakikat dari
kehidupan dunia, maka musibah yang datang kepada seorang hamba sejatinya
dapat mengingatkannya ke negeri akhirat, tempat cita-cita untuk meraih
segala kenikmatan dapat ditambatkan.
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al Balad: 4)
Ibnu Katsir berkata, “Maksudnya, susah payah dalam menghadapi musibah-musibah di dunia, dan kesulitan-kesulitan di akhirat.”
Faktor musibah utama ini (ulah manusia) ada dua hal, yakni faktor sosial dan faktor spiritual.
Pertama, faktor sosial. Maksudnya adalah faktor-faktor pemicu musibah
yang berasal dari ulah manusia secara alamiah. Misalnya, membuang sampah
ke sungai, tidak adanya daerah serapan air, banyaknya gedung dan
bangunan, merupakan faktor penyebab banjir. Banyaknya volume kendaraan,
tidak taat dan tertib lalu lintas menyebabkan terjadinya kecelakaan.
Pembakaran hutan secara liar bisa menyebabkan gangguan polusi udara.
Pembuangan limbah pabrik bisa menjadi polusi air. Digundulinya lereng
gunung bisa menyebabkan tanah longsor.
Kedua, faktor spiritual. Maksudnya adalah faktor pemicu musibah yang
berkaitan dengan nilai dan syariat agama. Faktor spiritual bisa berwujud
melalaikan ibadah, banyak dosa dan maksiat, adanya “legalisasi”
perzinaan, narkoba menjadi gaya hidup, memilih-memilih dan menolak
syariat, banyaknya aliran dan pemahaman sesat-menyesatkan yang menodai
syariat, dan syirik di mana-mana.
Berkenaan dengan poin kedua ini, terdapat ayat al-Quran yang relevan, yakni:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا
عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوْا
فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami
akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi
mereka mendustakan (ayat-ayat Kami). Maka, Kami siksa mereka disebabkan
perbuatannya itu.” (Q.S. al-A’raf [7]: 96).
Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa sebab tidak berkahnya suatu negara
adalah tidak beriman, tidak bertakwa, dan mendustakan ayat Allah.
Selanjutnya, negara yang tidak beriman, tidak bertakwa, dan menolak ayat
Allah akan mendapatkan siksa dari Allah SWT. Perhatikan saja, berkah
langit dan berkah bumi tidak Allah buka. Langit menurunkan hujan yang
sejatinya menyiram bumi, ternyata malah menyisakan air denan volumke
berlebih alias banjir. Bumi, yang sejatinya diharapkan mengeluarkan
kebaikan, ternyata malah berguncang (gempa), gunung meletus, longsor,
dll. dengan intensitas yang tinggi.
Oleh karena itu, ketika bencana melanda suatu negara, hal yang harus
dipikirkan adalah sejauh mana negara tersebut memiliki perhatian yang
tinggi terhadap syariat. Bukan mengaitkannya dengan gejala alam semata.
Karena, jika syariat dijadikan kambing hitam kehancuran negara (politik,
ekonomi, social, kerukunan, toleransi, kebebasan, dll.) seperti yang
kita lihat saat ini, maka ayat di atas mungkin saja terjadi: hilangnya
berkah langit dan bumi (banyak bencana).
Hikmah Musibah
Musibah yang ditetapkan Allah kepada hamba-Nya memiliki beberapa hikmah,
yaitu al-ikhtibar (ujian), at-tahdzir (peringatan), al-‘adzab (siksa),
al-mukaffirudz dzanbi (penebus dosa).
1. Al-Ikhtibar (ujian)
Hikmah pertama dari musibah adalah sebagai al-ikhtibar atau ujian. Bagi
siapa musibah sebagai ujian? Tentunya bagi orang-orang yang mengaku
beriman. Hal ini dijelaskan dalam al-Quran:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوْا أَنْ يَقُوْلُوْا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (begitu saja)
mengatakan, ‘Kami telah beriman.’ sedang mereka tidak diuji lagi?” (Q.S.
al-‘Ankabut [29]: 2).
Jadi, bagi kita yang mengaku diri beriman, bersiap-siaplah untuk
menghadapi ujian. Dan, perlu diingat bahwa semakijn tinggi pohon,
semakin tinggi angin yang menerpanya; semakin tinggi kualitas iman
seseorang, semakin besar ujian yang akan dihadapinya. Inilah fitrahnya.
Namun, jangan khawatir. Bagi orang yang imannya tinggi, ujian besar
insya Allah akan terasa tawar. Sebaliknya, bagi orang yang imannya
lemah, ujian sekecil apapun, rasanya sangat dahsyat. Jika demikian,
kunci agar mudah dan lulus dalam ujian adalah kekuatan iman. Kekuatan
iman akan melahirkan sabar, ikhtiar, doa, dan tawakal. Keempatnya tidak
bisa dipisahkan satu sama lain ketika menghadapi ujian. Hilang salah
satu, ujian pun bisa-bisa gagal.
Semoga kita termasuk orang yang bisa mengaplikasikan keempat hal
tersebut: sabar, ikhtiar, doa, dan tawakal; di saat ujian melanda.
2. At-Tahdzir
Musibah yang melanda bisa saja Allah tetapkan sebagai tahdzir atau
peringatan. Peringatan Allah berikan kepada orang yang sering melakukan
dosa dan maksiat. Ketiika diuji dengan penyakit misalnya, hal pertama
yang harus dievaluasi adalah apakah kita sudah bersih dari dosa atau
belum. Kalau ternyata belum dan memang tidak ada manusia yang bersih
sepenuhnya dari dosa, ini berarti Allah sedang memberikan peringatan
agar tidak bersantai-santai berbuat dosa dan maksiat, dan agar segera
kembali ke jalan yang benar (istigfar, tobat). Karena, setiap dosa ada
timbal baliknya, sekecil apapun.
Artinya, jangan GR alias gede rasa dulu. Penyakit yang dirasa, rugi
dalam dagang, rezeki sukar dicari, ngejomblo terus padahal hati rindu
menikah, nama baik jadi turun, dll., jangan dulu divonis sebagai ujian
dari Allah. Barangkali semua itu adalah teguran bahwa diri kita masih
terlalu banyak dosa dan maksiat kepada-Nya. Sehinga, dengan teguran ini
Allah masih memberi kesempatan untuk memperbaiki dan memantaskan diri di
hadapan-Nya. Yang akan terjadi adalah, jika kita baik dan pantas
ditolong Allah, maka Allah pun akan menolong dengan segera untuk
menepikan musibah yang terjadi. Itu dia sunnatullah-nya. Dan,
demikianlah sikap terbaik daripada GR merasa musibah adalah ujian dari
Allah. Mendingan merasa bahwa musibah ini adalah peringatan sehingga
kita tidak terlalu kalem dalam musibah dan dengan kesadaran seera
memperbaiki diri di samping istigfar sebanyak-banyaknya.
3. Al-‘Adzab
Yang paling mengerikan hati adalah musibah yang terjadi merupakan adzab
dari Allah SWT. Yang namanya adzab ya tentu bagi orang yang pantas
diadzab. Siapa mereka?
Sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Quran dan hadits, yang akan
mendapatkan adzab Allah baik di dunia maupun di akhirat adalah mereka
yang mendustakan dan menolak ayat-ayat Allah (kafir), mereka yang
menduakan Allah dalam ketauhidan (syirik), dan mereka kaum munafik si
serigala berbulu domba. Jika ada orang kafir, musyrik, dan munafik
terkena musibah, dipastikan bahwa musibah itu merupakan azab dari Allah
SWT.
Namun, dijelaskan pula dalam hadits bahwa musibah, penyakit, dan
kesedihan pun ternyata balasan atas kesalahan yang dilakukan. Nabi saw.
bersabda:
اَلْمَصَائِبُ وَالْأَمْرَاضُ وَالْأَحْزَانُ فِى الدُّنْيَا جَزَاءٌ
“Musibah-musibah, penyakit-penyakit, dan kesedihan-kesedihan merupakan
balasan (atas kesalahan).” (H.R. Ibnu Mardwih dan Abu Nu’aim).
Sepadan dengan hadits tersebut Allah SWT berfirman yang artinya, “Pahala
dari Allah itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak
(pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan
kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia
tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari
Allah.” (Q.S. an-Nisa [4]: 123).
4. Mukaffirudz Dzanbi
Hikmah selanjutnya dari musibah adalah sebagai mukaffirudz dzanbi atau
penghapus dosa. Siapakah yang mendapat hikmah ini? Tidak semua orang
yang terkena musibah akan mendapakan penghapusan dosa. Yang akan
mendapatkan hikmah ini adalah ia yang beriman dan beramal saleh.
Sedangkan orang kafir, musyrik, dan munafik tidak akan mendapatkan
hikmah pengampunan dosa karena musibah bagi mereka adalah adzab
sebagaimana poin sebelumnya.
Namun, tidak lantas dosa orang beriman kemudian diampuni Allah ketika
musibah datang. Ada syarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Syarat
tersebut adalah sabar menjalani dan “menikmati” musibah.
Bagaimana wujud kesabarannya? Orang yang sabar terlihat dalam sikapnya:
tidak berkeluh kesah, tenang, tangguh, tegar, berikhtiar semaksimal
mungkin, terus berdoa, dan menyerahkan seala urusan kepada Allah
(tawakal).
Mengenai hikmah ini, Rasulullah saw. bersabda:
مَا مِنْ مُصِيْبَةٍ تُصِيْبُ الْمُسْلِمَ إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةَ يُشَاكُهَا
“Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim, kecuali Allah akan
mengampuni dosanya meskipun hanya tertusuk duri.” (H.R. Bukhari).
Tak heran, jika para ulama terdahulu lebih merasa bahagia jika musibah
tiba. Ternyata, musibah yang dihadapi dengan sabar, berbuah diampuni
dosa yang telah dilakukan. Kalau begitu, ketika kita beristigfar minta
diampuni dosa oleh Allah, maka salah satu bentuk pengabulannya adalah
Allah mengirimkan musibah untuk dihadapi dengan sabar.
Evaluasi untuk Negeri
Indonesia saat ini sedang berkabung dengan berbagai musibah yang singgah
silih berganti. Banjir belum usai, gempa dahsyat terjadi. Akibat gempa
belum terpulihkan, gunung pun meletus. Selain itu, longsor, kebakaran
hutan, kecelakaan lalu lintas, dll. pun turut “mewarnai” bencana yang
datang.
Ada apa dengan Indoensia? Pertanyaan ini harus dijawab. Karena, selama
ini para tokoh bangsa hanya mengaitkannya dengan gejala alam. Belum ada
atau sedikit saja yang mengungkit permasalahan sikap, nilai dan ketaatan
dalam agama (baca: Islam).
Ya. Karena, sebagai negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia,
pantas dan memang harus ada evaluasi dalam sikap hidup beragama.
Dasarnya sudah dipahami bahwa musibah yang muncul adalah respon atas
dosa dan maksiat kepada Allah. Selain itu, musibah-musibah yang menimpa
umat-umat terdahulu adalah karena sikap mereka yang menentang dan tidak
mau mengamalkan syariat agama Allah.
Nah, sekarang silahkan dievaluasi oleh masing-masing, kira-kira dari
keempat hikmah yang dibahas sebelumnya, Indonesia berada di mana? Apakah
musibah negara sebagai ujian, peringatan, atau siksa? Wallahu a’lam.
Hanya Allah yang tahu.
Selain negara yang harus dievaluasi, kita pun mesti bermuhasabah diri.
Barangkali kita sudah melalaikan ibadah, banyak dosa dan maksiat kepada
Allah, menjauhi sunnah dan menghidupkan bid’ah. Hal-hal tersebut
merupakan fasad (kerusakan) di muka bumi yang akan mengundang musibah.
Mengiyakan hal tersebut, pernah terjadi gempa dahsyat di jaman Umar bin
Khatab. Lalu Umar melakukan “briefing” dan menegaskan bahwa musibah ini
tiada lain disebabkan oleh dosa dan maksiat.
Oleh karena itu, salah satu hal yang sangat harus dilakukan setiap kita
adalah beristigfar kepada Allah sesering dan sebanyak mungkin.
Barangkali dosa dan maksiat kita lah yang mengundang musibah itu. Sikap
seperti ini sangat baik daripada menuduh bahwa orang lah yang berbuat
salah sehingga menyebabkan musibah.
Ya Allah, ampunilah dosa dan terimalah taubat kami.
Semoga hati, lisan dan badan ini bisa bersabar dalam menghadapi berbagai cobaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar