Alam kubur adalah awal kehidupan hakiki dari seorang manusia.
Mempelajari apa-apa yang terjadi di alam kubur banyak memberikan faedah.
Seseorang yang mengetahui bahwa di alam kubur ada nikmat kubur tentu
akan berusaha sebisa mungkin selama ia masih hidup agar menjadi orang
yang layak mendapatkan nikmat kubur kelak. Seseorang yang mengetahui
bahwa di alam kubur ada adzab kubur juga akan berusaha sebisa mungkin
agar ia terhindar darinya kelak. Nikmat dan adzab kubur adalah perkara
gaib yang tidak terindera oleh manusia.
Manusia yang merasakannya pun tentu tidak dapat mengabarkan kepada yang
masih hidup akan kebenarannya. Maka satu-satunya sumber keyakinan kita
akan adanya adzab dan nikmat kubur adalah dalil Qur’an dan Sunnah. Dan
banyak sekali dalil dari Qur’an dan As Sunnah serta ijma’ para sahabat
dan tabi’in yang menetapkan adanya alam kubur. Namun sebagian orang dari
kalangan ahlul bid’ah mengingkarinya karena penyimpangan mereka dalam
memahami dalil-dalil syar’i.
Dalam artikel ini akan kami paparkan beberapa dalil yang menetapkan
adanya adzab dan nikmat kubur serta pembahasan mengenai beberapa
kerancuan yang beredar seputar masalah ini.
Alloh Subhanahu Wata'ala Berfirman;
وَحَاقَ بِآَلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ النَّارُ يُعْرَضُونَ
عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا
آَلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ
“dan Firaun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada
mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya
Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke
dalam azab yang sangat keras”.” (QS. Ghafir/ Al Mu’min: 45-46)
Mari kita perhatikan penjelasan para pakar tafsir mengenai potongan ayat ini:
النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا
“Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang.”
Al Qurtubhi –rahimahullah- mengatakan,
“Sebagian ulama berdalil dengan ayat ini tentang adanya adzab kubur. …
Pendapat inilah yang dipilih oleh Mujahid, ‘Ikrimah, Maqotil, Muhammad
bin Ka’ab. Mereka semua mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan adanya
siksa kubur di dunia.” (Al Jaami’ Li Ahkamil Qur’an, 15/319)
Asy Syaukani –rahimahullah- mengatakan,
“Yang dimaksud dengan potongan dalam ayat tersebut adalah siksaan di alam barzakh (alam kubur). ” (Fathul Qodir, 4/705)
Fakhruddin Ar Rozi Asy Syafi’i –rahimahullah- mengatakan,
“Para ulama Syafi’iyyah berdalil dengan ayat ini tentang adanya adzab
kubur. Mereka mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa siksa neraka
yang dihadapkan kepada mereka pagi dan siang (artinya sepanjang waktu)
bukanlah pada hari kiamat nanti. Karena pada lanjutan ayat dikatakan,
“dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat):
“Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras”
[Berarti siksa neraka yang dinampakkan pada mereka adalah di alam
kubur]. Tidak bisa juga kita katakan bahwa yang dimaksudkan adalah siksa
di dunia. Karena dalam ayat tersebut dikatakan bahwa neraka dinampakkan
pada mereka pagi dan siang, sedangkan siksa ini tidak mungkin terjadi
pada mereka ketika di dunia. Jadi yang tepat adalah dinampakkannya
neraka pagi dan siang di sini adalah setelah kematian (bukan di dunia)
dan sebelum datangnya hari kiamat. Oleh karena itu, ayat ini menunjukkan
adanya siksa kubur bagi Fir’aun dan pengikutnya. Begitu pula siksa
kubur ini akan diperoleh bagi yang lainnya sebagaimana mereka.”
(Mafaatihul Ghoib, 27/64)
Ibnu Katsir –rahimahullah- mengatakan,
“Ayat ini adalah pokok aqidah terbesar yang menjadi dalil bagi Ahlus
Sunnah wal Jama’ah mengenai adanya adzab (siksa) kubur yaitu firman
Allah Ta’ala,
النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا
“Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7/146)
Ibnul Qoyyim –rahimahullah- menafsirkan ayat di atas,
“Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang”, ini adalah
siksaan di alam barzakh (di alam kubur). Sedangkan ayat (yang artinya),
“dan pada hari terjadinya Kiamat” adalah ketika kiamat kubro (kiamat
besar). (At Tafsir Al Qoyyim, hal. 358)
Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wasallam Bersabda;
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ دَخَلَتْ عَلَىَّ عَجُوزَانِ مِنْ عُجُزِ يَهُودِ
الْمَدِينَةِ فَقَالَتَا لِى إِنَّ أَهْلَ الْقُبُورِ يُعَذَّبُونَ فِى
قُبُورِهِمْ ، فَكَذَّبْتُهُمَا ، وَلَمْ أُنْعِمْ أَنْ أُصَدِّقَهُمَا ،
فَخَرَجَتَا وَدَخَلَ عَلَىَّ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فَقُلْتُ
لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ عَجُوزَيْنِ وَذَكَرْتُ لَهُ ، فَقَالَ «
صَدَقَتَا ، إِنَّهُمْ يُعَذَّبُونَ عَذَابًا تَسْمَعُهُ الْبَهَائِمُ
كُلُّهَا » . فَمَا رَأَيْتُهُ بَعْدُ فِى صَلاَةٍ إِلاَّ تَعَوَّذَ مِنْ
عَذَابِ الْقَبْرِ
“Dari Aisyah Radhiallahu ‘anha, ia berkata: Suatu ketika ada dua orang
tua dari kalangan Yahudi di Madinah datang kepadaku. Mereka berdua
berkata kepadaku bahwa orang yang sudah mati diadzab di dalam kubur
mereka. Aku pun mengingkarinya dan tidak mempercayainya. Kemudian mereka
berdua keluar. Lalu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam datang menemuiku.
Maka aku pun menceritakan apa yang dikatakan dua orang Yahudi tadi
kepada beliau. Beliau lalu bersabda: ‘Mereka berdua benar, orang yang
sudah mati akan diadzab dan semua binatang ternak dapat mendengar suara
adzab tersebut’. Dan aku pun melihat beliau senantiasa berlindung dari
adzab kubur setiap selesai shalat” (HR. Bukhari 6005)
Hadits ini juga menunjukkan bahwa ‘Aisyah Radhiallahu’anha meyakini
adanya adzab kubur setelah diberitahu oleh Rasulullah shallallahu’alaihi
wa sallam.
Firman-Nya Dalam Surat Ibrahim Ayat 27
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي
الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ
وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ (27)
Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang
teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan
orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki. (QS
Ibrahim Ayat 27)
قَالَ الْبُخَارِيُّ: حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ،
أَخْبَرَنِي عَلْقَمَةُ بْنُ مَرْثَد قَالَ: سَمِعْتُ سَعْدَ بْنَ
عُبَيْدَةَ، عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ؛ أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "اَلْمُسْلِمُ
إِذَا سُئِلَ فِي الْقَبْرِ، شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ: {يُثَبِّتُ
اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ
الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ}
Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abul Walid,
telah menceritakan kepada kami Syu'bah, telah menceritakan kepadaku
Alqamah ibnu Marsad; ia pernah mendengar Sa'd ibnu Ubaidah menceritakan
hadis dari Al-Barra ibnu Azib r.a., bahwa Rasulullah Saw. pernah
bersabda: Orang muslim apabila ditanya di dalam kuburnya, ia
mengemukakan persaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa
Muhammad adalah utusan Allah. Yang demikian itu adalah firman-Nya,
"Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang
teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat" (Ibrahim: 27).
Imam Muslim telah meriwayatkannya pula, demikian juga jamaah lainnya yang semuanya melalui hadis Syu'bah dengan sanad yang sama.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، حَدَّثَنَا
الْأَعْمَشُ، عَنِ المِنْهَال بْنِ عَمْرٍو، عَنْ زَاذَانَ، عَنِ
الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جِنَازَةِ رَجُلٍ مِنَ الْأَنْصَارِ،
فَانْتَهَيْنَا إِلَى الْقَبْرِ وَلَمَّا يُلَحَّدْ، فَجَلَسَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَلَسْنَا حَوْلَهُ، كَأَنَّ
عَلَى رُءُوسِنَا الطَّيْرَ، وَفِي يَدِهِ عُودٌ يَنْكت بِهِ فِي
الْأَرْضِ، فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ: "اسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ مِنْ
عَذَابِ الْقَبْرِ"، مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا، ثُمَّ قَالَ: "إِنَّ
الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ فِي انْقِطَاعٍ مِنَ الدُّنْيَا
وَإِقْبَالٍ مِنَ الْآخِرَةِ نَزَلَ إِلَيْهِ مَلَائِكَةٌ مِنَ السَّمَاءِ،
بِيضُ الْوُجُوهِ كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الشَّمْسُ، مَعَهُمْ كَفَنٌ مِنْ
أَكْفَانِ الْجَنَّةِ وحَنُوط مِنْ حَنُوط الْجَنَّةِ، حَتَّى يَجْلِسُوا
مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ. ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ الْمَوْتِ حَتَّى يَجْلِسَ
عِنْدَ رَأْسِهِ، فَيَقُولُ: أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ، اخْرُجِي
إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ". قَالَ: "فَتَخْرُجُ تَسِيلُ
كَمَا تَسِيلُ الْقَطْرَةُ مِنْ فِي السِّقَاء فَيَأْخُذُهَا، فَإِذَا
أَخَذَهَا لَمْ يَدَعُوهَا فِي يَدِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ، حَتَّى
يَأْخُذُوهَا فَيَجْعَلُوهَا فِي ذَلِكَ الْكَفَنِ وَفِي ذَلِكَ الحنُوط،
وَيَخْرُجَ مِنْهَا كَأَطْيَبِ نَفْحَةِ مِسْكٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ
الْأَرْضِ. فَيَصْعَدُونَ بِهَا، فَلَا يَمُرُّونَ -يَعْنِي بِهَا -على ملأ
من الملائكة إِلَّا قَالُوا: مَا هَذَا الرُّوحُ [الطَّيِّبُ] ؟
فَيَقُولُونَ: فَلَانٌ ابْنُ فُلَانٍ، بِأَحْسَنِ أَسْمَائِهِ الَّتِي
[كَانُوا] يُسَمُّونَهُ بِهَا فِي الدُّنْيَا، حَتَّى يَنْتَهُوا بِهِ
إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَيَسْتَفْتِحُونَ لَهُ، فَيُفْتَحُ لَهُ،
فَيُشَيِّعُهُ مِنْ كُلِّ سَمَاءٍ مُقَرَّبُوهَا إِلَى السَّمَاءِ الَّتِي
تَلِيهَا، حَتَّى يَنْتَهِيَ بِهَا إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ،
فَيَقُولُ اللَّهُ: اكْتُبُوا كِتَابَ عَبْدِي فِي عِليين، وَأَعِيدُوهُ
إِلَى الْأَرْضِ، فَإِنِّي مِنْهَا خَلَقْتُهُمْ وَفِيهَا أُعِيدُهُمْ،
وَمِنْهَا أُخْرِجُهُمْ تَارَةً أُخْرَى". قَالَ: "فتُعَاد رُوحُهُ [فِي
جَسَدِهِ] فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ: مَنْ
رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللَّهُ. فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا دِينُكَ؟
فَيَقُولُ: دِينِي الْإِسْلَامُ. فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا هَذَا الرَّجُلُ
الَّذِي بُعث فِيكُمْ؟ فَيَقُولُ: هُوَ رَسُولُ اللَّهِ. فَيَقُولَانِ
لَهُ: وَمَا عِلْمُكَ؟ فَيَقُولُ: قَرَأْتُ كِتَابَ اللَّهِ، فَآمَنْتُ
بِهِ وَصَدَّقْتُ. فَيُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ: أَنْ صَدَقَ
عَبْدِي، فَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ،
وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ -قَالَ: فَيَأْتِيهِ مِنْ
رَوْحِها وَطِيبِهَا، وَيُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ مَدَّ بَصَرِهِ.
وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ، حَسَنُ الثِّيَابِ، طَيِّبُ
الرِّيحِ، فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ، هَذَا يَوْمُكَ
الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ. فَيَقُولُ لَهُ مَنْ أَنْتَ؟ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ
يَجِيءُ بِالْخَيْرِ. فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ. فَيَقُولُ:
رَبِّ أَقِمِ السَّاعَةَ. رَبِّ، أَقِمِ السَّاعَةَ، حَتَّى أَرْجِعَ إِلَى
أَهْلِي وَمَالِي". قَالَ: "وَإِنَّ الْعَبْدَ الْكَافِرَ إِذَا كَانَ فِي
انْقِطَاعٍ مِنَ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنَ الْآخِرَةِ، نَزَلَ إِلَيْهِ
مِنَ السَّمَاءِ مَلَائِكَةٌ سُودُ الْوُجُوهِ، مَعَهُمُ المُسُوح،
فَجَلَسُوا مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ. ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ الْمَوْتِ حَتَّى
يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ، فَيَقُولُ: أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ،
اخْرُجِي إِلَى سَخَط مِنَ اللَّهِ وغَضَب". قَالَ: "فتَفرق فِي جَسَدِهِ،
فَيَنْتَزِعُهَا كَمَا يُنْتَزَعُ السَّفُّود مِنَ الصُّوفِ الْمَبْلُولِ،
فَيَأْخُذُهَا، فَإِذَا أَخَذَهَا لَمْ يَدَعُوهَا فِي يَدِهِ طَرْفَةَ
عَيْنٍ، حَتَّى يَجْعَلُوهَا فِي تِلْكَ الْمُسُوحِ. وَيَخْرُجَ مِنْهَا
كَأَنْتَنِ رِيحِ جِيفَةٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ، فَيَصْعَدُونَ
بِهَا فَلَا يَمُرُّونَ بِهَا عَلَى مَلأ مِنَ الْمَلَائِكَةِ إِلَّا
قَالُوا: مَا هَذَا الرُّوحُ الْخَبِيثُ؟ فَيَقُولُونَ: فَلَانٌ ابْنُ
فُلَانٍ، بِأَقْبَحِ أَسْمَائِهِ الَّتِي كَانَ يُسَمُّونَهُ بِهَا فِي
الدُّنْيَا [حَتَّى يَنْتَهِيَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا]
فَيُسْتَفْتَحُ لَهُ فَلَا يُفْتَحُ لَهُ". ثُمَّ قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ
السَّمَاءِ وَلا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ
الْخِيَاطِ} [الْأَعْرَافِ: 40] ، فَيَقُولُ اللَّهُ: "اكْتُبُوا
كِتَابَهُ فِي سِجِّينٍ، فِي الْأَرْضِ السُّفْلَى، فَتُطْرَحَ رُوحُهُ
طَرْحًا". ثُمَّ قَرَأَ: {وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ
مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي
مَكَانٍ سَحِيقٍ} [الْحَجِّ: 31] . "فَتُعَادُ رُوحُهُ فِي جَسَدِهِ،
وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ وَيَقُولَانِ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ؟
فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ، لَا أَدْرِي. فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا دِينُكَ؟
فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ، لَا أَدْرِي. فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا هَذَا
الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ، لَا أَدْرِي.
فَيُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ: أَنْ كَذَبَ فَأَفْرِشُوهُ مِنَ
النَّارِ، وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى النَّارِ. فَيَأْتِيهِ مِنْ
حَرِّهَا وَسُمُومِهَا، وَيُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ، حَتَّى تختلف فيه
أضلاعه، ويأتيه رجل قَبِيحُ الْوَجْهِ، قَبِيحُ الثِّيَابِ، مُنْتِنُ
الرِّيحِ فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُوءُكَ، هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي
كُنْتَ تُوعَدُ. فَيَقُولُ: وَمَنْ أَنْتَ فَوَجْهُكَ [الْوَجْهُ] يَجِيئُ
بِالشَّرِّ. فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ، فَيَقُولُ: رَبِّ، لَا
تُقِمِ السَّاعَةَ".
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah,
telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Al-Minhal ibnu Amr, dari
Zadzan, dari Al-Barra ibnu Azib yang mengatakan, "Kami berangkat bersama
Rasulullah Saw. untuk melayat jenazah seorang Ansar. Setelah kami
sampai di kuburnya, si jenazah masih belum dimasukkan ke liang lahadnya.
Maka Rasulullah Saw. duduk, dan kami duduk di sekitarnya, saat itu di
atas kepala kami seakan-akan ada burung. Pada waktu itu tangan
Rasulullah Saw. memegang setangkai kayu yang beliau ketuk-ketukkan ke
tanah, lalu beliau mengangkat kepala dan bersabda,'Mohonlah perlindungan
kepada Allah dari azab kubur,' sebanyak dua atau tiga kali. Kemudian
beliau Saw. bersabda: Sesungguhnya seorang hamba yang beriman apabila
habis masa hidupnya di dunia ini dan akan berpulang ke alam akhirat,
turunlah kepadanya malaikat dari langit yang berwajah putih, seakan-akan
wajah mereka adalah matahari. Mereka membawa kain kafan dari kafan
surga dan wewangian dari wewangian surga, lalu mereka duduk di dekatnya
sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut yang langsung
duduk di dekat kepalanya, lalu ia berkata, 'Hai jiwa yang baik,
keluarlah kamu menuju kepada ampunan dan rida dari Allah.' Maka
keluarlah rohnya dengan mudah seperti setetes air yang keluar dari mulut
wadah minuman, lalu malaikat maut mengambilnya. Apabila malaikat maut
telah mengambilnya, maka dia tidak membiarkannya berada di tangannya
barang sekejap pun melainkan para malaikat itu mengambilnya dengan
segera, lalu mereka masukkan ke dalam kain kafan dan wewangian yang
mereka bawa itu. Maka keluarlah darinya bau minyak kesturi yang paling
harum di muka bumi ini. Mereka membawanya naik (ke langit). Maka tidak
sekali-kali mereka melewati sejumlah malaikat, melainkan
malaikat-malaikat itu bertanya, 'Siapakah pemilik roh yang wangi ini?'
Para malaikat yang membawanya menjawab, 'Fulan bin Fulan,' dengan
menyebutkan nama terbaiknya yang menjadi sebutan namanya ketika di
dunia. Hingga sampailah mereka ke langit pertama, lalu mereka mengetuk
pintunya dan dibukakanlah pintu langit untuknya. Maka ikut mengiringinya
semua malaikat yang menghuni langit pertama itu sampai ke langit
berikutnya, hingga sampailah ia ke langit yang ketujuh. Maka Allah
berfirman, 'Catatlah bagi hamba-Ku ini catatan orang-orang yang masuk
surga Illiyyin, dan kembalikanlah jasadnya ke bumi, karena sesungguhnya
Aku menciptakan mereka dari tanah, maka Aku kembalikan mereka ke tanah,
dan Aku akan hidupkan mereka dari tanah kali yang lain.' Maka rohnya
dikembalikan ke jasadnya, dan datanglah dua malaikat kepadanya, lalu
kedua malaikat itu mendudukkannya dan bertanya kepadanya, 'Siapakah
Tuhanmu?' Ia menjawab, 'Tuhanku Allah.' Keduanya bertanya, 'Apakah
agamamu?' Ia menjawab, 'Agamaku Islam.' Keduanya bertanya, 'Siapakah
lelaki ini yang diutus kepada kalian?' Ia menjawab, 'Dia adalah utusan
Allah.' Keduanya bertanya, 'Apakah ilmumu?' Ia menjawab, 'Saya telah
membaca Kitabullah, maka saya beriman kepadanya dan membenarkannya.'
Maka berserulah suara dari langit yang mengatakan, 'Benarlah apa yang
dikatakan hamba-Ku. Maka hamparkanlah untuknya hamparan dari surga,
berilah ia pakaian dari surga, dan bukakanlah untuknya sebuah pintu yang
menuju surga.' Maka kenikmatan dan wewangian surgawi datang kepadanya,
dan diluaskanlah kuburnya sejauh mata memandang baginya. Lalu datanglah
kepadanya seorang lelaki yang berwajah tampan, berpakaian indah, dan
baunya sangat wangi. Lelaki itu berkata, 'Bergembiralah kamu dengan
keadaan yang menggembirakanmu ini. Hari ini adalah hari kamu yang pernah
dijanjikan kepadamu.' Maka ia bertanya kepada lelaki itu, 'Siapakah
kamu ini, melihat rupamu kamu adalah orang yang datang dengan membawa
kebaikan.' Maka lelaki itu menjawab, 'Aku adalah amalmu yang saleh.'
Maka ia berkata, 'Wahai Tuhanku, jadikanlah hari kiamat, wahai Tuhanku,
jadikanlah hari kiamat, agar aku dapat kembali kepada keluarga dan harta
bendaku.' Dan sesungguhnya seorang hamba yang kafir apabila telah
terputus dari dunianya dan akan menghadap ke alam akhiratnya, turunlah
kepadanya malaikat-malaikat dari langit yang semuanya berwajah hitam
dengan karung yang kasar. Lalu para malaikat itu duduk di dekatnya
sejauh mata memandang: Kemudian datanglah malaikat maut yang langsung
duduk di dekat kepalanya. Maka malaikat maut berkata, 'Hai jiwa yang
buruk, keluarlah kamu menuju kepada murka dan benci Allah!' Maka rohnya
berpencar ke seluruh tubuhnya (yakni menolak), hingga malaikat maut
mencabutnya sebagaimana seseorang mencabut tusuk sate dari kain bulu
yang basah; malaikat maut mencabutnya dengan paksa. Apabila ia telah
mencabutnya, ia tidak membiarkannya di tangannya barang sekejap pun
melainkan para malaikat memasukkannya ke dalam karung itu. Dan keluarlah
darinya bau bangkai yang terbusuk yang ada di muka bumi.Para malaikat
membawanya naik, dan tidak sekali-kali mereka melewati sekumpulan
malaikat melainkan bertanya, 'Siapakah yang memiliki ruh yang buruk
ini?' Para malaikat yang membawanya berkata bahwa dia adalah si Anu bin
Anu, dengan menyebut nama terburuknya yang biasa disebutkan untuknya di
dunia. Hingga sampailah mereka di langit pertama, lalu pintunya diketuk,
tetapi tidak dibukakan untuknya. Lalu Rasulullah Saw. membacakan
firman-Nya: 'Sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu
langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang
jarum' (Al-A'raf: 40). Kemudian Allah berfirman, 'Catatkanlah
ketetapannya di dalam Sijjin di lapisan bumi yang terbawah,' lalu rohnya
dicampakkan dengan kasar. Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan
Allah, maka adalah ia seakan-akan jatuh dari langit lalu disambar oleh
burung, atau diterbangkan angin di tempat yang jauh. (Al-Hajj: 31)
Kemudian rohnya dikembalikan ke jasadnya. Lalu ia didatangi oleh dua
malaikat, dan kedua malaikat itu mendudukkannya serta bertanya
kepadanya, 'Siapakah Tuhanmu?' Ia menjawab, 'Ha, ha, saya tidak tahu.'
Keduanya bertanya lagi, 'Apakah agamamu?' Ia menjawab, 'Ha, ha, saya
tidak tahu.' Keduanya bertanya, 'Siapakah lelaki ini yang diutus di
antara kalian?' Ia menjawab, 'Ha, ha, saya tidak tahu.' Lalu
terdengarlah suara dari langit yang mengatakan, 'Hamba-Ku berdusta, maka
gelarkanlah untuknya hamparan dari neraka dan bukakanlah baginya suatu
pintu dari neraka!' Maka panasnya neraka dan asapnya sampai kepadanya,
lalu kuburannya menggencetnya sehingga tulang-tulang iganya berantakan.
Kemudian datanglah kepadanya seorang lelaki yang buruk wajahnya dan
pakaiannya serta busuk baunya, lalu lelaki itu berkata,
'Bersenang-senanglah kamu dengan hal yang menyiksamu, inilah harimu yang
telah dijanjikan kepadamu.' Ia bertanya, 'Siapakah kamu, wajahmu
menandakan wajah orang yang datang membawa keburukan?' Maka lelaki itu
menjawab, 'Akulah amal perbuatanmu yang buruk.' Maka ia berkata, 'Wahai
Tuhanku, janganlah Engkau jadikan hari kiamat'."
Imam Abu Daud meriwayatkan hadis ini melalui hadis Al-A'masy, sedangkan
Imam Nasai dan Imam Ibnu Majah meriwayatkannya melalui hadis Al-Minhal
ibnu Amr dengan sanad yang sama.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq,
telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Yunus ibnu Habib, dari
Al-Minhal ibnu Amr, dari Zadzan, dari Al-Barra ibnu Azib r.a. yang
mengatakan, "Kami berangkat bersama Rasulullah Saw. melayat jenazah,"
kemudian disebutkan hadis yang semisal. Di dalam riwayat ini disebutkan
bahwa:
"حَتَّى إِذَا خَرَجَ رُوحُهُ صَلَّى عَلَيْهِ كُلُّ مَلَكٍ بَيْنَ
السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، [وَكُلُّ مَلَكٍ فِي السَّمَاءِ] وَفُتِحَتْ
أَبْوَابُ السَّمَاءِ، لَيْسَ مِنْ أَهْلِ بَابٍ إِلَّا وَهُمْ يَدْعُونَ
اللَّهَ، عَزَّ وَجَلَّ، أَنْ يَعْرُجَ بِرُوحِهِ مَنْ قِبَلِهِمْ".
apabila rohnya telah keluar (dari jasad orang mukmin), maka memohonkan
ampunan dan rahmat buatnya semua malaikat yang ada di antara langit dan
bumi, demikian pula semua malaikat yang ada di langit. Dan semua pintu
langit dibuka, tiada ahli suatu pintu langit pun melainkan mereka berdoa
kepada Allah Swt. agar rohnya dinaikkan oleh mereka.
Di akhir hadis ini disebutkan,
"ثُمَّ يُقَيَّضُ لَهُ أَعْمَى أَصَمُّ أَبْكَمُ، وَفِي يَدِهِ مرزبَّة
لَوْ ضُرِبَ بِهَا جَبَلٌ لَكَانَ تُرَابًا، فَيَضْرِبُهُ ضَرْبَةً
فَيَصِيرُ تُرَابًا. ثُمَّ يُعِيدُهُ اللَّهُ، عَزَّ وَجَلَّ، كَمَا كَانَ،
فَيَضْرِبُهُ ضَرْبَةً أُخْرَى فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا كُلُّ
شَيْءٍ إِلَّا الثَّقَلَيْنِ". قَالَ الْبَرَاءُ: ثُمَّ يُفْتَحُ لَهُ
بَابٌ إِلَى النَّارِ، وَيُمَهَّدُ مِنْ فُرُشِ النَّارِ
"Lalu ia diserahkan kepada malaikat yang bengis, kejam, dan dingin serta
tidak bicara; tangannya memegang gada, seandainya gada itu dipukulkan
ke sebuah gunung, tentulah gunung itu hancur menjadi debu dengan sekali
pukul. Lalu malaikat itu memukulnya sekali pukul, maka ia jadi debu,
kemudian Allah mengembalikannya seperti semula; dan malaikat itu
kembali memukulnya dengan pukulan yang lain, maka menjeritlah ia dengan
jeritan yang sangat keras, suara jeritannya terdengar oleh segala
sesuatu kecuali manusia dan jin." Al-Barra mengatakan, "Lalu dibukakan
baginya sebuah pintu yang menuju neraka dan dihamparkan baginya hamparan
dari neraka."
Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari ayahnya, dari Khaisamah, dari
Al-Barra sehubungan dengan makna firman-Nya: Allah meneguhkan (iman)
orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di
dunia dan di akhirat. (Ibrahim: 27) Bahwa makna yang dimaksud ialah
azab kubur.
Al-Mas'udi telah meriwayatkan dari Abdullah ibnu Mukhariq, dari ayahnya,
dari Abdullah yang mengatakan bahwa sesungguhnya orang mukmin itu
apabila mati, ia didudukkan di dalam kuburnya, lalu ditanyai, "Siapakah
Tuhanmu, apakah agamamu, dan siapakah nabimu?" Maka Allah meneguhkannya,
dan ia menjawab, "Tuhanku Allah, agamaku Islam, dan nabiku Muhammad
Saw." Lalu Abdullah membacakan firman-Nya: Allah meneguhkan (iman)
orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di
dunia dan di akhirat. (Ibrahim: 27)
Imam Abdu ibnu Humaid telah meriwayatkan di dalam kitab Musnad-nya:
حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ عَبْدِ
الرَّحْمَنِ، عَنْ قَتَادَةَ، حَدَّثَنَا أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ الْعَبْدَ
إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ، وَتَوَلَّى عَنْهُ أَصْحَابُهُ، إِنَّهُ
لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ". قَالَ: "فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ
فَيُقْعِدَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا
الرَّجُلِ؟ " قَالَ: "فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَيَقُولُ: أَشْهَدُ أَنَّهُ
عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ". قَالَ: "فَيُقَالُ لَهُ: انْظُرْ إِلَى
مَقْعَدِكَ مِنَ النَّارِ، قَدْ أَبْدَلَكَ اللَّهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنَ
الْجَنَّةِ". قَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
"فَيَرَاهُمَا جميعا". قالقَتَادَةُ: وَذُكِرَ لَنَا أَنَّهُ يُفْسَحُ لَهُ
فِي قَبْرِهِ سَبْعُونَ ذِرَاعًا، وَيُمْلَأُ عَلَيْهِ خَضِرًا إِلَى
يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
Bahwa telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Muhammad, telah
menceritakan kepada kami Syaiban ibnu Abdur Rahman, dari Qatadah; telah
menceritakan kepada kami Anas, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
Sesungguhnya seorang hamba itu apabila diletakkan di dalam kuburnya, dan
teman-temannya telah berpaling meninggalkannya, sesungguhnya dia
benar-benar mendengar suara terompah mereka, lalu ia didatangi oleh dua
malaikat. Kedua malaikat itu mendudukkannya dan menanyainya,
"Bagaimanakah menurutmu tentang lelaki ini (maksudnya Nabi Saw.)?"
Adapun orang mukmin, ia akan menjawab, "Saya bersaksi bahwa dia adalah
hamba dan utusan Allah." Lalu dikatakan kepadanya, "Lihatlah tempat
dudukmu di neraka itu, kini Allah telah menggantinya untukmu dengan
tempat duduk di surga." Nabi Saw. bersabda, "Maka dia melihat keduanya
itu." Qatadah mengatakan, telah diceritakan kepada kami bahwa
sesungguhnya diluaskan baginya tempat kuburnya seluas tujuh puluh hasta,
dan dipenuhi dengan tumbuh-tumbuhan yang hijau segar sampai hari
kiamat.
Imam Muslim meriwayatkan hadis ini dari Abd ibnu Humaid. Imam Nasai
mengetengahkannya melalui hadis Yunus ibnu Muhammad Al-Mu-addib dengan
sanad yang sama.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، عَنِ ابْنِ
جُرَيْج، أَخْبَرَنِي أَبُو الزُّبَيْرِ، أَنَّهُ سَأَلَ جَابِرَ بْنَ
عَبْدِ اللَّهِ عَنْ فَتَّاني الْقَبْرِ فَقَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: "إِنَّ هَذِهِ الْأُمَّةَ
تُبْتَلَى فِي قُبُورِهَا، فَإِذَا أُدْخِلَ الْمُؤْمِنُ قَبَرَهُ
وَتَوَلَّى عَنْهُ أَصْحَابُهُ، جَاءَ مَلَكٌ شَدِيدُ الِانْتِهَارِ،
فَيَقُولُ لَهُ: مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ؟ فَيَقُولُ
الْمُؤْمِنُ: أَقُولُ: إِنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ وَعَبْدُهُ. فَيَقُولُ لَهُ
الْمَلَكُ: انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ الَّذِي كَانَ لَكَ فِي النَّارِ،
قَدْ أَنْجَاكَ اللَّهُ مِنْهُ، وَأَبْدَلَكَ بِمَقْعَدِكَ الَّذِي تَرَى
مِنَ النَّارِ مَقْعَدَكَ الَّذِي تَرَى مِنَ الْجَنَّةِ، فَيَرَاهُمَا
كِلَيْهِمَا. فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ: دَعُونِي أُبَشِّرُ أَهْلِي.
فَيُقَالُ لَهُ: اسْكُنْ. وَأَمَّا الْمُنَافِقُ فَيُقْعَدُ إِذَا تَوَلَّى
عَنْهُ أَهْلُهُ، فَيُقَالُ لَهُ: مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا
الرَّجُلِ؟ فَيَقُولُ: لَا أَدْرِي، أَقُولُ كَمَا يَقُولُ النَّاسُ.
فَيُقَالُ لَهُ: لَا دَرَيْتَ، هَذَا مَقْعَدُكَ الَّذِي كَانَ لَكَ فِي
الْجَنَّةِ، قَدْ أُبْدِلْتَ مَكَانَهُ مَقْعَدَكَ مِنَ النَّارِ". قَالَ
جَابِرٌ: فَسَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَقُولُ: "يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ فِي الْقَبْرِ عَلَى مَا مَاتَ،
الْمُؤْمِنُ عَلَى إِيمَانِهِ، وَالْمُنَافِقُ عَلَى نِفَاقِهِ".
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa'id,
dari Ibnu Juraij; telah menceritakan kepadaku Abuz Zubair, bahwa ia
pernah bertanya kepada Jabir ibnu Abdullah tentang fitnah kubur. Maka
Jabir berkata bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw.
bersabda:Sesungguhnya umat ini akan diuji di dalam kuburnya. Apabila
seorang mukmin dimasukkan ke dalam kuburnya dan teman-temannya telah
berpaling meninggalkannya, datanglah kepadanya malaikat yang sangat
bengis. Lalu malaikat bertanya kepadanya, "Apakah yang kamu katakan
sehubungan dengan lelaki ini (maksudnya Nabi Saw.)?" Seorang mukmin akan
menjawab bahwa sesungguhnya dia adalah utusan dan hamba Allah. Maka
malaikat berkata kepadanya, "Lihatlah tempat tinggalmu yang telah
disediakan untukmu di dalam neraka, kini Allah telah menyelamatkan kamu
darinya dan menggantikannya dengan tempat tinggal di surga seperti yang
kamu lihat sekarang.” Dia melihat kedua-duanya. Maka orang mukmin akan
berkata, "Biarkanlah aku menyampaikan berita gembira ini kepada
keluargaku.” Maka dikatakan kepadanya, "Tinggallah kamu di sini!" Adapun
orang munafik, maka ia didudukkan; dan apabila semua keluarganya telah
pergi meninggalkannya, dikatakan kepadanya, "Bagaimanakah pendapatmu
tentang lelaki ini?” Ia menjawab, "Tidak tahu, saya hanya mengatakan
seperti apayang dikatakan oleh orang lain.” Dikatakan kepadanya, "Kamu
tidak tahu, sekarang inilah tempat tinggalmu yang telah disediakan di
surga untukmu, kini telah diganti dengan tempat tinggal di dalam neraka
buatmu.” Jabir mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah Saw.
bersabda:Setiap hamba di dalam kuburnya dibangkitkan sesuai dengan iman
yang dibawanya mati. Orang mukmin berada dalam keimanannya, dan orang
munafik berada dalam kemunafikannya.
Sanad hadis ini sahih dengan syarat Imam Muslim, tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengetengahkannya.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ، حَدَّثَنَا عَبَّادُ
بْنُ رَاشِدٍ، عَنْ دَاوُدَ بْنِ أَبِي هِنْدٍ، عَنْ أَبِي نَضْرَةَ، عَنْ
أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: شَهِدنا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جِنَازَةً، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ هَذِهِ
الْأُمَّةَ تُبتَلى فِي قُبُورِهَا، فَإِذَا الْإِنْسَانُ دُفِنَ
وَتَفَرَّقَ عَنْهُ أَصْحَابُهُ، جَاءَهُ مَلِكٌ فِي يَدِهِ مِطْرَاقٌ
فَأَقْعَدَهُ، قَالَ: مَا تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ؟ فَإِنْ كَانَ
مُؤْمِنًا قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ فَيَقُولُ لَهُ: صَدَقْتَ.
ثُمَّ يَفْتَحُ لَهُ بَابًا إِلَى النَّارِ، فَيَقُولُ: هَذَا كَانَ
مَنْزِلُكَ لَوْ كَفَرْتَ بِرَبِّكَ، فَأَمَّا إِذْ آمَنْتَ فَهَذَا
مَنْزِلُكَ. فَيَفْتَحُ لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ، فَيُرِيدُ أَنْ
يَنْهَضَ إِلَيْهِ، فَيَقُولُ لَهُ: اسْكُنْ. وَيُفْسَحُ لَهُ فِي
قَبْرِهِ". "وَإِنْ كَانَ كَافِرًا أَوْ مُنَافِقًا يَقُولُ لَهُ: مَا
تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ؟ فَيَقُولُ: لَا أَدْرِي، سَمِعْتُ النَّاسَ
يَقُولُونَ شَيْئًا فَيَقُولُ: لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَيْتَ وَلَا
اهْتَدَيْتَ. ثُمَّ يَفْتَحُ لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ، فيقول له: هذا
مَنْزِلُكَ لَوْ آمَنْتَ بِرَبِّكَ، فَأَمَّا إِذْ كَفَرْتَ بِهِ فَإِنَّ
اللَّهَ، عَزَّ وَجَلَّ، أَبْدَلَكَ بِهِ هَذَا. فَيُفْتَحُ لَهُ بَابًا
إِلَى النَّارِ، ثُمَّ يقمَعه قَمْعَةً بِالْمِطْرَاقِ يَسْمَعُهَا خَلْقُ
اللَّهِ، عَزَّ وَجَلَّ، كُلُّهُمْ غَيْرَ الثَّقَلَيْنِ". فَقَالَ بَعْضُ
الْقَوْمِ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا أَحَدٌ يَقُومُ عَلَيْهِ مَلَكٌ فِي
يَدِهِ مِطْرَاقٌ إِلَّا هِيلَ عِنْدَ ذَلِكَ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا
بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ}
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Amir, telah
menceritakan kepada kami Abbad ibnu Rasyid, dari Daud ibnu Abu Hindun,
dari Abu Nadrah, dari Abu Sa'id Al-Khudri yang mengatakan, kami melayat
jenazah seseorang bersama Rasulullah Saw., lalu Rasulullah Saw.
bersabda: Hai manusia, sesungguhnya umat ini akan diuji di dalam
kuburnya. Apabila seseorang telah dikuburkan dan teman-temannya bubar
meninggalkannya, datanglah kepadanya seorang malaikat yang ditangannya
memegang sebuah palu besi, lalu malaikat itu mendudukkannya, dan berkata
kepadanya, "Bagaimanakah menurutmu tentang lelaki ini?” Jika dia
seorang mukmin, maka ia menjawab, "Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan
selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan
utusan-Nya.” Maka malaikat berkata kepadanya, "Kamu benar.” Lalu
dibukakan untuknya sebuah pintu menuju neraka, dan malaikat itu berkata,
"Inilah tempatmu jika kamu kafir kepada Tuhanmu. Tetapi sekarang karena
kamu beriman, maka inilah tempatmu, "Lalu dibukakan untuknya sebuah
pintu yang menuju surga, ketika ia hendak bangkit menuju kepadanya,
dikatakan kepadanya, "Diamlah kamu di sini!" Dan diluaskan baginya
tempat tinggal dalam kuburnya. Jika dia seorang kafir atau seorang
munafik, ketika ditanyakan kepadanya, "Bagaimanakah menurutmu tentang
lelaki ini (Nabi Saw)?” Maka ia menjawab, "Saya tidak tahu, saya hanya
mendengar orang-orang mengatakan sesuatu tentangnya.” Maka berkatalah
malaikat itu, "Kamu tidak tahu, tidak pernah membaca, tidakpernah pula
mencari petunjuk.” Kemudian dibukakan untuknya sebuah pintu menuju
surga, dan malaikat itu berkata kepadanya, "Inilah tempatmu jika kamu
beriman. Tetapi karena sekarang ternyata kamu kafir, maka sesungguhnya
Allah Swt. telah menggantikannya untukmu dengan ini.” Lalu dibukakan
untuknya sebuah pintu menuju neraka, kemudian malaikat itu memukulnya
dengan palu sekali pukul, maka ia menjerit dengan jeritan yang keras,
suara jeritannya terdengar oleh semua makhluk Allah Swt. kecuali jin dan
manusia. Salah seorang di antara mereka (para sahabat) bertanya, "Wahai
Rasulullah, tiada seorang pun yang berdiri di hadapannya seorang
malaikat dengan membawa palu melainkan dia pasti ketakutan saat itu?"
Rasulullah Saw. membacakan firmanya-Nya:Allah meneguhkan (iman)
orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu. (Ibrahim: 27)
Sanad hadis ini tidak ada masalah, karena sesungguhnya Abbad ibnu Rasyid
At-Tamimi adalah seorang yang pernah diriwayatkan oleh Imam Bukhari
secara maqrun (bersamaan), tetapi sebagian ulama menilainya daif.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنِ
ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَطَاءٍ، عَنْ
سَعِيدِ بْنِ يَسَار، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمَيِّتَ تَحْضُرُهُ الْمَلَائِكَةُ،
فَإِذَا كَانَ الرَّجُلُ الصَّالِحُ قَالُوا: اخْرُجِي أَيَّتُهَا
النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ كَانَتْ فِي الْجَسَدِ الطَّيِّبِ، اخْرُجِي
حَمِيدَةً، وَأَبْشِرِي بِرَوْحٍ وَرَيْحَانٍ وَرَبٍّ غَيْرِ غَضْبَانَ".
قَالَ: "فَلَا يَزَالُ يُقَالُ لَهَا ذَلِكَ حَتَّى تَخْرُجَ، ثُمَّ
يُعْرَج بِهَا إِلَى السَّمَاءِ، فَيُسْتَفْتَحُ لَهَا فَيُقَالُ: مَنْ
هَذَا؟ فَيُقَالُ: فَلَانٌ. فَيَقُولُونَ: مَرْحَبًا بِالرُّوحِ
الطَّيِّبَةِ كَانَتْ فِي الْجَسَدِ الطَّيِّبِ، ادْخُلِي حَمِيدَةً،
وَأَبْشِرِي بِرَوْحٍ وَرَيْحَانٍ، وَرَبٍّ غَيْرِ غَضْبَانَ" قَالَ: فَلَا
يَزَالُ يُقَالُ لَهَا ذَلِكَ، حَتَّى يَنْتَهِيَ بِهَا إِلَى السَّمَاءِ
الَّتِي فِيهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ. وَإِذَا كَانَ الرَّجُلُ السُّوءُ
قَالُوا: اخْرُجِي أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ كَانَتْ فِي
الْجَسَدِ الْخَبِيثِ، اخْرُجِي ذَمِيمَةً، وَأَبْشِرِي بِحَمِيمٍ
وغَسَّاق، وَآخَرَ مِنْ شَكْلِهِ أَزْوَاجٍ. فَلَا يَزَالُ يُقَالُ لَهَا
ذَلِكَ حَتَّى تَخْرُجَ، ثُمَّ يُعْرَجُ بِهَا إِلَى السَّمَاءِ،
فَيُسْتَفْتَحُ لَهَا فَيُقَالُ: مَنْ هَذَا؟ فَيُقَالُ: فَلَانٌ،
فَيُقَالُ: لَا مَرْحَبًا بِالنَّفْسِ الْخَبِيثَةِ كَانَتْ فِي الْجَسَدِ
الْخَبِيثِ، ارْجِعِي ذَمِيمَةً، فَإِنَّهُ لَا تُفْتَحُ لَكِ أَبْوَابُ
السَّمَاءِ. فَيُرْسَلُ مِنَ السَّمَاءِ، ثُمَّ يَصِيرُ إِلَى الْقَبْرِ"،
فَيَجْلِسُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَيُقَالُ لَهُ مِثْلَ مَا قِيلَ فِي
الْحَدِيثِ الْأَوَّلِ، وَيَجْلِسُ الرَّجُلُ السُّوءُ فَيُقَالُ لَهُ
مِثْلَ مَا قِيلَ فِي الْحَدِيثِ الْأَوَّلِ.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Husain ibnu
Muhammad, dari Ibnu Abu Zi-b, dari Muhammad ibnu Amr ibnu Ata, dari
Sa'id ibnu Yasar, dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw. yang bersabda: bahwa
sesungguhnya mayat (orang yang sedang menjelang ajalnya) dihadiri oleh
para malaikat. Apabila dia adalah seorang yang saleh, maka
malaikat-malaikat itu berkata, "Hai jiwa yang baik yang berada di dalam
jasad yang baik, keluarlah. Keluarlah kamu dalam keadaan terpuji, dan
bergembiralah kamu dengan ketenteraman, nikmat, dan Tuhan yang tidak
murka." Kalimat itu terus-menerus diucapkan sehingga rohnya keluar,
kemudian dibawa naik ke langit dan dimintakan izin baginya untuk naik.
Maka ditanyakan, "Siapakah yang mau masuk ini?" Maka dijawab, "Orang ini
adalah si Fulan." Para penjaga pintu langit berkata, "Selamat datang
kepada roh yang baik yang berada di dalam jasad yang baik, masuklah kamu
dalam keadaan terpuji, dan bergembiralah dengan ketenteraman dan
nikmat, serta Tuhan yang tidak murka." Kalimat ini terus-menerus
diucapkan kepadanya hingga sampailah ia ke langit yang tertinggi untuk
dihadapkan kepada Allah Swt. Apabila dia adalah seorang yang buruk, maka
malaikat-malaikat itu berkata, "Hai jiwa yang buruk yang berada di
dalam tubuh yang buruk keluarlah kamu dalam keadaan tercela dan
bergembiralah kamu dengan air yang sangat panas dan air yang sangat
dingin serta berbagai azab lain yang serupa itu." Kalimat ini
terus-menerus dikatakan kepadanya hingga ia keluar dari jasadnya.
Kemudian rohnya dibawa naik ke langit. Lalu pintu langit diketuk
untuknya, maka dijawab dengan pertanyaan, "Siapakah orang ini?" Dijawab
bahwa dia adalah si Fulan, dan dikatakan kepadanya, "Tiada selamat
datang bagi jiwa yang buruk yang tadinya berada di dalam jasad yang
buruk. Kembalilah kamu dalam keadaan tercela, karena t sesungguhnya
pintu-pintu langit tidak akan dibuka untukmu!" Maka rohnya dilemparkan
dari langit, dan akhirnya kembali ke kuburnya. Orang yang saleh
didudukkan, dan ditanyakan kepadanya pertanyaan seperti yang disebutkan
pada hadis pertama. Sedangkan orang yang buruk (jahat) didudukkan pula,
lalu ditanyakan kepadanya pertanyaan-pertanyaan seperti yang disebutkan
pada hadis pertama.
Imam Nasai meriwayatkan hadis ini melalui jalur Ibnu Abu Zi-b dengan lafaz yang semisal, begitu pula Imam Ibnu Majah.
Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan sebuah hadis dari Abu Hurairah
r.a. yang mengatakan, "Apabila roh seorang hamba mukmin keluar dari
tubuhnya, maka ia disambut oleh dua malaikat yang langsung membawanya
naik (ke langit)." Hammad mengatakan bahwa di dalam riwayat ini
disebutkan perihal baunya yang sangat harum, disebutkan pula perihal
minyak kesturi. Dilanjutkan bahwa para malaikat penghuni langit berkata,
"Ini adalah roh yang baik yang datang dari bumi, semoga Allah
merahmatimu, juga merahmati jasadmu yang dahulu kamu pakai." Maka
dibawalah ia menghadap kepada Allah swt. Allah Swt. berfirman, "Bawalah
ia pergi sampai akhir masa (kebangkitannya)!" Sesungguhnya orang yang
kafir itu apabila rohnya keluar, Hammad menyebutkan perihal baunya yang
sangat busuk, disebutkan pula dosanya. Maka penduduk langit berkata,
"Ini adalah roh yang buruk yang datang dari bumi." Maka dikatakan,
"Bawalah dia pergi sampai akhir masanya." Abu Hurairah mengatakan seraya
memperagakan bahwa lalu Rasulullah Saw. menutupkan kembali kain kafan
yang tadinya menutupi hidung (si jenazah).
Ibnu Hibban mengatakan di dalam kitab Sahih-nya bahwa:
حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْهَمْدَانِيُّ، حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ
أَخْزَمَ، حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ، حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ
قَتَادَةَ، عَنْ قَسَامَةَ بْنِ زُهَيْرٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلم قال: "إن الْمُؤْمِنَ إِذَا قُبض،
أَتَتْهُ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ بِحَرِيرَةٍ بَيْضَاءَ، فَيَقُولُونَ:
اخْرُجِي إِلَى رَوْحِ اللَّهِ. فَتَخْرُجُ كَأَطْيَبِ رِيحِ مِسْكٍ،
حَتَّى إِنَّهُ لَيُنَاوِلُهُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا يَشُمُّونَهُ حَتَّى
يَأْتُوا بِهِ بَابَ السَّمَاءِ، فَيَقُولُونَ مَا هَذَا الرِّيحُ
الطَّيِّبَةُ الَّتِي جَاءَتْ مِنْ قِبل الْأَرْضِ؟ وَلَا يَأْتُونَ
سَمَاءً إِلَّا قَالُوا مِثْلَ ذَلِكَ، حَتَّى يَأْتُوا بِهِ أَرْوَاحَ
الْمُؤْمِنِينَ، فَلهُم أَشُدُّ فَرَحًا بِهِ مِنْ أَهْلِ الْغَائِبِ
بِغَائِبِهِمْ، فَيَقُولُونَ: مَا فَعَلَ فُلَانٌ؟ فَيَقُولُونَ: دَعُوهُ
حَتَّى يَسْتَرِيحَ، فَإِنَّهُ كَانَ فِي غَمٍّ! فَيَقُولُ: قَدْ مَاتَ،
أَمَا أَتَاكُمْ؟ فَيَقُولُونَ: ذُهب بِهِ إِلَى أُمِّهِ الْهَاوِيَةِ.
وَأَمَّا الْكَافِرُ فَيَأْتِيهِ مَلَائِكَةُ الْعَذَابِ بمسْح
فَيَقُولُونَ: اخْرُجِي إِلَى غَضَبِ اللَّهِ، فَتَخْرُجُ كَأَنْتَنِ رِيحِ
جِيفَةٍ، فَيُذْهَب بِهِ إِلَى بَابِ الْأَرْضِ"
Telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Muhammad Al-Hamdani, telah
menceritakan kepada kami Zaid ibnu Akhram, telah menceritakan kepada
kami Mu'az ibnu Hisyam, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari
Qatadah, dari Qisam ibnu Zuhair, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah
Saw., bahwa sesungguhnya seorang mukmin itu apabila akan dicabut
nyawanya, maka didatangi oleh malaikat rahmat dengan membawa kain sutra
putih. Kemudian malaikat berkata kepadanya, "Keluarlah engkau menuju
kepada nikmat Allah!" Maka keluarlah rohnya dengan menyebarkan bau yang
paling harum dari minyak misk (kesturi), sehingga sebagian dari malaikat
dengan sebagian yang lainnya saling menerimanya seraya menciuminya.
Mereka membawanya sampai di pintu langit, lalu mereka (para malaikat)
yang ada di langit itu berkata, "Bau harum apakah yang datang dari arah
bumi ini?" Tidak sekali-kali mereka mendatangi suatu langit, melainkan
para malaikat yang menghuninya mengatakan hal yang sama. Kemudian mereka
membawanya kepada roh-roh kaum mukmin, dan mereka (arwah kaum mukmin)
benar-benar sangat gembira menyambut kedatangannya, lebih gembira dari
sambutan mereka kepada salah seorang dari mereka yang pergi, lalu
berkumpul dengan mereka kembali. Arwah orang-orang mukmin itu bertanya
kepadanya, "Apakah yang telah dilakukan oleh si Fulan?" Sebagian dari
mereka berkata, "Biarkanlah dia beristirahat, sesungguhnya dia dahulu
dalam keadaan susah." Maka dikatakan, "Dia telah mati, bukankah dia
telah datang kepada kalian?" Sebagian lagi berkata, "Kesusahannya telah
dibuang jauh di dasar bumi." Adapun kalau orang kafir mati, maka ia
didatangi oleh malaikat-malaikat azab dengan membawa karung, lalu mereka
berkata, "Keluarlah kamu menuju kepada murka Allah!" Maka keluarlah
rohnya dengan menyebarkan bau bangkai yang sangat busuk, kemudian ia
dibawa ke pintu bumi (dasar bumi).
Ibnu Hibban telah meriwayatkan pula melalui jalur Hammam ibnu Yahya,
dari Abul Jauza, dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw. hadis yang semisal;
di dalamnya disebutkan bahwa:
قَالَ: "فَيُسأل: مَا فَعَلَ فُلَانٌ، مَا فَعَلَ فَلَانٌ؟ مَا فَعَلَتْ
فُلَانَةُ؟ " قَالَ: "وَأَمَّا الْكَافِرُ فَإِذَا قُبضت نَفْسُهُ، وذُهب
بِهَا إِلَى بَابِ الْأَرْضِ تَقُولُ خَزَنَةُ الْأَرْضِ: مَا وَجَدْنَا
رِيحًا أَنْتَنَ مِنْ هَذِهِ. فَيُبْلَغُ بِهَا الْأَرْضُ السُّفْلَى"
lalu ia ditanya, "Apakah yang telah dilakukan oleh si Fulan, si Anu, dan
si Fulanah?" Adapun orang kafir, apabila nyawanya telah dicabut, maka
rohnya dibawa ke dasar bumi. Dan para malaikat penjaga bumi berkata,
"Kami belum pernah mencium bau yang lebih busuk daripada ini," hingga
sampailah rohnya ke dasar bumi yang paling bawah.
Qatadah mengatakan, telah menceritakan kepadaku seorang lelaki, dari
Sa'id ibnul Musayyab, dari Abdullah ibnu Amr yang mengatakan bahwa arwah
orang-orang mukmin dikumpulkan di Al-Jabiyin, sedangkan arwah
orang-orang kafir dikumpulkan di Barhut, yaitu suatu rawa yang ada di
Hadramaut, kemudian kuburannya dipersempit (yakni menjepitnya).
قَالَ الْحَافِظُ أَبُو عِيسَى التِّرْمِذِيُّ، رَحِمَهُ اللَّهُ:
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ خَلَفٍ، حَدَّثَنَا بِشْرِ بْنِ الْمُفَضَّلِ،
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ إِسْحَاقَ، عَنْ سَعِيدُ بْنُ أَبِي سَعِيدٍ
المقْبرُي، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِذَا قُبِرَ الْمَيِّتُ -أَوْ قَالَ:
أَحَدُكُمْ -أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ يُقَالُ
لِأَحَدِهِمَا: الْمُنْكَرُ، وَالْآخِرُ: النَّكِيرُ، فَيَقُولَانِ: مَا
كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ؟ فَيَقُولُ مَا كَانَ يَقُولُ: هُوَ
عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. فَيَقُولَانِ: قَدْ
كُنَّا نَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُولُ هَذَا. ثُمَّ يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ
سَبْعُونَ ذِرَاعًا فِي سَبْعِينَ. ثُمَّ يُنَوَّرُ لَهُ فِيهِ، ثُمَّ
يُقَالُ لَهُ: نَمْ. فَيَقُولُ: أَرْجِعُ إِلَى أَهْلِي فَأُخْبِرُهُمْ،
فَيَقُولَانِ: نَمْ نومةَ الْعَرُوسِ الَّذِي لَا يُوقِظُهُ إِلَّا أحَبَّ
أَهْلِهِ إِلَيْهِ، حَتَّى يَبْعَثَهُ اللَّهُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ.
وَإِنْ كَانَ مُنَافِقًا قَالَ: سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ فَقُلْتُ
مَثَلَهُمْ، لَا أَدْرِي. فَيَقُولَانِ: قَدْ كُنَّا نَعْلَمُ أنك تَقُولُ
ذَلِكَ، فَيُقَالُ لِلْأَرْضِ: الْتَئِمِي عَلَيْهِ. فَتَلْتَئِمُ
عَلَيْهِ، فَتَخْتَلِفُ أَضْلَاعُهُ، فَلَا يَزَالُ فِيهَا مُعَذَّبًا
حَتَّى يَبْعَثَهُ اللَّهُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ"
Al-Hafiz Abu Isa At-Turmuzi mengatakan, telah menceritakan kepada kami
Yahya ibnu Khalaf, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnul Mufaddal,
dari Abdur Rahman, dari Sa'id ibnu Abu Sa'id Al-Maqbari, dari Abu
Hurairah yang mengatakan, "Rasulullah Saw. telah bersabda bahwa: apabila
mayat telah dikuburkan, atau seseorang di antara kalian dikuburkan,
maka didatangi oleh dua malaikat yang hitam lagi biru; salah satunya
disebut Munkar, dan yang lainnya Nakir. Keduanya berkata, 'Bagaimanakah
pendapatmu tentang lelaki ini?' Maka ia menjawab, 'Dia adalah hamba dan
utusan Allah. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan saya
bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.' Keduanya berkata,
'Sesungguhnya kami mengetahui bahwa kamu pasti akan mengatakan itu.'
Kemudian diluaskan baginya kuburan tempat tinggalnya seluas tujuh puluh
hasta, dan diberi cahaya di dalamnya, lalu dikatakan kepadanya,
'Tidurlah kamu.' Tetapi ia menjawab, 'Saya mau kembali kepada keluarga
saya untuk memberitahukan kepada mereka.' Keduanya berkata, 'Tidurlah
kamu seperti tidurnya pengantin, yang tiada orang yang membangunkannya
melainkan hanya istri yang dicintainya,' hingga Allah membangunkannya
hidup kembali dari tempat tidurnya itu. Jika dia adalah orang munafik,
maka jawaban yang dikatakannya adalah, 'Saya mendengar orang-orang
mengatakan sesuatu, maka saya mengatakan seperti apa yang dikatakan
mereka, tetapi saya tidak tahu.' Keduanya berkata, 'Sesungguhnya kami
mengetahui bahwa kamu pasti akan mengatakan demikian.' Maka dikatakan
kepada bumi, 'Jepitlah dia!' Lalu bumi menjepitnya sehingga
tulang-tulang iganya berantakan. Dia terus-menerus dalam keadaan
tersiksa di dalam kuburnya hingga Allah membangkitkannya dari tempat
tidurnya itu."
Sesudah mengetengahkan hadis ini Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini berpredikat hasan garib.
قَالَ حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو، عَنْ أَبِي
سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا
بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ} قَالَ:
"ذَاكَ إِذَا قِيلَ لَهُ فِي الْقَبْرِ: مَنْ رَبُّكَ؟ وَمَا دِينُكَ؟
فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللَّهُ، وَدِينِيَ الْإِسْلَامُ، وَنَبِيِّي
مُحَمَّدٌ، جَاءَنَا بِالْبَيِّنَاتِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ، فَآمَنْتُ بِهِ
وَصَدَّقْتُ. فَيُقَالُ لَهُ: صَدَقْتَ، عَلَى هَذَا عِشْتَ، وَعَلَيْهِ
مِتَّ، وَعَلَيْهِ تُبْعَثُ"
Hammad ibnu Salamah telah meriwayatkan dari Muhammad ibnu Amr, dari Abu
Salamah, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw.
membacakan firman-Nya: Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman
dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.
(Ibrahim: 27) Kemudian Rasulullah Saw. bersabda: Demikian itu apabila
ditanyakan kepadanya di dalam kuburnya, "Siapakah Tuhanmu, apa agamamu,
dan siapakah Nabi (panutanmu)?" Maka ia (orang mukmin)akan menjawab,
"Allah adalah Tuhanku, Islam agamaku, dan Nabi (panutanku) adalah
Muhammad; dia telah datang kepada kami dengan membawa bukti-bukti dari
sisi Allah, lalu saya beriman kepadanya dan membenarkannya.” Maka
dikatakan kepadanya, "Kamu benar. Memang kamu hidup, mati, dan
dibangkitkan dalam keadaan berpegangan kepada hal tersebut.”
قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنَا مُجَاهِدُ بْنُ مُوسَى وَالْحَسَنُ بْنُ
مُحَمَّدٍ قَالَا حَدَّثَنَا يَزِيدُ، أَنْبَأَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو،
عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أبي هريرة إِنَّ الْمَيِّتَ لَيَسْمَعُ خَفْقَ
نِعَالِهِمْ حِينَ يُوَلُّونَ عَنْهُ مُدْبِرِينَ، فَإِذَا كَانَ مُؤْمِنًا
كَانَتِ الصَّلَاةُ عِنْدَ رَأْسِهِ، وَالزَّكَاةُ عَنْ يَمِينِهِ،
وَالصِّيَامُ عَنْ يَسَارِهِ، وَكَانَ فِعْلُ الْخَيْرَاتِ مِنَ
الصَّدَقَةِ وَالصِّلَةِ وَالْمَعْرُوفِ وَالْإِحْسَانِ إِلَى النَّاسِ
عِنْدَ رِجْلَيْهِ، فَيُؤْتَى مِنْ عِنْدِ رَأْسِهِ فَتَقُولُ الصَّلَاةُ:
مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ، فَيُؤْتَى مِنْ عَنْ يَمِينِهِ فَتَقُولُ
الزَّكَاةُ: مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ. فَيُؤْتَى عَنْ يَسَارِهِ فَيَقُولُ
الصِّيَامُ: مَا قِبَلي مَدخَلٌ. فَيُؤْتَى مِنْ عِنْدِ رِجْلَيْهِ
فَيَقُولُ فِعْلُ الْخَيِّرَاتِ: مَا قِبَلي مَدْخَلٌ. فَيُقَالُ لَهُ
اجْلِسْ. فَيَجْلِسُ، قَدْ تَمثّلت لَهُ الشَّمْسُ، قَدْ دَنَتْ
لِلْغُرُوبِ، فَيُقَالُ لَهُ أَخْبِرْنَا عَمَّا نَسْأَلُكَ. فَيَقُولُ:
دَعُونِي حَتَّى أُصَلِّيَ. فَيُقَالُ: إِنَّكَ سَتَفْعَلُ، فَأَخْبِرْنَا
عَمَّا نَسْأَلُكَ. فَيَقُولُ: وعَمَّ تَسْأَلُونِي؟ فَيُقَالُ: أَرَأَيْتَ
هَذَا الرَّجُلَ الَّذِي كَانَ فِيكُمْ، مَاذَا تَقُولُ فِيهِ، وَمَاذَا
تَشْهَدُ بِهِ عَلَيْهِ؟ فَيَقُولُ: أَمُحَمَّدٌ؟ فَيُقَالُ لَهُ: نَعَمْ.
فَيَقُولُ: أَشْهَدُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ، وَأَنَّهُ جَاءَنَا
بِالْبَيِّنَاتِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ، فَصَدَّقْنَاهُ. فَيُقَالُ لَهُ:
عَلَى ذَلِكَ حَييتَ، وَعَلَى ذَلِكَ مِتَّ، وَعَلَى ذَلِكَ تُبْعَثُ إِنْ
شَاءَ اللَّهُ. ثُمَّ يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ سَبْعُونَ ذِرَاعًا
ويُنَوَّر لَهُ فِيهِ، وَيُفْتَحُ لَهُ بَابٌ إِلَى الْجَنَّةِ، فَيُقَالُ
لَهُ: انْظُرْ إِلَى مَا أَعَدَّ اللَّهُ لَكَ فِيهَا. فَيَزْدَادُ
غِبْطَةً [وَسُرُورًا] ثُمَّ يُجْعَلُ نَسَمُهُ فِي النَّسَمِ الطَّيِّبِ،
وَهِيَ طَيْرٌ خُضْرٌ تُعَلَّقُ بِشَجَرِ الْجَنَّةِ، وَيُعَادُ الْجَسَدُ
إِلَى مَا بُدِئَ مِنْهُ مِنَ التُّرَابِ"، وَذَلِكَ قَوْلُ اللَّهِ:
{يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي
الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ}
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mujahid ibnu Musa
dan Al-Hasan ibnu Muhammad, keduanya mengatakan bahwa telah menceritakan
kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Amr,
dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi Saw. yang telah
bersabda: Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman
kekuasaannya, sesungguhnya mayat benar-benar mendengar suara terompah
kalian saat kalian pulang meninggalkannya. Jika dia seorang mukmin, maka
salat berada di kepalanya, zakat di sebelah kanannya, puasa di sebelah
kirinya, dan amal kebajikan seperti sedekah, silaturahmi, amal makruf
dan berbuat kebajikan kepada orang lain berada di kakinya. Maka ia
didatangi (disiksa) dari arah kepalanya, tetapi salat berkata, "Dari
arahku tidak ada jalan masuk.” Ia didatangi dari arah kanannya, maka
zakat berkata, "Dari arahku tidak ada jalan masuk.” Ia didatangi dari
arah kirinya, maka puasa berkata, "Dari arahku tidak ada jalan masuk.”
Ia didatangi dari arah kedua kakinya, maka amal-amal kebaikannya
mengatakan, "Dari arahku tidak ada jalan masuk.” Maka dikatakan
kepadanya, "Duduklah!" Maka duduklah ia, sedangkan matahari ditampakkan
kepadanya dalam keadaan mendekati terbenam. Kemudian dikatakan
kepadanya, "Jawablah terlebih dahulu apa yang akan kami tanyakan
kepadamu!" Maka ia menjawab, "Biarkanlah aku salat dahulu.” Dan
dikatakan kepadanya, "Sesungguhnya kamu pasti akan melakukannya, tetapi
jawablah terlebih dahulu apa yang akan kami tanyakan kepadamu.” Ia balik
bertanya, "Apakah yang akan kalian tanyakan kepadaku?” Dikatakan
kepadanya, "Kamu tentu mengenal lelaki yang ada di antara kalian ini
(yakni Nabi Saw.). Bagaimanakah pendapatmu tentang dia dan apakah yang
kamu persaksikan terhadapnya?" Maka ia berkata, "Apakah Muhammad?”
Dikatakan kepadanya, "Benar.” Maka ia berkata, "Saya bersaksi bahwa dia
adalah utusan Allah, dan sesungguhnya dia telah datang kepada kami
dengan membawa bukti-bukti dari sisi Allah, maka kami membenarkannya.”
Dan dikatakan kepadanya, "Itulah peganganmu selama hidupmu, dan itulah
yang kamu pegang saat kamu mati, dan dengan itu pula kamu akan
dibangkitkan, insya Allah.” Kemudian diluaskan baginya tempat di
kuburnya seluas tujuh puluh hasta, dan diberikan cahaya buatnya di dalam
kuburnya, serta dibukakan baginya sebuah pintu yang menuju ke surga.
Lalu dikatakan kepadanya, "Lihatlah apa yang telah disediakan oleh Allah
buatmu di dalam surga itu.” Maka makin bertambahlah kebahagiaan dan
kegembiraannya, kemudian rohnya diletakkan di dalam perut burung surga
yang bergantung di pepohonan surga, sedangkan jasadnya dikembalikan ke
dalam bentuk semula, yaitu tanah. Yang demikian itulah yang disebutkan
oleh Allah Swt. di dalam firman-Nya: Allah meneguhkan (iman) orang-orang
yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan
di akhirat. (Ibrahim: 27)
Ibnu Hibban meriwayatkan hadis ini melalui jalur Al-Mu'tamir ibnu
Sulaiman, dari Muhammad ibnu Umar; dan di dalam riwayatnya disebutkan
jawaban orang kafir dan azab yang diterimanya.
قَالَ الْبَزَّارُ: حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ بَحْرٍ الْقَرَاطِيسِيُّ،
حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ الْقَاسِمِ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ كَيْسان،
عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ -أحسَبه رَفَعَهُ-قَالَ: "إِنَّ
الْمُؤْمِنَ يَنْزِلُ بِهِ الْمَوْتُ، وَيُعَايِنُ مَا يُعَايِنُ،
فَيَوَدُّ لَوْ خَرَجَتْ -يَعْنِي نفسُه -وَاللَّهُ يُحِبُّ لِقَاءَهُ،
وَإِنَّ الْمُؤْمِنَ يُصْعَدُ بِرُوحِهِ إِلَى السَّمَاءِ، فَتَأْتِيهِ
أَرْوَاحُ الْمُؤْمِنِينَ، فَتَسْتَخْبِرُهُ عَنْ مَعَارِفِهِمْ مِنْ
أَهْلِ الْأَرْضِ، فَإِذَا قَالَ: تَرَكْتُ فُلَانًا فِي الْأَرْضِ
أَعْجَبَهُمْ ذَلِكَ. وَإِذَا قَالَ: إِنَّ فُلَانًا قَدْ مَاتَ، قَالُوا:
مَا جِيءَ بِهِ إِلَيْنَا. وَإِنَّ الْمُؤْمِنَ يَجْلِسُ فِي قَبْرِهِ،
فَيُسْأَلُ: مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللَّهُ وَيُسْأَلُ: مَنْ
نَبِيُّكَ؟ فَيَقُولُ: مُحَمَّدٌ نَبِيِّي فَيُقَالُ: مَاذَا دِينُكَ؟
قَالَ: دِينِيَ الْإِسْلَامُ. فَيُفْتَحُ لَهُ بَابٌ فِي قَبْرِهِ،
فَيَقُولُ -أَوْ: يُقَالُ -انْظُرْ إِلَى مَجْلِسِكَ. ثُمَّ يَرَى
الْقَبْرَ فَكَأَنَّمَا كَانَتْ رَقْدَة. وَإِذَا كَانَ عَدُو اللَّهِ
نَزلَ بِهِ الْمَوْتُ وَعَايَنَ مَا عَايَنَ، فَإِنَّهُ لَا يُحِبُّ أَنْ
تَخْرُجَ رُوحُهُ أَبَدًا، وَاللَّهُ يَبْغَضُ لِقَاءَهُ، فَإِذَا جَلَسَ
فِي قَبْرِهِ -أَوْ: أُجْلِسَ -يُقَالُ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: لَا
أَدْرِي. فَيُقَالُ: لَا دَرَيْتَ. فَيُفْتَحُ لَهُ بَابٌ مِنْ جَهَنَّمَ،
ثُمَّ يُضْرَبُ ضَرْبَةً يَسْمَعُهَا كُلُّ دَابَّةٍ إِلَّا
الثِّقَلَيْنِ، ثُمَّ يُقَالُ لَهُ: نَمْ كَمَا يَنَامُ الْمَنْهُوشُ".
قُلْتُ لِأَبِي هُرَيْرَةَ: مَا الْمَنْهُوشُ؟ قَالَ: الَّذِي تَنْهَشُهُ
الدَّوَابُّ وَالْحَيَّاتُ، ثُمَّ يُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ.
Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Bahr
Al-Qaratisi, telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnul Qasim, telah
menceritakan kepada kami Yazid ibnu Kaisan, dari Abu Hazim, dari Abu
Hurairah. Al-Bazzar menduga bahwa Abu Hurairah me-rafa'-kan hadis ini.
Disebutkan bahwa: sesungguhnya orang mukmin itu akan ditimpa kematian
dan akan menyaksikan apa yang akan disaksikannya, maka ia menginginkan
seandainya rohnya keluar (dengan segera) dan Allah suka bersua
dengannya. Sesungguhnya orang mukmin itu dinaikkan rohnya ke langit,
lalu ia didatangi oleh arwah orang-orang mukmin (lainnya), dan mereka
menanyainya tentang kenalan-kenalan mereka dari kalangan penduduk bumi.
Apabila ia menjawab bahwa ia meninggalkan si Fulan di bumi, maka berita
itu membuat mereka kagum. Tetapi apabila ia menjawab bahwa si Fulan
telah mati, maka mereka bertanya, "Mengapa dia tidak didatangkan kepada
kita?" Dan sesungguhnya orang mukmin itu didudukkan di dalam kuburnya,
lalu ditanya, "Siapakah Tuhanmu?" Maka ia menjawab, "Allah adalah
Tuhanku." Ditanyakan pula "Siapakah Nabi (panutan)mu?" Ia menjawab,
"Muhammad adalah Nabi (panutan)ku." Lalu ditanyakan, "Apakah agamamu?"
Ia menjawab, "Islam adalah agamaku." Maka dibukakan baginya sebuah pintu
di dalam kuburnya —atau dikatakan— lihatlah tempat dudukmu. Kemudian
dia melihat kuburnya seakan-akan merupakan tempat tidur. Apabila dia
adalah musuh Allah dan kematian menimpanya, lalu ia menyaksikan apa yang
disaksikannya, maka sesungguhnya dia membenci rohnya sendiri dan Allah
tidak suka bersua dengannya. Apabila ia duduk atau didudukkan di dalam
kuburnya, ia ditanya, "Siapakah Tuhanmu?" Maka ia menjawab, "Tidak
tahu." Dikatakan, "Kamu tidak tahu." Lalu dibukakan untuknya sebuah
pintu yang menuju neraka Jahannam, kemudian ia dipukul dengan pukulan
yang keras yang suara (jeritan)nya terdengar oleh semua makhluk hidup
kecuali manusia dan jin. Kemudian dikatakan kepadanya, "Tidurlah kamu
sebagaimana tidurnya orang yang digigiti." Saya bertanya kepada Abu
Hurairah, "Apakah yang dimaksud dengan orang yang digigiti?" Abu
Hurairah menjawab, "Orang yang digigiti oleh hewan buas dan ular." Lalu
ia dijepit oleh kuburannya.
Kemudian perawi mengatakan, "Kami tidak mengetahui ada seseorang yang meriwayatkan hadis ini kecuali Al-Walid ibnu Muslim."
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ، رَحِمَهُ اللَّهُ: حَدَّثَنَا حُجَين بْنُ
الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي سَلَمَةَ
الْمَاجِشُونُ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ المُنكَدِر قَالَ: كَانَتْ أَسْمَاءُ
-يَعْنِي بِنْتَ الصِّدِّيقِ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، تُحَدِّثُ عَنِ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ: قَالَ: "إِذَا
دَخَلَ الْإِنْسَانُ قَبْرَهُ، فَإِنْ كَانَ مُؤْمِنًا أحَفّ بِهِ عملُه:
الصلاةُ وَالصِّيَامُ"، قَالَ: "فَيَأْتِيهِ الْمَلَكُ مِنْ نَحْوِ
الصَّلَاةِ فَتَرُدُّهُ، وَمِنْ نَحْوِ الصِّيَامِ فَيَرُدُّهُ"، قَالَ:
"فَيُنَادِيهِ: اجْلِسْ. فَيَجْلِسُ. فَيَقُولُ لَهُ: مَاذَا تَقُولُ فِي
هَذَا الرَّجُلِ؟ يَعْنِي النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
قَالَ: مَنْ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ. قَالَ أَشْهَدُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ،
قَالَ: يَقُولُ: وَمَا يُدْرِيكَ؟ أَدْرَكْتَهُ؟ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّهُ
رَسُولُ اللَّهِ. قَالَ: يَقُولُ: عَلَى ذَلِكَ عشتَ، وَعَلَيْهِ مُتَّ،
وَعَلَيْهِ تبعثُ. وَإِنْ كَانَ فَاجِرًا أَوْ كَافِرًا، جَاءَهُ الْمَلَكُ
لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ شَيْءٌ يَرُدّه، فَأَجْلَسَهُ يَقُولُ:
اجْلِسْ، مَاذَا تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ؟ قَالَ: أَيُّ رَجُلٍ؟ قَالَ:
مُحَمَّدٌ؟ قَالَ: يَقُولُ: وَاللَّهِ مَا أَدْرِي، سَمِعْتُ النَّاسَ
يَقُولُونَ شَيْئًا فَقُلْتُهُ. قَالَ لَهُ الْمَلَكُ: عَلَى ذَلِكَ عشتَ،
وَعَلَيْهِ متَ، وعليه تبعثُ. قَالَ: وتسلَّط عَلَيْهِ دَابَّةٌ فِي
قَبْرِهِ، مَعَهَا سَوْطٌ تَمْرَته جَمرةٌ مِثْلُ غَرْب الْبَعِيرِ،
تَضْرِبُهُ مَا شَاءَ اللَّهُ، صَمَّاءُ لَا تَسْمَعُ صوتَه فترحَمه"
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hujain ibnul
Mutsanna, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnu Abu Salamah
Al-Majisyun, dari Muhammad ibnul Munkadir yang mengatakan bahwa Asma
binti Abu Bakar As-Siddiq r.a. pernah menceritakan hadis dari Nabi Saw.
Nabi Saw. pernah bersabda bahwa: apabila seorang manusia dimasukkan ke
dalam kuburnya, dan jika dia adalah seorang mukmin, maka ia dikelilingi
oleh amalnya, yaitu salat dan puasanya. Maka datanglah malaikat
kepadanya dari arah amal salatnya, tetapi amal salat mengusirnya, dan
malaikat datang dari arah amal puasanya, tetapi amal puasa mengusirnya.
Lalu malaikat menyerunya, "Duduklah!" Maka duduklah ia. Malaikat berkata
kepadanya, "Apakah pendapatmu tentang lelaki ini, maksudnya Nabi Saw.?"
Ia balik bertanya, "Siapa?" Malaikat menjawab, "Muhammad." ia berkata,
"Saya bersaksi bahwa dia adalah utusan Allah." Malaikat bertanya,
"Apakah yang membuatmu tahu, apakah kamu pernah menjumpainya?" Ia
menjawab, "Saya bersaksi bahwa dia adalah utusan Allah." Malaikat
berkata, "Engkau memang menjadikannya sebagai pegangan hidupmu, dan kamu
mati dalam keadaan memegang prinsip ini, serta kelak engkau akan
dibangkitkan dalam keadaan berpegangan kepada keyakinan ini." Jika yang
bersangkutan adalah seorang pendurhaka atau orang kafir, maka datanglah
kepadanya malaikat tanpa ada sesuatu pun antara dia dan orang itu yang
dapat mengusirnya. Lalu malaikat itu menyuruhnya duduk dan bertanya
kepadanya, "Bagaimanakah pendapatmu tentang lelaki ini?" Ia balik
bertanya, "Lelaki yang mana?" Malaikat menjawab, "Muhammad." Ia berkata,
"Demi Allah, saya tidak mengetahui, saya hanya mendengar orang-orang
mengatakan sesuatu (tentang dia), maka saya ikut mengatakannya."
Malaikat berkata, "Itulah pegangan hidupmu, dan itulah yang kamu bawa
mati, serta kelak engkau akan dibangkitkan dalam keadaan berpegang
kepada hal itu." Kemudian di dalam kuburnya ia diserahkan kepada seekor
monster yang membawa sebuah cambuk yang ujungnya adalah bara api,
sedangkan besarnya sama dengan punuk unta. Monster itu memukulnya
menurut apa yang dikehendaki oleh Allah, monster itu tidak dapat
mendengar suara jeritannya agar dia jangan belas kasihan terhadapnya.
Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna ayat
ini, bahwa sesungguhnya seorang mukmin itu apabila menjelang ajalnya
dihadiri oleh para malaikat, lalu mereka mengucapkan salam penghormatan
kepadanya dan menyampaikan berita gembira surga kepadanya. Apabila dia
telah mati, para malaikat itu turut mengiringi jenazahnya dan ikut
menyalatkannya bersama orang-orang yang hadir. Apabila telah dikubur,
maka ia didudukkan di dalam kuburnya, lalu dikatakan kepadanya,
"Siapakah Tuhanmu?" Maka ia menjawab, "Tuhanku adalah Allah." Dikatakan
kepadanya, "Siapakah rasul (panutan)mu?" Ia menjawab, "Muhammad."
Dikatakan kepadanya, "Apakah syahadatmu?" Maka ia menjawab, "Aku
bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa
Muhammad adalah utusan Allah."Maka tempat kuburnya diluaskan buatnya
sejauh mata memandang. Adapun jika orang kafir mati, maka para malaikat
turun kepadanya, lalu mereka memukulinya, seperti yang disebutkan dalam
firman-Nya: seraya memukul muka mereka dan punggung mereka. (Muhammad:
27) Yakni di saat ia mati. Apabila ia telah dimasukkan ke dalam
kuburnya, maka ia didudukkan dan dikatakan kepadanya, "Siapakah
Tuhanku?" Ia tidak dapat menjawab sepatah kata pun kepada
malaikat-malaikat itu, dan Allah membuatnya lupa akan apa yang harus
dikatakannya. Apabila dikatakan kepadanya, "Siapakah rasul yang diutus
kepadamu?" Maka ia tidak mengetahuinya dan tidak dapat menjawab mereka
barang sepatah kata pun. Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang
aniaya.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu
Usman, dari Hakim Al-Audi., telah menceritakan kepada kami Syuraih Ibnu
Muslimah, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Yusuf, dari
ayahnya, dari Abu Ishaq, dari Amir ibnu Sa'd Al-Bajali, dari Abu Qatadah
Al-Ansari sehubungan dengan makna firman-Nya: Allah meneguhkan (iman)
orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di
dunia dan di akhirat. (Ibrahim: 27) hingga akhir ayat. Bahwa
sesungguhnya orang mukmin itu apabila telah mati (dan telah dimakamkan),
maka ia didudukkan di dalam kuburnya dan dikatakan kepadanya, "Siapakah
Tuhanmu?" Ia menjawab, "Allah." Dikatakan lagi kepadanya, "Siapakah
nabi (panutan)mu?" Ia menjawab, "Muhammad ibnu Abdullah." Pertanyaan
tersebut diajukan kepadanya berkali-kali, kemudian dibukakan baginya
sebuah pintu yang menuju ke neraka, lalu dikatakan kepadanya, "Lihatlah
tempatmu di neraka itu seandainya kamu salah dalam jawabanmu." Kemudian
dibukakan baginya sebuah pintu menuju surga, lalu dikatakan kepadanya,
"Lihatlah tempat tinggalmu di surga, karena kamu benar dalam jawabanmu."
Apabila orang kafir mati, maka ia didudukkan di dalam kuburnya, lalu
dikatakan kepadanya, "Siapakah Tuhanmu? Siapakah nabimu?" Ia menjawab,
"Saya tidak tahu, hanya saya mendengar orang-orang mengatakan sesuatu
tentangnya." Dikatakan kepadanya, "Kamu tidak tahu." Kemudian dibukakan
baginya sebuah pintu menuju surga, lalu dikatakan kepadanya, "Lihatlah
tempatmu jika kamu benar dalam jawabanmu." Kemudian dibukakan baginya
sebuah pintu ke neraka, dan dikatakan kepadanya, "Lihatlah tempatmu
sekarang, karena kamu salah dalam jawabanmu." Yang demikian itu adalah
yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya.Allah meneguhkan (iman)
orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan
di dunia dan di akhirat. (Ibrahim: 27) hingga akhir ayat.
Abdur Razzaq telah meriwayatkan dari Ma'mar, dari Ibnu Tawus, dari
ayahnya sehubungan dengan makna firman-Nya: Allah meneguhkan (iman)
orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di
dunia. (Ibrahim: 27) Yakni kalimah "Tiada Tuhan selain Allah".dan di
akhirat. (Ibrahim: 27) Yaitu pertanyaan dalam kubur.
Qatadah mengatakan, "Adapun dalam kehidupan di dunia, maka Allah
meneguhkan mereka dengan kebaikan dan amal saleh, sedangkan dalam
kehidupan di akhirat maksudnya diteguhkan dalam kuburnya." Hal yang sama
telah diriwayatkan oleh kalangan ulama salaf.
Abu Abdullah Al-Hakim At-Turmuzi di dalam kitabnya yang berjudul Nawadirul Usul mengatakan bahwa:
حَدَّثَنَا أَبِي، حدثنا عبد الله بن نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ أَبِي فُدَيْك،
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ
الْمُسَيَّبِ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ: خَرَجَ
عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ
يَوْمٍ، وَنَحْنُ فِي مَسْجِدِ الْمَدِينَةِ، فَقَالَ: "إِنِّي رَأَيْتُ
الْبَارِحَةَ عَجَبًا، رَأَيْتُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي [جَاءَهُ مَلَكُ
الْمَوْتِ لِيَقْبِضَ رُوحَهُ، فَجَاءَهُ برُّه بِوَالِدَيْهِ فَرَدَّ
عَنْهُ. وَرَأَيْتُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي] قَدْ بُسِطَ عَلَيْهِ عَذَابُ
الْقَبْرِ، فَجَاءَهُ وُضوءه فَاسْتَنْقَذَهُ مِنْ ذَلِكَ. وَرَأَيْتُ
رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي [قَدِ] احْتَوَشَتْهُ الشَّيَاطِينُ، فَجَاءَهُ
ذِكْرُ اللَّهِ فَخَلَّصَهُ مِنْ بَيْنِهِمْ. وَرَأَيْتُ رَجُلًا مِنْ
أُمَّتِي قَدِ احْتَوَشَتْهُ مَلَائِكَةُ الْعَذَابِ، فَجَاءَتْهُ
صَلَاتُهُ فَاسْتَنْقَذَتْهُ مِنْ أَيْدِيهِمْ. وَرَأَيْتُ رَجُلًا مِنْ
أُمَّتِي يَلْهَثُ عَطَشًا، كُلَّمَا وَرَدَ حَوْضًا مُنع مِنْهُ،
فَجَاءَهُ صِيَامُهُ فَسَقَاهُ وَأَرْوَاهُ. وَرَأَيْتُ رَجُلًا مِنْ
أُمَّتِي وَالنَّبِيُّونَ قُعُودٌ حلَقا حَلَقًا، وَكُلَّمَا دَنَا
لِحُقَّةٍ طَرَدُوهُ، فَجَاءَهُ اغْتِسَالُهُ مِنَ الْجَنَابَةِ، فَأَخَذَ
بِيَدِهِ فَأَقْعَدَهُ إِلَى جَنْبِي. وَرَأَيْتُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي
[مِنْ] بَيْنِ يَدَيْهِ ظُلْمَةٌ، وَمِنْ خَلْفِهِ ظُلْمَةٌ، وَعَنْ
يَمِينِهِ ظُلْمَةٌ، وَعَنْ شِمَالِهِ ظُلْمَةٌ، وَمِنْ فَوْقِهِ ظُلْمَةٌ،
وَمِنْ تَحْتِهِ ظُلْمَةٌ، وَهُوَ مُتَحَيِّرٌ فِيهَا، فَجَاءَتْهُ
حَجَّتُهُ وَعُمْرَتُهُ، فَاسْتَخْرَجَاهُ مِنَ الظُّلْمَةِ وَأَدْخَلَاهُ
النُّورَ، وَرَأَيْتُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي يُكَلِّمُ الْمُؤْمِنِينَ
فَلَا يُكَلِّمُونَهُ، فَجَاءَتْهُ صلَة الرَّحِمِ، فَقَالَتْ: يَا
مَعْشَرَ الْمُؤْمِنِينَ، كَلِّمُوهُ، فَكَلَّمُوهُ. وَرَأَيْتُ رَجُلًا
مِنْ أُمَّتِي يَتَّقِي وَهَج النَّار أَوْ شَررهَا بِيَدِهِ عَنْ
وَجْهِهِ، فَجَاءَتْهُ صَدَقَتُهُ فَصَارَتْ سِتْرًا عَلَى وَجْهِهِ
وَظِلًّا عَلَى رَأْسِهِ. وَرَأَيْتُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي قَدْ
أَخَذَتْهُ الزَّبَانِيَةُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ، فَجَاءَهُ أَمْرُهُ
بِالْمَعْرُوفِ وَنَهْيُهُ عَنِ الْمُنْكَرِ، فَاسْتَنْقَذَاهُ مِنْ
أَيْدِيهِمْ، وَأَدْخَلَاهُ مَعَ مَلَائِكَةِ الرَّحْمَةِ. وَرَأَيْتُ
رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي جَاثِيًا عَلَى رُكْبَتَيْهِ، بَيْنَهُ وَبَيْنَ
اللَّهِ حِجَابٌ، فَجَاءَهُ حُسْنُ خُلُقه، فَأَخَذَ بِيَدِهِ فَأَدْخَلَهُ
عَلَى اللَّهِ، عَزَّ وَجَلَّ. وَرَأَيْتُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي قَدْ
هَوت صَحِيفَتُهُ مِنْ قِبَلِ شِمَالِهِ، فَجَاءَهُ خَوْفُهُ مِنَ اللَّهِ
فَأَخَذَ صَحِيفَتَهُ، فَجَعَلَهَا فِي يَمِينِهِ. [وَرَأَيْتُ رَجُلًا
مِنْ أُمَّتِي قَدْ خَفَّ مِيزَانُهُ، فَجَاءَتْهُ أَفْرَاطُهُ فَثَقَّلُوا
مِيزَانَهُ] وَرَأَيْتُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي قَائِمًا عَلَى شَفِيرِ
جَهَنَّمَ، فَجَاءَهُ وجَله مِنَ اللَّهِ، فَاسْتَنْقَذَهُ مِنْ ذَلِكَ
وَمَضَى. وَرَأَيْتُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي هَوَى فِي النَّارِ،
فَجَاءَتْهُ دُمُوعُهُ الَّتِي بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ فِي الدُّنْيَا
فَاسْتَخْرَجَتْهُ مِنَ النَّارِ، [وَرَأَيْتُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي
قَائِمًا عَلَى الصِّرَاطِ يُرعَد كَمَا تُرْعَدُ السَّعَفة، فَجَاءَ
حُسْنُ ظَنِّهِ بِاللَّهِ، فسكَّن رِعْدَته، وَمَضَى] وَرَأَيْتُ رَجُلًا
مِنْ أُمَّتِي عَلَى الصِّرَاطِ يَزْحَفُ أَحْيَانًا وَيَحْبُو أَحْيَانًا،
فَجَاءَتْهُ صَلَاتُهُ عليَّ، فَأَخَذَتْ بِيَدِهِ فَأَقَامَتْهُ وَمَضَى
عَلَى الصِّرَاطِ. وَرَأَيْتُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي انْتَهَى إِلَى
أَبْوَابِ الْجَنَّةِ، فَغُلِّقَتِ الْأَبْوَابُ دُونَهُ، فَجَاءَتْهُ
شَهَادَةُ: أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَفَتَحَتْ لَهُ الْأَبْوَابَ
وَأَدْخَلَتْهُ الْجَنَّةَ"
Telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami
Abdullah ibnu Nafi' dari Ibnu Abu Fudaik, dari Abdur Rahman Ibnu
Abdullah, dari Sa'id ibnul Musayyab, dari Abdur Rahman Ibnu Samurah yang
mengatakan bahwa pada suatu hari ketika kami berada di dalam masjid
Madinah,Rasulullah saw, keluar menemui kami, lalu beliau bersabda:
Sesungguhnya tadi malam aku melihat dalam mimpiku suatu peristiwa yang
menakjubkan. Aku melihat seorang lelaki dari kalangan umatku didatangi
oleh malaikat maut untuk mencabut nyawanya, maka datanglah kepada lelaki
itu amal Birrul Walidain (berbakti kepada kedua orang tua)nya, dan
mengusir malaikat maut darinya. Dan aku melihat lelaki lain dari
kalangan umatku, sedangkan azab kubur telah digelarkan untuknya, tetapi
datanglah kepadanya amal wudunya dan menyelamatkan lelaki itu dari
siksaan tersebut. Aku melihat seorang lelaki lain dari kalangan umatku
dalam keadaan dikerumuni oleh setan-setan, tetapi datanglah kepadanya
amal zikrullah-nya,maka amalnya itu menyelamatkannya dari setan-setan
tersebut. Aku melihat seorang lelaki lain dari kalangan umatku yang
telah dikerumuni oleh malaikat-malaikat juru siksa, tetapi datanglah
kepadanya amal salatnya, lalu amal salatnya itu menyelamatkan dia dari
tangan meraka. Aku melihat seorang lelaki lain dari kalangan umatku,
yang menjulur-julurkan lidahnya karena kehausan, setiap kali ia
mendatangi suatu telaga, dilarang; kemudian datanglah kepadanya amal
puasanya, maka amal puasa itu memberinya minum hingga ia segar. Aku
melihat seorang lelaki lain dari kalangan umatku, saat itu para nabi
sedang duduk-duduk membentuk lingkaran-lingkaran, setiap kali ia
mendekati salah satu dari lingkaran (halqah) meraka, maka mereka
mengusirnya. Kemudian datanglah kepadanya amal mandi jinabahnya, lalu
amalnya itu membawanya duduk di sebelahku. Aku melihat seorang lelaki
dari kalangan umatkuyang di depannya terdapat kegelapan, di belakangnya
terdapat kegelapan, di sebelah kanannya terdapat kegelapan, di sebelah
kirinya terdapat kegelapan, di atasnya terdapat kegelapan, dan di
bawahnya terdapat kegelapan, sedangkan dia dalam keadaan bingung di
dalam kegelapannya itu. Kemudian datanglah kepadanya amal haji dan
umrahnyajalu keduanya menyelamatkan dia dari kegelapan itu dan
memasukkannya ke dalam cahaya. Aku melihat seorang lelaki dari kalangan
umatku yang mengajak bicara dengan orang-orang mukmin, tetapi mereka
tidak mau berbicara dengannya. Maka datanglah kepadanya amal
silaturahminya, lalu amalnya berkata, "Hai golongan orang-orang mukmin,
berbicaralah kalian kepadanya!" Maka mereka mau berbicara dengannya. Aku
melihat seorang lelaki dari kalangan umatkuyang melindungi mukanya dari
tamparan panas neraka dan percikan apinya dengan tangannya, kemudian
datanglah kepadanya amal sedekahnya, maka amal sedekahnya itu menjadi
pelindung dirinya dan menjadi naungan di atas kepalanya. Aku melihat
seorang lelaki dari kalangan umatku yang telah dikepung oleh
malaikat-malaikat Zabaniyah (juru siksa), Kemudian datanglah kepadanya
amal amar makruf nahi munkar-nya, lalu amalnya itu menyelamatkan dia
dari tangan mereka dan memasukkannya ke dalam lindungan
malaikat-malaikat rahmat. Aku melihat seorang lelaki dari kalangan
umatku dalam keadaan bersideku di atas kedua lututnya, antara dia dan
Allah terdapat hijab penghalang. Maka datanglah kepadanya kebaikan
akhlaknya, lalu amal kebaikan akhlaknya itu membimbingnya dan
memasukkannya ke dalam haribaan Allah Swt. Aku melihat seorang lelaki
dari kalangan umatkuyang buku catatan amalnya diberikan dari sebelah
kirinya, kemudian datanglah kepadanya amal takutnya kepada Allah, lalu
amalnya itu mengambil buku catatan amalnya dan menjadikannya berada di
sebelah kanannya. Aku melihat seorang lelaki dari kalangan umatku yang
neraca amalnya diringankan, kemudian datanglah anak-anaknya, yang mati
sebelum balig maka menjadi beratlah timbangan amalnya berkat mereka.Aku
melihat seorang lelaki dari kalangan umatkuyang sedang berdiri di tepi
neraka Jahannam, kemudian datanglah kepadanya amal malunya kepada Allah,
lalu amalnya itu menyelamatkan dia dari tempat itu dan membawanya pergi
jauh darinya. Aku melihat seorang lelaki dari kalangan umatku
dijerumuskan ke dalam neraka, kemudian datanglah kepadanya amal
tangisannya karena takut kepada Allah di dunia, lalu amalnya itu
menyelamatkan dia dari neraka. Aku melihat seorang lelaki dari kalangan
umatku sedang berdiri di atas sirat dalam keadaan menggigil (ketakutan)
seperti anak domba, maka datanglah kepadanya amal baik prasangka kepada
Allah, lalu menenangkan ketakutannya dan membawanya berlalu. Aku melihat
seorang lelaki dari kalangan umatku berada di atas sirat, terkadang
merangkak dan terkadang mengesot, kemudian datanglah kepadanya amal
membaca salawat buatku, lalu amalnya membimbingnya dan menegakkannya,
lalu membawanya berlalu di atas sirat. Aku melihat seorang lelaki dari
kalangan umatku yang telah sampai di pintu surga, tetapi pintu surga
semuanya ditutup untuknya, kemudian datanglah kepadanya bacaan
syahadatnya yang menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Maka
dibukalah untuknya semua pintu surga, lalu amalnya memasukkannya ke
dalam surga.
Setelah mengetengahkan hadis ini dari jalur yang telah disebutkan di
atas, Al-Qurtubi mengatakan bahwa hadis ini adalah hadis yang agung, di
dalamnya disebutkan amalan-amalan khusus yang dapat menyelamatkan
pelakunya dari siksa-siksa tertentu. Demikianlah pula bunyi lafaz hadis
yang diketengahkan oleh Al-Qurtubi di dalam kitab Tazkirah-nya.
Sehubungan dengan hal ini Al-Hafiz Abu Ya'la Al-Mausuli telah
meriwayatkan sebuah hadis garib yang cukup panjang. Dia mengatakan:
حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ أَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ النُّكْرِي،
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ الْبُرْسَانِيُّ أَبُو عُثْمَانَ،
حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ الْحَبَطِيُّ -وَكَانَ مِنْ خِيَارِ أَهْلِ
الْبَصْرَةِ، وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ حَزْمٍ، وَسَلَّامِ بْنِ أَبِي
مُطِيعٍ -حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ خُنَيْسٍ، عَنْ ضِرَارِ بْنِ عَمْرٍو،
عَنْ يَزِيدَ الرَّقَاشِيِّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ تَمِيمٍ
الدَّارِيِّ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
"يَقُولُ اللَّهُ، عَزَّ وَجَلَّ، لِمَلَكِ الْمَوْتِ: انْطَلِقْ إِلَى
وَلِيِّي فَأْتِنِي بِهِ، فَإِنِّي قَدْ ضَربته بِالسَّرَّاءِ
وَالضَّرَّاءِ، فَوَجَدْتُهُ حَيْثُ أُحِبُّ. ائْتِنِي بِهِ فَلأريحنَّه.
فَيَنْطَلِقُ إِلَيْهِ مَلَكُ الْمَوْتِ وَمَعَهُ خَمْسُمِائَةٍ مِنَ
الْمَلَائِكَةِ، مَعَهُمْ أَكْفَانٌ وحَنُوط مِنَ الْجَنَّةِ، وَمَعَهُمْ
ضَبَائِرُ الرَّيْحَانِ، أَصِلُ الرَّيْحَانَةِ وَاحِدٌ وَفِي رَأْسِهَا
عِشْرُونَ لَوْنًا، لِكُلِّ لَوْنٍ مِنْهَا رِيحٌ سِوَى رِيحِ صَاحِبِهِ،
وَمَعَهُمُ الْحَرِيرُ الْأَبْيَضُ فِيهِ الْمِسْكُ الْأَذْفَرُ.
فَيَجْلِسُ مَلَكُ الْمَوْتِ عِنْدَ رَأْسِهِ، وَتَحِفُّ بِهِ
الْمَلَائِكَةُ. وَيَضَعُ كُلُّ مَلَكٍ مِنْهُمْ يَدَهُ عَلَى عُضْوٍ مِنْ
أَعْضَائِهِ ويَبْسط ذَلِكَ الْحَرِيرَ الْأَبْيَضَ وَالْمِسْكَ الأذفَر
تَحْتَ ذَقْنِهِ، ويفتَح لَهُ بابٌ إِلَى الْجَنَّةِ، فَإِنَّ نَفْسَهُ
لَتَعلَّلُ عِنْدَ ذَلِكَ بِطَرَفِ الْجَنَّةِ تَارَةً، وَبِأَزْوَاجِهَا
[مَرَّةً] ومرَّةً بِكِسْوَاتِهَا وَمَرَّةً بِثِمَارِهَا، كَمَا يُعَلّل
الصَّبِيُّ أَهْلَهُ إِذَا بَكَى". قَالَ: "وَإِنَّ أَزْوَاجَهُ
لَيَبْتَهِشْنَ عِنْدَ ذَلِكَ ابْتِهَاشًا". قَالَ: "وَتَنْزُو الرُّوحُ".
قَالَ البُرْسَاني: يُرِيدُ أَنْ تَخْرُجَ مِنَ العَجَل إِلَى مَا تُحِبُّ.
قَالَ: "وَيَقُولُ مَلَك الْمَوْتِ: اخْرُجِي يَا أَيَّتُهَا الرُّوحُ
الطَّيِّبَةُ، إِلَى سِدْرٍ مَخْضُودٍ، وَطَلْحٍ مَنْضُودٍ، وَظِلٍّ
مَمْدُودٍ، وَمَاءٍ مَسْكُوبٍ". قَالَ: "ولَمَلَك الْمَوْتِ أَشَدُّ بِهِ
لُطْفًا مِنَ الْوَالِدَةِ بِوَلَدِهَا، يَعْرِفُ أَنَّ ذَلِكَ الرُّوحَ
حَبِيبٌ لِرَبِّهِ، فَهُوَ يَلْتَمِسُ بِلُطْفِهِ تَحَبُّبًا لَدَيْهِ
رِضَاءً لِلرَّبِّ عَنْهُ، فتُسَلُّ رُوحُهُ كَمَا تُسَلُّ الشَّعْرَةُ
مِنَ الْعَجِينِ". قَالَ: "وَقَالَ اللَّهُ، عَزَّ وَجَلَّ: {الَّذِينَ
تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلائِكَةُ طَيِّبِينَ} [النَّحْلِ: 32] ، وَقَالَ
{فَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّةُ
نَعِيمٍ} [الْوَاقِعَةِ: 88، 89] ، قَالَ: "رَوْحٌ مِنْ جِهَةِ الْمَوْتِ،
وَرَيْحَانٌ يُتَلَقَّى بِهِ، وَجَنَّةُ نَعِيمٍ تُقَابِلُهُ". قَالَ:
"فَإِذَا قَبض مَلَكُ الْمَوْتِ رُوحَهُ، قَالَتِ الرُّوحُ لِلْجَسَدِ:
جَزَاكَ اللَّهُ عَنِّي خَيْرًا، فَقَدْ كُنْتَ سَرِيعًا بِي إِلَى طَاعَةِ
اللَّهِ، بَطِيئًا بِي عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ، فَقَدْ نَجَيْتَ
وَأَنْجَيْتَ". قَالَ: "وَيَقُولُ الْجَسَدُ لِلرُّوحِ مِثْلَ ذَلِكَ".
قَالَ: "وَتَبْكِي عَلَيْهِ بِقَاعُ الْأَرْضِ الَّتِي كَانَ يُطِيعُ
اللَّهَ فِيهَا، وَكُلُّ بَابٍ مِنَ السَّمَاءِ يَصْعَدُ مِنْهُ عَمَلُهُ.
وَيَنْزِلُ مِنْهُ رِزْقُهُ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً". قَالَ: "فَإِذَا قَبَض
مَلَكُ الْمَوْتِ رُوحَهُ، أَقَامَتِ الْخَمْسُمِائَةٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ
عِنْدَ جَسَدِهِ، فَلَا يَقْلُبُهُ بَنُو آدَمَ لِشِقٍّ إِلَّا قَلَبَتْهُ
الْمَلَائِكَةُ قَبْلَهُمْ، وَغَسَّلَتْهُ وَكَفَّنَتْهُ بِأَكْفَانٍ
قَبْلَ أكفان بني آدم، وحنوط قبل حنوطبَنِي آدَمَ، وَيَقُومُ مِنْ بَيْنِ
بَابِ بَيْتِهِ إِلَى بَابِ قَبْرِهِ صَفَّانِ مِنَ الْمَلَائِكَةِ،
يَسْتَقْبِلُونَهُ بِالِاسْتِغْفَارِ، فَيَصِيحُ عِنْدَ ذَلِكَ إِبْلِيسُ
صَيْحَةً تَتَصَدَّعُ مِنْهَا عِظَامُ جَسَدِهِ". قَالَ: "وَيَقُولُ
لِجُنُودِهِ: الْوَيْلُ لَكُمْ. كَيْفَ خَلَص هَذَا الْعَبْدُ مِنْكُمْ،
فَيَقُولُونَ إِنَّ هَذَا كَانَ عَبْدًا مَعْصُومًا". قَالَ: "فَإِذَا
صَعِدَ مَلَكُ الْمَوْتِ بِرُوحِهِ، يَسْتَقْبِلُهُ جِبْرِيلُ فِي
سَبْعِينَ أَلْفًا مِنَ الْمَلَائِكَةِ، كُلٌّ يَأْتِيهِ بِبِشَارَةٍ مِنْ
رَبِّهِ سِوَى بِشَارَةِ صَاحِبِهِ". قَالَ: "فَإِذَا انْتَهَى مَلَكُ
الْمَوْتِ بِرُوحِهِ إِلَى الْعَرْشِ، خَرّ الرُّوحُ سَاجِدًا". قَالَ:
"يَقُولُ اللَّهُ، عَزَّ وَجَلَّ، لِمَلَكِ الْمَوْتِ: انْطَلِقْ بِرُوحِ
عَبْدِي فَضَعْهُ فِي سِدْرٍ مَخْضُودٍ، وَطَلْحٍ مَنْضُودٍ، وَظِلٍّ
مَمْدُودٍ، وَمَاءٍ مَسْكُوبٍ".قَالَ: "فَإِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ،
جَاءَتْهُ الصَّلَاةُ فَكَانَتْ عَنْ يَمِينِهِ، وَجَاءَهُ الصِّيَامُ
فَكَانَ عَنْ يَسَارِهِ، وَجَاءَهُ الْقُرْآنُ فَكَانَ عِنْدَ رَأْسِهِ،
وَجَاءَهُ مَشْيُهُ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَانَ عِنْدَ رِجْلَيْهِ، وَجَاءَهُ
الصَّبْرُ فَكَانَ نَاحِيَةَ الْقَبْرِ". قَالَ: "فَيَبْعَثُ اللَّهُ،
عَزَّ وَجَلَّ، عُنُقًا مِنَ الْعَذَابِ". قَالَ: "فَيَأْتِيهِ عَنْ
يَمِينِهِ" قَالَ: "فَتَقُولُ الصَّلَاةُ: وَرَاءَكَ وَاللَّهِ مَا زَالَ
دَائِبًا عُمْرَهُ كُلَّهُ وَإِنَّمَا اسْتَرَاحَ الْآنَ حِينَ وُضِعَ فِي
قَبْرِهِ". قَالَ: "فَيَأْتِيهِ عَنْ يَسَارِهِ، فَيَقُولُ الصِّيَامُ
مِثْلَ ذَلِكَ". قَالَ: "ثُمَّ يَأْتِيهِ مِنْ عِنْدِ رَأْسِهِ، فَيَقُولُ
الْقُرْآنُ وَالذِّكْرُ مِثْلَ ذَلِكَ". قَالَ: "ثُمَّ يَأْتِيهِ مِنْ
عِنْدِ رِجْلَيْهِ، فَيَقُولُ مَشْيُهُ إِلَى الصَّلَاةِ مِثْلَ ذَلِكَ.
فَلَا يَأْتِيهِ الْعَذَابُ مِنْ نَاحِيَةٍ يَلْتَمِسُ هَلْ يَجِدُ
مُسَاغًا إِلَّا وجَد وَلِيَّ اللَّهِ قَدْ أَخَذَ جُنَّتَهُ". قَالَ:
"فَيَنْقَمِعُ الْعَذَابُ عِنْدَ ذَلِكَ فَيَخْرُجُ". قَالَ: "وَيَقُولُ
الصَّبْرُ لِسَائِرِ الْأَعْمَالِ: أَمَا إِنَّهُ لَمْ يَمْنَعْنِي أَنْ
أُبَاشِرَ أَنَا بِنَفْسِي إِلَّا أَنِّي نَظَرْتُ مَا عِنْدَكُمْ، فَإِنْ
عَجَزْتُمْ كُنْتُ أَنَا صَاحِبَهُ، فَأَمَّا إِذْ أَجَزَأْتُمْ عَنْهُ
فَأَنَا لَهُ ذُخْرٌ عِنْدَ الصِّرَاطِ وَالْمِيزَانِ". قَالَ: "وَيَبْعَثُ
اللَّهُ مَلَكَيْنِ أَبْصَارُهُمَا كَالْبَرْقِ الْخَاطِفِ،
وَأَصْوَاتُهُمَا كَالرَّعْدِ الْقَاصِفِ، وَأَنْيَابُهُمَا كَالصَّيَاصِي،
وَأَنْفَاسُهُمَا كَاللَّهَبِ، يَطَآنِ فِي أَشْعَارِهِمَا، بَيْنَ
مَنْكِب كُلِّ وَاحِدٍ مَسِيرَةُ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ نُزِعَتْ مِنْهُمَا
الرَّأْفَةُ وَالرَّحْمَةُ، يُقَالُ لَهُمَا: مُنْكَرٌ وَنَكِيرٌ، فِي يد
كل واحد منهما مطرقة، لو اجتمع عَلَيْهَا رَبِيعَةُ وَمُضَرُ لَمْ
يُقلّوها". قَالَ: "فَيَقُولَانِ لَهُ: اجْلِسْ". قَالَ: "فَيَجْلِسُ
فَيَسْتَوِي جَالِسًا". قَالَ: "وتقع أكفانه في حقويه". قال: "فيقولان له:
مَنْ رَبُّكَ؟ وَمَا دِينُكَ؟ وَمَنْ نَبِيُّكَ؟ ". قَالَ: قَالُوا: يَا
رَسُولَ اللَّهِ، وَمَنْ يُطِيقُ الْكَلَامَ عِنْدَ ذَلِكَ، وَأَنْتَ
تَصِفُ مِنَ المَلَكَين مَا تَصِفُ؟ قَالَ: فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " {يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا
بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ
وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ} قَالَ:
"فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَدِينِيَ
الْإِسْلَامُ الَّذِي دَانَتْ بِهِ الْمَلَائِكَةُ، وَنَبِيِّي مُحَمَّدٌ
خَاتَمُ النَّبِيِّينَ". قَالَ: "فَيَقُولَانِ: صَدَقْتَ". قَالَ:
فَيَدْفَعَانِ الْقَبْرَ، فَيُوَسِّعَانِ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ أَرْبَعِينَ
ذِرَاعًا، وَعَنْ يَمِينِهِ أَرْبَعِينَ ذِرَاعًا، وَعَنْ شِمَالِهِ
أَرْبَعِينَ ذِرَاعًا، وَمِنْ خَلْفِهِ أَرْبَعِينَ ذِرَاعًا، وَمِنْ عند
رأسه أَرْبَعِينَ ذِرَاعًا، وَمِنْ عِنْدِ رِجْلَيْهِ أَرْبَعِينَ
ذِرَاعًا". قَالَ: "فَيُوَسِّعَانِ لَهُ مِائَتَيْ ذِرَاعٍ". قَالَ
الْبُرْسَانِيُّ: فَأَحْسَبُهُ: وَأَرْبَعِينَ ذِرَاعًا تُحَاطُ بِهِ.
قَالَ: "ثُمَّ يَقُولَانِ لَهُ: انْظُرْ فَوْقَكَ، فَإِذَا بَابٌ مَفْتُوحٌ
إِلَى الْجَنَّةِ". قَالَ: "فَيَقُولَانِ لَهُ: وليَّ اللَّهِ، هَذَا
مَنْزِلُكَ إِذْ أَطَعْتَ اللَّهِ". فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ إِنَّهُ
يَصِلُ إِلَى قَلْبِهِ عِنْدَ ذَلِكَ فَرْحَةٌ، وَلَا تَرْتَدُّ أَبَدًا،
ثُمَّ يُقَالُ لَهُ: انْظُرْ تَحْتَكَ". قَالَ: "فَيَنْظُرُ تَحْتَهُ
فَإِذَا بَابٌ مَفْتُوحٌ إِلَى النَّارِ قَالَ: "فَيَقُولَانِ: وَلِيَّ
اللَّهِ نَجَوْتَ آخِرَ مَا عَلَيْكَ". قَالَ: فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم: "أنه لَيَصِلُ إِلَى قَلْبِهِ عِنْدَ ذَلِكَ
فَرْحَةٌ لَا تَرْتَدُّ أَبَدًا". قَالَ: فَقَالَتْ عَائِشَةُ: يُفْتَحُ
لَهُ سَبْعَةٌ وَسَبْعُونَ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ، يَأْتِيهِ رِيحُهَا
وَبَرْدُهَا، حَتَّى يَبْعَثَهُ اللَّهُ، عَزَّ وَجَلَّ. وَبِالْإِسْنَادِ
الْمُتَقَدِّمِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
"وَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى لِمَلَكِ الْمَوْتِ: انْطَلِقْ إِلَى
عَدُوِّي فَأْتِنِي بِهِ، فَإِنِّي قَدْ بَسَطْتُ لَهُ رِزْقِي، ويَسّرت
لَهُ نِعْمَتِي، فَأَبَى إِلَّا مَعْصِيَتِي، فَأْتِنِي بِهِ لِأَنْتَقِمَ
مِنْهُ".قَالَ: "فَيَنْطَلِقُ إِلَيْهِ مَلَكُ الْمَوْتِ فِي أَكْرَهِ
صُورَةٍ مَا رَآهَا أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ قَطّ، لَهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ
عَيْنًا، وَمَعَهُ سَفُود مِنَ النَّارِ كَثِيرُ الشَّوْكِ، وَمَعَهُ
خَمْسُمِائَةٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ، مَعَهُمْ نُحَاسٌ وَجَمْرٌ مِنْ جَمْرِ
جَهَنَّمَ، وَمَعَهُمْ سِيَاطٌ مِنْ نَارٍ، لِينُهَا لِينُ السِّيَاطِ
وَهِيَ نَارٌ تَأَجُّجُ". قَالَ: "فَيَضْرِبُهُ مَلَكُ الْمَوْتِ بِذَلِكَ
السَّفُّودِ ضَرْبَةً يغيبُ كُلُّ أَصْلِ شَوْكَةٍ مِنْ ذَلِكَ السَّفُّودِ
فِي أَصْلِ كُلِّ شَعْرَةٍ وَعِرْقٍ وَظُفْرٍ". قَالَ: "ثُمَّ يَلْوِيهِ
لَيًّا شَدِيدًا". قَالَ: "فَيَنْزِعُ رُوحَهُ مِنْ أَظْفَارِ قَدَمَيْهِ".
قَالَ: "فَيُلْقِيهَا" فِي عَقِبَيْهِ ثُمَّ يَسْكَرُ عِنْدَ ذَلِكَ
عَدُوُّ اللَّهِ سَكْرَةً، فَيُرَفِّهُ مَلَكُ الْمَوْتِ عَنْهُ". قَالَ:
"وَتَضْرِبُ الْمَلَائِكَةُ وَجْهَهُ ودُبُره بِتِلْكَ السِّيَاطِ".
[قَالَ: "فَيَشُدُّهُ مَلَكُ الْمَوْتِ شَدَّةً، فَيَنْزِعُ رُوحَهُ مِنْ
عَقِبَيْهِ، فَيُلْقِيهَا فِي رُكْبَتَيْهِ، ثُمَّ يَسْكَرُ عَدُوُّ
اللَّهِ عِنْدَ ذَلِكَ سَكْرَةً، فَيُرَفِّهُ مَلَكُ الْمَوْتِ عَنْهُ".
قَالَ: "فَتَضْرِبُ الْمَلَائِكَةُ وَجْهَهُ وَدُبُرَهُ بِتِلْكَ
السِّيَاطِ"] قَالَ: "ثُمَّ يَنْتُرُهُ مَلَكُ الْمَوْتِ نَتَرة،
فَيَنْزِعُ رُوحَهُ مِنْ رُكْبَتَيْهِ فَيُلْقِيهَا فِي حَقُوَيْهِ".
قَالَ: "فَيَسْكَرُ عَدُوُّ اللَّهِ عِنْدَ ذَلِكَ سَكْرَةً، فَيُرَفِّهُ
مَلَكُ الْمَوْتِ عَنْهُ". قَالَ: "وَتَضْرِبُ الْمَلَائِكَةُ وَجْهَهُ
ودُبُره بِتِلْكَ السِّيَاطِ". قَالَ: "كَذَلِكَ إِلَى صَدْرِهِ، ثُمَّ
كَذَلِكَ إِلَى حَلْقِهِ". قَالَ: ثُمَّ تَبْسُطُ الْمَلَائِكَةُ ذَلِكَ
النُّحَاسَ وَجَمْرَ جَهَنَّمَ تَحْتَ ذَقَنِهِ". قَالَ: "وَيَقُولُ مَلَكُ
الْمَوْتِ: اخْرُجِي أَيَّتُهَا الرُّوحُ اللَّعِينَةُ الْمَلْعُونَةُ
إِلَى سَمُوم وَحَمِيمٍ، وَظِلٍّ مِنْ يَحْمُومٍ، لَا بَارِدٍ وَلَا
كَرِيمٍ". قَالَ: "فَإِذَا قَبَضَ مَلَكُ الْمَوْتِ رُوحَهُ قَالَ الرُّوحُ
لِلْجَسَدِ: جَزَاكَ اللَّهُ عَنِّي شَرًّا، فَقَدْ كُنْتَ سَرِيعًا بِي
إِلَى مَعْصِيَةِ اللَّهِ، بَطِيئًا بِي عَنْ طَاعَةِ اللَّهِ، فَقَدْ
هَلَكْتَ وَأَهْلَكْتَ" قَالَ: "وَيَقُولُ الْجَسَدُ لِلرُّوحِ مِثْلَ
ذَلِكَ، وَتَلْعَنُهُ بِقَاعُ الْأَرْضِ الَّتِي كَانَ يَعْصِي اللَّهَ
عَلَيْهَا، وَتَنْطَلِقُ جُنُودُ إِبْلِيسَ إِلَيْهِ فَيُبَشِّرُونَهُ
بِأَنَّهُمْ قَدْ أَوْرَدُوا عَبْدًا مِنْ وَلَدِ آدَمَ النَّارَ". قَالَ:
فَإِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ ضُيق عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ
أَضْلَاعُهُ، حَتَّى تَدْخُلَ الْيُمْنَى فِي الْيُسْرَى، وَالْيُسْرَى فِي
الْيُمْنَى" قَالَ: "وَيَبْعَثُ اللَّهُ إِلَيْهِ أَفَاعِيَ دُهمًا
كَأَعْنَاقِ الْإِبِلِ يَأْخُذْنَ بِأَرْنَبَتِهِ وَإِبْهَامَيْ قَدَمَيْهِ
فَيَقْرِضْنَهُ حَتَّى يَلْتَقِينَ فِي وَسَطِهِ". قَالَ: "وَيَبْعَثُ
اللَّهُ مَلَكَيْنِ أَبْصَارُهُمَا كَالْبَرْقِ الْخَاطِفِ،
وَأَصْوَاتُهُمَا كَالرَّعْدِ الْقَاصِفِ، وَأَنْيَابُهُمَا كَالصَّيَاصِي،
وَأَنْفَاسُهُمَا كَاللَّهَبِ يَطَآنِ فِي أَشْعَارِهِمَا، بَيْنَ
مَنْكِبَيْ كُلِّ وَاحِدِ مِنْهُمَا مَسِيرَةُ كَذَا وَكَذَا، قَدْ
نُزِعَتْ مِنْهُمَا الرَّأْفَةُ وَالرَّحْمَةُ يُقَالُ لهما: منكر ونكير،
في يد كل واحد مِنْهُمَا مِطْرَقَةٌ، لَوِ اجْتَمَعَ عَلَيْهَا رَبِيعَةُ
وَمُضَرُ لَمْ يُقِلُّوهَا" قَالَ: "فَيَقُولَانِ لَهُ: اجْلِسْ". قَالَ:
"فيستوي جالسا" قال: "وتقع أكفانه في حقويه" قَالَ: "فَيَقُولَانِ لَهُ:
مَنْ رَبُّكَ؟ وَمَا دِينُكَ؟ وَمَنْ نَبِيُّكَ؟ فَيَقُولُ: لَا أَدْرِي.
فَيَقُولَانِ: لَا دَرَيْتَ وَلَا تَليّت". [قَالَ] فَيَضْرِبَانِهِ
ضَرْبَةً يَتَطَايَرُ شَرَرُهَا فِي قَبْرِهِ، ثُمَّ يَعُودَانِ". قَالَ:
"فَيَقُولَانِ: انْظُرْ فَوْقَكَ. فَيَنْظُرُ، فَإِذَا بَابٌ مَفْتُوحٌ
مِنَ الْجَنَّةِ، فَيَقُولَانِ: هَذَا -عَدُوَّ اللَّهِ -مَنْزِلُكَ لَوْ
أَطَعْتَ اللَّهِ". قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: "وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّهُ لَيَصِلُ إِلَى قَلْبِهِ
عِنْدَ ذَلِكَ حَسْرَةٌ لَا تَرْتَدُّ أَبَدًا". قَالَ: "وَيَقُولَانِ
لَهُ: انْظُرْ تَحْتَكَ فَيَنْظُرُ تَحْتَهُ، فَإِذَا بَابٌ مَفْتُوحٌ
إِلَى النَّارِ، فَيَقُولَانِ: عَدُوَّ اللَّهِ، هَذَا مَنْزِلُكَ إِذْ
عَصَيْتَ اللَّهِ".قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: "وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّهُ لَيَصِلُ إِلَى قَلْبِهِ
عِنْدَ ذَلِكَ حَسْرَةٌ لَا تَرْتَدُّ أَبَدًا". قَالَ: وَقَالَتْ
عَائِشَةُ: وَيُفْتَحُ لَهُ سَبْعَةٌ وَسَبْعُونَ بَابًا إِلَى النَّارِ،
يَأْتِيهِ [مِنْ] حَرِّهَا وَسَمُومِهَا حَتَّى يَبْعَثَهُ اللَّهُ
إِلَيْهَا
Telah menceritakan kepada kami Abu Abdur Rahman Ahmad ibnu Ibrahim
An-Nakri, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Bakr Al-Barsani
Abu Usman, telah menceritakan kepada kami Abu Asim Al-Habti (seorang
ulama Basrah yang terpandang, murid Hazm) dan Salam ibnu Abu Muti',
telah menceritakan kepada kami Bakr ibnu Hubaisy, dari Darrar ibnu Amr,
dari Yazid Ar-Raqqasyi, dari Anas ibnu Malik, dari Tamim Ad-Dari, dari
Nabi Saw. yang telah bersabda bahwa: Allah Swt. berfirman kepada
malaikat maut, "Pergilah kamu menemui kekasih-Ku, lalu bawalah dia
kepada-Ku, karena sesungguhnya Aku telah mengujinya dengan kesukaan dan
kedukaan, dan Aku menjumpainya bersikap seperti apa yang Aku sukai.
Bawalah dia kepada-Ku, sesungguhnya Aku akan membuatnya senang." Maka
berangkatlah malaikat maut bersama lima ratus malaikat yang membawa kain
kafan dan wewangian dari surga kepada orang yang dimaksud. Mereka juga
membawa beberapa ikat kayu cendana yang batangannya sama, tetapi setiap
ikatan terdiri atas dua puluh batang yang pada ujungnya memepunyai warna
yang berbeda-beda; setiap warna mempunyai bau harum yang berbeda dengan
yang lainnya, mereka membawa pula kain sutra putih yang diberi
wewangian minyak misk aifar (minyak kesturi yang paling harum). Kemudian
malaikat maut duduk di dekat kepalanya, sedangkan malaikat-malaikat
lainnya mengelilinginya, setiap malaikat memegangkan tangannya ke bagian
tubuhnya. Lalu sutra putih dan minyak kesturi azfar itu diletakkan di
bawah dagunya, dan dibukakan untuknya sebuah pintu menuju surga.
Sesungguhnya pada saat itu rohnya benar-benar merindukan surga yang
dilihatnya, adakalanya kepada bidadari-bidadari calon istrinya,
adakalanya kepada pakaiannya yang gemerlapan, dan adakalanya merindukan
buah-buahannya, sebagaimana seorang anak kecil merengek-rengek kepada
orang tuanya bila menangis (meminta sesuatu). Dan sesungguhnya para
bidadari calon istrinya saat itu benar-benar sangat gembira; Perawi
mengatakan bahwa roh orang tersebut meloncat, yakni ingin segera keluar
dari tubuhnya menuju kepada apa yang didambakannya. Kemudian malaikat
maut berkata, "Hai jiwa yang baik, keluarlah kamu menuju pohon bidara
yang tidak berduri, pohon pisang yang bersusun- susun (buahnya), dan
naungan yang terbentang luas, serta air yang tercurah". Perawi
melanjutkan kisahnya, bahwa sesungguhnya malaikat maut bersikap jauh
lebih lemah lembut terhadapnya daripada lemah lembutnya seorang ibu
kepada anaknya. Malaikat mengetahui bahwa roh itu adalah kekasih
Tuhannya, maka dia bersikap lemah lembut untuk memuaskannya karena Tuhan
telah rida kepadanya. Maka malaikat maut mencabut nyawanya sebagaimana
seutas rambut dicabut dari adonan roti (yakni dengan lemah
lembut).Perawi mengatakan bahwa Allah Swt. telah berfirman: orang-orang
yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat. (An-Nahl: 32) Dan
firman Allah Swt.: Adapun jika dia (orang-orang yang mati) termasuk
orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh
ketenteraman dan rezeki serta surga kenikmatan.(Al-Waqi'ah: 88- 89) Yang
dimaksud denganrauhun adalah ketenteraman dalam menghadapi kematiannya,
sedangkan raihan maksudnya rezeki yang menyambutnya, dan surga
kenikmatan yang ada dihadapannya. Apabila malaikat maut telah mencabut
nyawanya, maka rohnya berkata kepada jasadnya, "Semoga Allah memberikan
balasan yang baik kepadamu atas jasamu kepadaku. Sesungguhnya kamu
dahulu sangat cepat membawaku kepada ketaatan kepada Allah, lamban
membawaku kepada perbuatan maksiat. Sekarang aku selamat, begitu pula
kamu". Perawi melanjutkan kisahnya, bahwa jasad pun berkata demikian
kepada rohnya. Maka semua tempat di bumi yang dia pernah berbuat
ketaatan kepada Allah ditempat itu menangisi kematiannya, demikian pula
semua malaikat yang menjaga pintu setiap langit yang menjadi jalan naik
amalnya serta tempat turun rezekinya selama empat puluh hari. Setelah
malaikat maut mencabut nyawanya, maka lima ratus malaikat berdiri
mengurus jenazahnya, sehingga tidak sekali-kali anak Adam
membolak-balikkannya. Melainkan para malaikat telah melakukan hal yang
sama sebelumnya. Para malaikat itu memandikan dan mengafaninya sebelum
manusia melakukannya serta memberinya kapur barus dan wewangian sebelum
manusia melakukannya. Dari pintu rumahnya hingga sampai ke kuburnya
berdiri dua saf malaikat yang mengiringinya seraya membaca istigfar
(memohon ampun kepada Allah buat si mayat yang mukmin). Maka pada saat
itu juga iblis menjerit dengan jeritan yang meretakkan tulang-tulang
jasadnya, lalu iblis berkata kepada bala tentaranya, "Celakalah kalian,
mengapa hamba ini lolos dari kalian", Bala tentara iblis menjawab,
"Sesungguhnya hamba ini adalah seorang hamba yang di ma'sum (dipelihara
Allah dari dosa-dosa)".Bilamana malaikat maut naik membawa rohnya, ia
disambut oleh Malaikat Jibril bersama tujuh puluh ribu malaikat.
Tiap-tiap malaikat menyampaikan berita gembira kepada roh itu dengan
berita gembira yang berbeda dengan apa yang disampaikan oleh
teman-temannya. Apabila malaikat maut telah sampai di 'Arasy membawanya,
maka roh itu terjungkal bersujud (kepada Allah). Dan Allah berfirman
kepada malaikat maut, "Bawalah roh hambaku ini dan letakkanlah ia di
dekat pohon bidara yang tak berduri, pdhon pisang yang bersusun-susun
(buahnya), naungan yang terbentang luas, dan air yang tercurah". Setelah
jasadnya dimasukkan ke dalam kuburnya, maka ia kedatangan amal
salatnya, Jalu mengambil tempat di sebelah kanannya, dan datang pula
amal puasanya,lalu mengambil tempat di sebelah kirinya. Amalan membaca
Al-Qur'an datang kepadanya dan mengambil tempat di dekat kepalanya. Amal
berjalan menuju ke tempat salat datang kepadanya dan mengambil tempat
di dekat kedua kakinya. Dan amal sabar datang kepadanya dan mengambil
tempat di dalam kuburnya. Kemudian Allah mengirimkan sebagian dari
azab-Nya. Lalu azab itu datang dari arah kanannya, maka salat berkata
kepadanya, "Pergilah ke arah belakangmu (yakni menyingkirlah kamu)! Demi
Allah, dia masih terus-menerus menunaikan amalnya sepanjang usianya,
dan sesungguhnya sekarang dia sedang istirahat setelah diletakkan di
dalam kuburnya." Azab datang kepadanya dari sebelah kirinya, maka amal
puasanya mengatakan hal yang sama kepada malaikat azab itu. Kemudian
azab datang dari arah kepalanya, maka Al-Quran dan zikir mengatakan hal
yang sama. Lalu azab datang dari arah kedua kakinya, maka amal
berjalannya menuju ke salat mengatakan hal yang sama. Tidak sekali-kali
azab datang dari suatu arah dengan maksud untuk mencari jalan masuk
kepada si mayat melainkan ia menemukan kekasih Allah itu telah dijaga
ketat oleh benteng amalnya. Maka azab pun tidak berdaya terhadapnya,
lalu ia keluar meninggalkannya. Setelah itu amal sabarnya berkata kepada
amal lainnya, "Ingatlah, sesungguhnya saya tidak turun tangan tiada
lain karena saya hendak melihat terlebih dahulu apa yang akan dilakukan
oleh kalian. Jika kalian tidak mampu mencegahnya, maka akulah yang akan
mencegahnya. Tetapi sekarang kalian ternyata sudah cukup untuk
mencegahnya, dan sekarang aku akan menjadi tabungan baginya kelak di
sirat dan mizan (neraca amal). Kemudian Allah mengirimkan dua malaikat
yang mata keduanya bagaikan kilat yang menyambar, suaranya bagaikan
guntur yang menyambar, gigi taringnya bagaikan benteng, dan napasnya
bagaikan semburan api. Rambut keduanya panjang sampai ke bahu
masing-masing yang lebarnya sama dengan perjalanan sejauh anu, sedangkan
rasa belas kasihan dan rahmat telah dicabut dari kedua malaikat
tersebut. Kedua malaikat itu yang satunya bernama Munkar dan yang
lainnya bernama Nakir, di tangan masing-masing tergenggam sebuah palu
(gada); seandainya kabilah Rabi'ah dan Mudar bergabung menjadi satu
untuk mengangkatnya, tentulah mereka masih belum dapat mengangkatnya.
Kedua malaikat itu berkata kepadanya, "Duduklah!" Maka bangkitlah orang
mukmin itu, lalu duduk dengan tegak, dan kain kafannya jatuh sampai
pinggangnya. Keduanya bertanya kepadanya, "Siapakah Tuhanmu, apakah
agamamu, dan siapakah nabi (panutan)mu?" Para sahabat bertanya, "Wahai
Rasulullah, siapakah yang akan mampu berbicara dalam keadaan seperti
itu, sedangkan engkau telah menggambarkan kedua malaikat tersebut dengan
rupa yang amat mengerikan?" Rasulullah Saw. menjawab dengan membaca
firman-Nya: Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan
ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah
menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia
kehendaki. (Ibrahim: 27) Perawi melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia
menjawab, "Tuhanku adalah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan
agamaku adalah Islam yang dianut juga oleh para malaikat; serta nabi
(panutan)ku adalah Muhammad, penutup para nabi." Kedua malaikat itu
berkata, "Kamu benar." Lalu dikembalikanlah ia ke dalam kuburnya dan di
luaskan kuburnya sejauh empat puluh hasta ke sebelah depannya, ke
sebelah kanan dan kirinya diluaskan pula masing-masing empat puluh
hasta, dari arah belakangnya diluaskan empat puluh hasta, dari arah
kepalanya empat puluh hasta, dan dari arah kedua kakinya empat puluh
hasta. Maka diluaskan baginya sebanyak dua ratus hasta. Al-Bursani
mengatakan bahwa ia menduga si perawi bermaksud empat puluh hasta
sekelilingnya.Kemudian kedua malaikat itu berkata kepadanya, "Lihatlah
ke atasmu!" Tiba-tiba ia melihat sebuah pintu yang menuju surga dibuka.
Lalu keduanya berkata pula, "Hai kekasih Allah, inilah tempat tinggalmu
karena kamu telah taat kepada Allah."Rasulullah Saw. bersabda, "Demi
Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya
pada saat itu juga hatinya kemasukan rasa gembira yang tidak pernah
lenyap selama-lamanya." Kemudian dikatakan kepadanya, "Lihatlah ke
bawahmu." Maka ia melihat ke arah bawahnya, tiba-tiba terlihat sebuah
pintu yang menuju neraka dibuka. Kedua malaikat itu berkata, "Hai
kekasih Allah, engkau telah selamat pada akhirnya." Perawi melanjutkan
kisahnya, bahwa Rasulullah Saw. bersabda,"Sesungguhnya pada saat itu
hatinya kemasukan rasa gembira yang tidak pernah pudar selama-lamanya."
Perawi mengatakan bahwa Siti Aisyah berkata, "Dibukakan baginya tujuh
puluh tujuh pintu yang menuju surga, sehingga sampai kepadanya angin
surga yang menyejukkan, hingga Allah membangkitkannya kelak (di hari
kiamat)." Dengan sanad yang sama sampai kepada Nabi Saw. disebutkan
bahwa Allah Swt. berfirman kepada malaikat maut, "Pergilah kamu kepada
musuhKu, dan datangkanlah ia kepada-Ku, karena sesungguhnya Aku telah
meluaskan rezekinya dan memudahkan nikmat-Ku baginya, tetapi ia
membangkang, tidak mau taat kepada-Ku, melainkan hanya mau durhaka
kepada-Ku. Datangkanlah dia kepada-Ku, Aku akan membalasnya." Malaikat
maut berangkat untuk menjemput orang yang dimaksud dalam rupa yang
paling mengerikan yang belum pernah dilihat oleh seorang manusia pun.
Dia mempunyai dua belas mata, dan membawa tusukan dari api yang banyak
durinya. Dia datang bersama lima ratus malaikat yang membawa tembaga dan
bara dari api neraka jahannam, dan mereka membawa cemeti dari api yang
lenturannya sama dengan cemeti, tetapi berupa api yang menyala-nyala.
Malaikat maut memukulnya dengan tusuk besi itu dengan tusukan yang keras
sehingga semua duri yang ada padanya masuk ke dalam akar tiap rambut
yang ada pada tubuhnya, pori-pori keringatnya, dan kuku-kukunya.
Kemudian malaikat maut memutar-mutarkannya dengan putaran yang keras.
Malaikat maut mencabut rohnya dari bawah kuku jari-jari kedua telapak
kakinya, lalu menghentikannya sampai ke mata kakinya. Disebutkan bahwa
orang yang menjadi musuh Allah itu tidak sadarkan diri karena sakit yang
tak terperikan, maka malaikat maut memelankan cabutannya. Sedangkan
malaikat-malaikat lainnya memukuli bagian muka dan bagian belakang tubuh
orang itu dengan cemeti-cemetinya. Kemudian malaikat maut menariknya
kembali dengan kuat dan mencabut rohnya dari kedua mata kakinya sampai
kepada kedua lututnya, lalu musuh Allah itu tidak sadarkan diri, dan
malaikat maut memelankan cabutannya. Para malaikat lainnya terus
memukuli bagian depan dan belakang tubuhnya dengan cemeti-cemetinya.
Kemudian malaikat maut menarik rohnya dengan tarikan yang kuat dari
kedua lututnya sampai kepada pinggangnya, dan musuh Allah itu merasakan
sakit yang tak terperikan; lalu malaikat maut memelankan cabutannya,
sedangkan malaikat-malaikat lainnya memukulinya, dengan cemeti-cemetinya
pada bagian depan dan belakang tubuhnya. Demikianlah seterusnya
dilakukan hal yang sama sampai ke dadanya, lalu ke tenggorokannya,
Kemudian para malaikat menggelarkan tembaga dan bara api neraka Jahannam
itu di bawah dagunya. Lalu malaikat maut berkata, "Keluarlah, hai roh
yang terkutuk, menuju kepada siksaan angin yang amat panas, air yang
panas lagi mendidih, dalam naungan asap hitam, tidak sejuk dan tidak
menyenangkan." Apabila malaikat maut telah mencabut rohnya, maka roh
berkata kepada jasadnya, "Semoga Allah membalasmu dengan balasan yang
buruk karena perbuatanmu kepadaku. Sesungguhnya dahulu kamu membawaku
dengan cepat kepada kemaksiatan terhadap Allah. Lamban dalam membawaku
kepada ketaatan terhadap Allah. Sesungguhnya aku sekarang telah binasa,
dan kamu pun binasa pula." Jasad pun mengatakan hal yang sama kepada
rohnya. Dan semua tempat di bumi yang dia pernah berbuat durhaka padanya
melaknatinya. Lalu bala tentara iblis berangkat menghadap kepada iblis
menyampaikan berita gembira kepadanya bahwa mereka telah berhasil
memasukkan seorang hamba dari Bani Adam ke dalam neraka. Apabila ia
telah diletakkan di dalam kuburnya. Maka kuburannya menjepitnya hingga
tulang-tulang iganya berantakkan; yang sebelah kanan masuk ke sebelah
kiri, sedangkan yang sebelah kiri masuk ke sebelah kanan. Kemudian Allah
mengirimkan kepadanya ular-ular hitam —yang besarnya seperti leher
unta—yang menggerogotinya dari kedua telinganya dan dari jari jempol
kedua telapak kakinya hingga bertemu di bagian tengah tubuhnya. Lalu
Allah mengirimkan dua malaikat yang mata keduanya seperti kilat
menyambar, suaranya bagaikan guntur yang menyambar, dan gigi taringnya
seperti benteng, nafasnya seperti semburan api, rambutnya panjang sampai
ke pundaknya yang lebar salah satu sisinya sama dengan jarak perjalanan
seanu, rasa belas kasihan dan rahmat telah dicabut dari hati keduanya.
Kedua malaikat itu yang satunya bernama Munkar dan yang lainnya bernama
Nakir. Pada tangan masing-masing terdapat sebuah gada, seandainya
kabilah Rabi'ah dan Mudar bersatu untuk mengangkatnya, mereka tidak
dapat mengangkatnya. Kedua malaikat berkata kepadanya, "Duduklah!" Maka
ia duduk tegak dan kain kafannya jatuh sampai batas pinggangnya. Kedua
malaikat berkata kepadanya, "Siapakah Tuhanmu, apakah agamamu, dan
siapakah nabi (panutan)mu?" Ia menjawab, "Tidak tahu." keduanya berkata,
"Kamu tidak tahu dan tidak pula perna membaca (mengenainya)." Maka
keduanya memukulnya dengan pukulan yang percikannya berhamburan
menerangi kuburnya, kemudian kembali memukulinya. Kedua malaikat berkata
kepadanya, "Lihatlah ke atasmu!" Tiba-tiba sebuah pintu dari surga
dibuka, lalu keduanya berkata, "Hai musuh Allah, inilah tempatmu
seandainya kamu taat kepada Allah." Rasulullah Saw. bersabda, "Demi
Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya
dia dalam hatinya kemasukan rasa menyesal yang tidak pernah kunjung
pudar selama-lamanya." Dan keduanya berkata kepadanya, "Lihatlah ke
bawahmu!" Maka ia melihat ke arah bawahnya, Tiba-tiba sebilah pintu
menuju neraka dibuka, lalu keduanya berkata, "Hai musuh Allah, inilah
tempat tinggalmu, karena kamu durhaka kepada Allah." Rasulullah Saw.
bersabda, "Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman
kekuasaan-Nya, sesungguhnya hatinya kemasukan rasa menyesal yang tidak
pudar selama-lamanya." Perawi melanjutkan kisahnya, bahwa Siti Aisyah
r.a. telah mengatakan, "Lalu dibukakan untuknya tujuh puluh tujuh pintu
yang menuju neraka, sehingga panasnya neraka dan asapnya sampai
kepadanya, hingga Allah membangkitkannya dari kuburnya."
Hadis ini sangat garib dan teksnya mengandung keanehan. Ar-Raqqasy
(salah seorang perawinya) menambahkan riwayat lain dari Anas, isinya
banyak mengandung hal yang garib dan munkar, sedangkan dia sendiri
orangnya daif dalam periwayatan hadis, menurut pendapat para imam ahli
hadis.
Karena itulah Abu Daud mengatakan bahwa:
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى الرَّازِيُّ، حَدَّثَنَا هِشَامُ
-هُوَ ابْنُ يُوسُفَ -عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بَحير، عَنْ هَانِئٍ
مَوْلَى عُثْمَانَ، عَنْ عُثْمَانَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: كَانَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ
الرَّجُلِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ: "اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ،
وَاسْأَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ، فَإِنَّهُ الْآنَ يُسأَلُ"
Telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Musa Ar-Razi, telah
menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Yusuf, dari Abdullah ibnu Bujair,
dari Hani' maula Usman, dari Usman r.a. yang mengatakan bahwa Nabi Saw.
apabila ia telah selesai dari mengebumikan jenazah seseorang, beliau
berdiri di dekat kuburnya, lalu bersabda: Mohonlah ampunan buat saudara
kalian dan mintakanlah keteguhan buatnya (kepada Allah),karena
sesungguhnya dia sekarang sedang ditanyai.
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Abu Daud secara munfarid.
Al-Hafiz Abu Bakar ibnu Murdawaih telah mengetengahkan sebuah hadis sehubungan dengan makna firman Allah Swt.:
{وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ}
Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang
zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratulmaut, sedangkan para
malaikat memukul dengan tangannya. (Al-An'am: 93), hingga akhir ayat.
Hadisnya sangat panjang, diriwayatkan melalui jalur-jalur yang garib,
dari Ad-Dahhak, dari Ibnu Abbas secara marfu’, di dalamnya terdapat
banyak hal yang garib pula.
Khalifah Utsman bin Affan Radhiallahu ’anhu berkata:
سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : « إن القبر أول منازل الآخرة فمن
نجا منه فما بعده أيسر منه ، ومن لم ينج منه فما بعده أشد منه » قال :
فقال عثمان رضي الله عنه : ما رأيت منظرا قط إلا والقبر أفظع منه
“Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Alam
kubur adalah awal perjalanan akhirat, barang siapa yang berhasil di alam
kubur, maka setelahnya lebih mudah. Barang siapa yang tidak berhasil,
maka setelahnya lebih berat’
Utsman Radhiallahu’anhu berkata, ‘Aku tidak pernah memandang sesuatu
yang lebih mengerikan dari kuburan’” (HR. Tirmidzi 2308, ia berkata:
“Hasan Gharib”, dihasankan oleh Ibnu Hajar dalam Futuhat Rabbaniyyah,
4/192)
Juga sebagaimana telah lewat, ‘Aisyah, Ibnu Abbas, Zaid bin Tsabit,
Sa’id Al Khudriy, Jabir bin Abdillah radhiallahum jamii’an, mereka semua
mengimani adanya adzab kubur. Imam Abul Hasan Ali bin Isma’il Al
Asy’ari –rahimahullah– berkata:
وأنكروا شفاعة رسول الله صلى الله عليه وسلم للمذنبين ودفعوا الروايات في
ذلك عن السلف المتقدمين وجحدوا عذاب القبر وأن الكفار في قبورهم يعذبون وقد
أجمع على ذلك الصحابة والتابعون رضي الله عنهم أجمعين
“Para ahlul bid’ah (yaitu mu’tazilah dan qadariyah), mengingkari
syafa’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang-orang
yang memiliki dosa. Mereka menolak riwayat-riwayat dari generasi salaf
terdahulu. Mereka juga menolak kebenaran akan adanya adzab kubur dan
bahwa orang kafir diadzab di dalam kubur mereka. Padahal para sahabat
dan tabi’in radhiallahu’anhum ajma’iin telah bersepakat tentang hal
ini.” (Al Ibanah, 4)